
" Kau tidak ingat apa-apa?" France justru kebalikan dari Collete, karena ia senyum-senyum terus dari tadi. France mencium bibir Collete saat dia masih tak sadarkan diri di dalam mobil.
" Apa ada hal lucu yang terjadi tadi?" Collete yang melihat France senyum-senyum sendiri jadi takut kalau dirinya melakukan hal yang sangat memalukan.
" Tidak ada, kau hebat." Hanya itu yang di ungkapkan France padanya. Collete tidak mau ambil pusing. Dia merasa hanya tidur sebentar, tapi sangat nyenyak itulah yang aneh untuknya. Tubuhnya sangat enteng ketika dia bangun di dalam mobil. Sangat jarang tidur tanpa adanya mimpi buruk.
France dan Collete turun di sebuah tempat yang kelihatan mewah untuk Collete. Sangat mewah. Collete mengingat perkataan France, bahwa ia memiliki teman seorang designer terkenal yang mau di kenalkan pada Collete.Dia tidak memiliki gambaran siapa designer tersebut. Dia kurang begitu memahami dunia fashion. Yang Collete lakukan selama ini adalah memakai pakaian yang cocok di tubuhnya dan sesuai pada acara yang akan dia hadiri.
" Apa kau pernah menghadiri pertunjukan fashion show?" France bertanya.
" Tidak" Collete mengankat kedua bahunya. Tidak mengerti maksud dari pertanyaan France.
JEPRET.. JEPRET..JEPRET..
Collete menutup matanya saat cahaya silau menyorot tepat ke wajahnya. Bukan main mengganggunya cahaya-cahaya tersebut. Butuh beberapa detik bagi Collete untuk menyesuaikan matanya. Saat mereka memasuki sebuah ruangan yang ternyata banyak sekali orang di dalamnya. France yang menyadari perubahan wajah Collete menariknya menjauh dari para media yang sedang meliput. Tangkapan besar untuk para media, bahwa seorang Richman pergi ke acara fashion bersama seorang gadis.
Salah seorang panitia yang menyadari adanya keramaian di pintu masuk segera menghampiri. Mengetahui yang datang adalah seorang Richman tentu saja panitia tersebut memanggil beberapa rekannya untuk memberikan keamanan ekstra pada France Richman. Saat France di kawal, ia memegang tangan Collete dengan erat. Collete yang menunduk tak tahan dengan kerlap kerlip blitz kamera menurut arahan tangan France sampai masuk lagi ke ruangan yang banyak sekali kursinya.
" Maafkan kami tuan. Kami tidak menyangka kalau tamu kehormatan akan datang di acara ini." Seorang panitia dengan wajah yang benar-benar menyesal atas kejadian barusan.
" Tidak apa-apa. Zer mengundangku secara langsung saat ia berkunjung ke kantorku. Maka aku harus datang."
__ADS_1
Collete memandangi France yang ternyata benar memiliki banyak pengaruh disana sini mulai terkesima. Apalagi secepat kilat France melindungi Collete yang tidak nyaman dengan blitz kamera. " Apakah wajah jelekku akan terpampang di majalah fashion yang amatir atau yang sedikit pro, mungkin yang pro sekali" Collete membatin, sambil memikirkan apakah sudah tepat wajahnya tadi saat di foto. Lalu melihat penampilannya dari atau ke bawah, dia benar-benar putus asa.
" Kau seharusnya mengatakan kalau kita datang ke acara ini. Jadi aku bisa berdandan sediki." Collete menyikut pinggang France. Tapi bukannya France yang merasa sakit maalah Collete yang merasa sakit, dia berasa menyikut papan.
" Maafkan aku, aku akan lebih peka lain kali. Mari kita duduk dengan nyaman" France menarik lengan Collete sambil mengelus sikut yang tadi menyikunya. France juga merasa yang akan kesakitan adalah Collete. Karena tubuhnya sekeras batu.
Collete memperhatikan France lagi, cara duduknya sangat berkelas. France hanya memakai baju kaos berwarna biru langit yang sangat cerah. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Kaki jenjangnya di balut dengan celana jeans berwarna putih. Sedangkan Collete menggunakan celana jeans biru muda dengan kaos putih. Secara visual mereka berdua benar-benar terlihat bagaikan pasangan.
