Cinta CEO Pada Lesbian

Cinta CEO Pada Lesbian
10. 100 tahun


__ADS_3

" Kau boleh istirahat, tapi kau harus mengisi perutmu. Lalu pergilah istirahat di kamar atas" Collete benar-benar berharap Midori cepat sembuh.


" Terima kasih Collete" Midori bertepuk tangan dengan kebaikan Collete yang mengijinkannya istirahat.  Collete mengangguk ikut merayakan kesenangan Midori untuk beristirahat.


Hal yang paling di benci Collete di klub malam Marry adalah jam istirahat para pegawai yang sangat kurang. Karena jika salah satu dari penari berkurang, maka harus ada penggantinya atau merombak seluruh gerakan pada tarian.


Midori memiliki nama asli Maria, Midori adalah salah satu gadis yang bekerja di klub malam. Dia memiliki pacar yang bekerja juga di klub milik Marry tersebut. Jika Marry mengetahui hubungan keduanya, maka Marry akan memecat salah satu dari pasangan tersebut. Berbeda dengan Collete, para pekerja senang akan kebaikan Collete yang membiarkan hubungan tersebut asalkan pasangan tersebut bekerja profesional dan tidak mengganggu satu sama lain saat bekerja. Collete adalah "kakak" perempuan bagi semua yang bekerja di klub malam itu sedangkan Marry bagaikan "ibu tiri". Para pekerja sangat menyukai pendapat Collete jika mereka "curhat" padanya.


Makan siang mereka semua sangat bahagia. Kadang mereka saling bercanda, kadang menjodoh-jodohkan satu dengan yang lain. Mereka merasa tidak ada tekanan sama sekali jika Collete yang menjaga klub.


" Aku ingin kau berada terus di klub ini, Collete." Kata Sherry.


" Aku tidak ingin kalian tinggalkan. Aku ingin meninggalkan kalian duluan. Jadi jangan protes Sherry" kata Collete sambil tersenyum.


" Kau tidak tahu rasanya di tinggalkan, apalagi meninggalkan anak-anak ayam seperti kami. Kami akan sangat kehilangan, Collete" kata Sherry lagi sambil mengunyah makanan. Yang lain mengangguk setuju pada Sherry.


" Aku ingin melanjutkan sekolahku, hanya itu saja." Collete mengangkat bahunya.


" Kau tidak tahu bagaimana "ibu tiri" memperlakukan kami. Jauh dari kata layak. Kami hanyalah mesin uang baginya." Kata Baileys.


" Kalian jangan begitu, dia orang yang sangat baik" Collete membela Marry, karena pada dasarnya Marry orang yang sangat baik untuknya. Marry membelikannya mobil dan lain-lain.


" Kau belum lihat saja sifat aslinya" kata Sherry lagi.


" Baiklah, kuharap Tuhan segera menunjukannya" Collete menjawab sambil tersenyum cantik.


Mereka kembali melanjutkan makan siang dengan damai. Setelah makan mereka semua mempersiapkan segala pakaian dan pernak-pernik untuk tampil nanti malam. Para gadis sangat bersemangat untuk tampil malam ini karena Marry ijin istirahat dirumah dan tidak datang ke klub. Mereka akan di temani oleh Collete sang " kakak" perempuan mereka.

__ADS_1


" Girls, saatnya istirahat sampai jumpa pukul 08:00 malam ini." Collete bersiap untuk pergi sebentar, rencananya dia akan pergi ke taman. Collete ingin merokok, beristirahat sejenak dari senyum palsunya di klub dan sekitarannya. Collete ingin menjadi dirinya sendiri untuk sesaat.


Collete Scott sampai di taman yang biasa dia kunjungi. Taman yang jauh dari klubnya, jauh dari apartmennya. Jauh dari kota yang tak pernah tidur. Collete menyalakan api untuk menghisap nikotinnya agar mulai berasap. Menghirupnya dalam-dalam. Saat ini pukul 14.00 siang hari, butuh berkendara selama setengah jam untuk berkendara hingga sampai di taman ini.


Collete duduk di bangku taman berwarna putih, sedikit berkarat di bagian bawahnya. Mungkin karena sering terkena air hujan. Busrak nama taman yang sering Collete datangi, bunga-bunganya indah. Udaranya segar, banyak serangga dan burung yang berbunyi membuat dengungan seirama. Suara orkestra alam yang menyejukan hati.