Beberapa orang mulai menempati tempat duduk mereka. Collete duduk di sebelah kanan France. Dia memperhatikan sekitar yang mana penontonnya adalah orang-orang terkenal semuanya. Mulai dari artis papan atas, aktor, penyanyi, sosialita, pengusaha, designer, bahkan ada anak mentri. Collete merasa biasa sekali, hanya seorang penyanyi bar.
" Kau tahu Zer? ia designer terkenal dalam film Neptune Wars? design pakaiannya menjadi ikon karena ia seperti bisa memprediksi mode yang akan hits tahun depan." France membisikan pada Collete, karena banyak wartawan yang meliput. France tak ingin mereka membaca bibir France saat mengobrol dengan Collete.
" France Richman, siapa sangka ada berlian di tumpukan jerami" seorang penyanyi Korea menyapa France dengan bahasa asing. Sama sekali asing di tenlinga Collete.
" Yang kau maksud aku berlian dan kalian jeraminya, Alisha?" France menoleh pada penyanyi cantik tersebut.
Rambutnya berwana cokelat tembaga di gelombang secara teratur. Collete mengintip dari balik tubuh France. France di tarik paksa oleh penyanyi itu, mencium pipi kiri dan kanannya. Collete hanya memutar matanya saja. Tidak menyukai perempuan yang menyukai laki-laki, sama sekali bukan tipenya.
" Siapa gadis yang kau bawa kali ini?" Alisha melirik pada perempuan asia di samping France yang di perhatikannya tak kalah cantik dengan tamu-tamu yang lain.
" Pertama aku memang tak pernah membawa perempuan dalam pertemuan apapun. Kedua wanita cantik ini bernama Collete Scott, dia akan menemaniku terus atau sebaliknya. Bisa dikatakan seperti itu. Collete, Anisha Bonet. Alisha, Collete Scott." France mengenalkan Collete pada penyanyi cantik yang duduk di sebelah kirinya.
__ADS_1
" Hai, senang berkenalan dengan mu" kata Alisha, Collete hanya tersenyum mengangguk.
" Bagaimana cara kau mendekati pria kaya?" Alisha langsung menyerang Collete. Mata Collete menyipit, senyumnya memudar.
" Apa kau bilang?" France samar-samar mengatakan hal tersebut.
" Kau harus cukup berbakat memikat pria dengan suara aslimu. Bukan lipsing, sayang. Suaramu bahkan masih di bawah standarku saat bernyanyi." Collete menatap tajam Alisha, France benar-benar menahan tawanya dengan wajah memerah.
Lain halnya dengan Alisha yang wajahnya berubah ungu saking marahnya pada ucapan Collete. Alisha pergi bahkan sebelum acara di mulai. Collete melakukan gerakan seperti mengusir dengan kedua tangannya. Kalau di bandingkan dengan penyanyi, Collete lebih percaya diri dengan bakatnya sendiri dibandingkan dengan penyanyi-penyanyi di televisi. Collete percaya bahwa mereka hanya beruntung.
" Apakah dia akan kembali lagi?" Collete bertanya pada France yang sudah bisa mengendalikan tawanya jadi lebih kecil sekarang.
" Entahlah, apakah itu penting untukmu?" France berbisik lagi di telinga Collete.
" Tidak dan mengapa kau selalu berbisik di telingaku saat bicara?" Collete kegelian saat France berbisik padanya. Mendengar hal tersebut France jadi tertawa.
" Ada banyak wartawan disini, mereka bukan hanya berburu fashion tapi berburu berita juga. Aku mangsa empuk bagi mereka, jadi aku berbisik ditelingamu untuk bicara. Supaya mereka tidak dapat membaca gerakan bibirku. Jadi mereka tak akan mendapat gosip apa-apa tentangku atau kau"
" Oh, baiklah. Jadi aku akan berbisik di telingamu juga jika ingin bicara" Collete setuju dengan gagasan France dan mengikutinya.
Pikiran France sulit sekali di alihkan tapi tetap berusaha saat hembusan nafas Collete terasa hangat dipipinya. Entah mengapa membuat pikiran France kemana-mana. Jadi France menutup matanya saat Collete berbisik untuk menghindari hal-hal yang memang harus di hindari di depan umum.
__ADS_1