" Aku memiliki taman bunga yang lebih indah dari pada Busrak." Kata seorang pria yang tiba-tiba muncul dari belakang Collete.


" Oh ya? ku kira Busrak yang paling indah di sekitar sini" Collete menjawab pria misterius itu.


" Berarti perjalananmu tidak terlalu panjang. Belum jauh maksudku" pria tersebut maju ke depan, berjalan dan memandangi Collete dari depan sekarang.


" Kalau Anda maksud ke rumahmu adalah suatu perjalanan jauh. Kau yang tua ini saja sanggup, apalagi aku." Kata Collete tanpa basa-basi. Ada nada mengolok pada cara bicara pria tua itu bicara, jadi Collete hanya ,mencoba untuk membalasnya.


" Ouch, itu sakit sekali nona." Oliver mengayunkan tangan lalu memegang dada sebelah kirinya, seperti gerakan kena serangan jantung. Collete hanya geleng-geleng kepala.


" Perkenalkan, namaku Oliver Richman" kata Oliver mengulurkan tangan kanannya bermaksud untuk berjabat tangan dengan Collete.


" Semalam aku bertemu Richman, siang ini aku bertemu dengan Richman lagi. Ada berapa bersaudara kalian?" Collete menyangka yang mengajaknya berjabat tangan adalah kakak laki-laki France, atau sepupunya.


" Benarkah ? mungkin itu adalah anakku" Collete menjabat uluran tangan dari Oliver.


" Jadi kau, ayahnya?" Collete menunjuk kesamping seolah-olah ada France Richman disampingnys.


" Yup" jawaban Oliver singkat. " Senang bertemu denganmu" Oliver tersenyum.


" Ada perlu apa kau mencariku. tuan ? atau kau tidak mencariku?" Collete nyengir seperti kuda.

__ADS_1


" Aku ingin mengundangmu hadir di pesta pernikahanku yang ke 50 tahun." Oliver mengeluarkan sebuah undangan untuk Collete.


" Baiklah, apa kau ingin aku bernyanyi?" Collete bertanya pada Oliver.


" Kau bisa bernyanyi, nona?" Oliver pura-pura terkejut.


" Iya" jawab Collete sambil mengisap nikotinnya kembali. Oliver memicingkan matanya menyaksikan Collete merokok.


" Berapa umurmu?" Oliver benar-benar penasaran, Collete pasti kurang dari 20 tahun.


" 100 tahun?" Collete menjawabnya dengan kembali bertanya pada Oliver.


" 19 tahun?" Oliver terkekeh mendengar jawaban Collete. Walaupun sudah berusia lebih dari 50 tahun, ketampanan Oliver tetap masih dapat terlihat. Wajahnya hanya di hiasi oleh kerutan yang membuatnya tetap menawan.


" Kenapa usiaku sangat penting bagimu, tuan?" Collete menginjak sisa rokoknya yang sudah kecil terbakar.


" Bukankah tidak sopan jika kau terus menanyakan usia seorang wanita sepertiku ?" Collete mengangkat kedua bahunya, sekarang Oliver mendapat 100% perhatian dari Collete.


" Merokok tidak baik untuk kesehatanmu, cobalah dengan permen atau snack. Cemilan biasanya ampuh untukmu." Oliver geleng-geleng kepala.


" Kau jangan sok tahu!" Collete berdiri hendak pergi dari Busrak. Suasana hatinya menjadi suram karena bertemu dengan Oliver.


" Maafkan aku, nona" kata Oliver sambil memegang lengan Collete, menahannya agar tidak pergi.


" Dengar, aku juga tidak ingin berbasa-basi seperti ini. Tapi aku memiliki acara yang para tamunya adalah orang-orang penting. Aku ingin kau bernyanyi di acaraku, berapapun biaya yang harus ku bayar, aku tidak peduli." Oliver mengeluarkan cek kosong yang sudah di tanda tangani olehnya. Jadi terserah pada Collete berapapun jumlah uang yang akan ditulisnya, Oliver akan membayarnya.


Oliver memasukan cek tersebut ke dalam tas tote yang di bawa oleh Collete. Ia tahu jika memberikannya langsung pada Collete, pasti akan langsung di buangnya. Collete melepaskan cengkraman Oliver dengan paksa, lalu pergi meninggalkan Oliver di Busrak. Collete mengendarai mini coopernya menuju klub.

__ADS_1


__ADS_2