Cinta CEO Pada Lesbian

Cinta CEO Pada Lesbian
18. Gangguan mental


__ADS_3

Collete menangis sejadi-jadinya, membenci dirinya sendiri. Dirinya yang menjadi sasaran kekerasan dari ayah kandungnya. Collete benci sekali dengan darah yang mengalir padanya, karena ada darah Andreas di tubuhnya. Darah yang keluar dari telapak tangan Collete tak kunjung berhenti. Hal itu karena Collete duduk di lantai dan tangannya tergeletak di samping kiri kanannya. Seharusnya Collete mengangkat tangannya lebih tinggi dari dadanya untuk mengurangi pendarahannya. Tapi Collete tidak mengetahui hal tersebut, lalu kehilangan kesadarannya.


Di restoran..


" France, bekerja sama denganmu jauh lebih efisien dan tidak kaku. Ajaklah istrimu datang ke Vegas, aku akan menjamu kalian di kasino ku." CEO The Cosplay sendiri yang datang untuk menyelesaikan pembayaran kerja sama antara de Richman Corp. dengan CEO The Cosplay, Edward Greeny dalam bahasa asing.


" Saya belum berkeluarga, mungkin secepatnya. Terima kasih Edward, akan ku ajak kekasihku kesana kalau aku ada waktu " France dengan percaya diri menjawab Edward dengan bahasa asing juga.


Mereka berdua bejabat tangan setelah menanda tangani kwitansi digital pembayaran dana yang berjumlah fantastis masuk ke rekening France sendiri. Seluruh tim yang bekerja sama befoto dan Yue mengakhiri pertemuan meeting tersebut.


" Aku akan menelepon Collete, kalau-kalau dia butuh sesuatu. Ini sudah siang tapi dia belum menghubungi sama sekali. " France berjalan menjauh dari ruang restoran VIP yang di pakai dalam meeting tadi.


" Apakah Anda ingin aku kesana, Tuan?"


" Aku ikut denganmu, kalau kita berdua yang pergi pasti dia tidak akan menelepon polisi." France berjalan buru-buru ke parkiran, perasaannya tidak enak. Dia takut terjadi apa-apa, karena semalam Collete pingsan di klub dan pagi ini Marry mengancamnya.


" Hubungi semua anggota keluargaku, hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja." France yang mengendarai mobil kesayangannya sedangkan Yue dengan lincah tangannya sudah bergerak menghubungi anggota keluarga inti Richman.


France mengendarai mobilnya dengan cepat, dia juga menerobos lampu merah. Yue yang melihatnya menarik nafas dalam, ia tahu sehabis ini harus mengurus soal lalu lintas atas pelanggaran yang di buat oleh tuannya barusan.

__ADS_1


France masuk ke parkiran dan langsung menuju lift langsung ke lantai paling atas. Sesampainya di apartmentnya France mengeluarkan kartu akses yang bisa di pakai ke semua hunian Sultan France.


" Collete.." France mulai masuk ke apartmentnya sendiri diikuti Yue. France memanggil Collete hanya untuk memastikan. Lama tidak ada jawaban apa-apa.


" Collete, ini France dan Yue. Kami mau mengajakmu makan siang." Suara France lebih keras sekarang.


" Yue, aku akan mengecek kamar mandi. Kau jaga disini"


" Baik tuan"


France melihat ke kolong meja di kapur dulu baru masuk ke kamar. Lalu melihat Collete sedang duduk di lantai. France tidak ingat dia memiliki pakaian berwarna merah seperti yang di kenakan oleh Collete saat ini. Tak lama kemudian mata France terbuka lebar, raut wajahnya berubah serius. Lalu berteriak pada Yue.


Yue buru-buru lari mengikuti dari mana tadi tuannya bicara. Yue segera menghampiri tuannya. Yang Yue lihat France sudah menggendong Collete dengan bride style tapi kedua tangan Collete di leher France. France sengaja mengangkat tangan Collete ke atas berharap sudah tidak ada darah yang keluar lagi dari telapak tangan perempuan yang disukainya itu.


" Sial, kenapa kau bisa sampai terluka Collete" di dalam lift France terlihat sangat tidak tenang karena melihat wajah Collete yang sangat pucat, tubuhnya sangat dingin. France mendekatkan wajah Collete ke pipinya. Ia ingin mengetahui apakah Collete masih bernafas atau tidak.


" Tuan , nona masih hidup. Saya akan segera menyalakan mobilnya." Yue langsung bergerak dengan sigap dan membukakan pintu untuk France yang menggendong Collete duduk di kursi penumpang. Yue menyetir kendaraan jauh lebih cepat dari pada tuannya tadi. Toh, ia akan tetap mengurus pelanggaran lalu lintas juga nantinya. Jadi sementara melanggar lalu lintas tidak apa-apa karena berurusan dengan nyawa. Yue sangat fokus mengemudi kendaraan karena jika tidak maka akan ada dua korban lagi yang menyusul untuk di periksa oleh Mallabey, ia dan France tentunya.


Mereka sampai di rumah sakit - lagi. Juga membawa Collete sebagai pasien. Entah sudah berapa kali Collete jadi pasien tetap rumah sakit milik France itu. Yang pasti Collete sudah memiliki kamar sendiri untuknya. Mallabey untuk kesekian kalinya-juga. Di buat panik oleh Collete dan France yang kedatangannya selalu tidak sadarkan diri. Mallabey melihat teater dramatikal France dan Collete yang berdarah-darah siang ini. Yang padahal, baru saja Collete di ijinkan pulang, sekarang malah datang lagi.

__ADS_1


Penanganan yang luar biasa cepat dari Dr.Mallabey dan timnya benar-benar harus di acungkan jempol. Entah karena firasatnya sebagai dokter atau memang yakin dengan keadaan mental Collete yang rusak. Mallabey sangat siap sekarang untuk menghadapi apapun dan bagaimanapun keadaan Collete dan France saat datang ke rumah sakit. Mallabey yakin kalau masih akan ada hal terburuk dari pada ini saat France membawa Collete, nantinya.


Dr. Mallabey diam saja di tonton oleh France kali ini. Karena France datang dalam keadaan terguncang. Kalau di tanya siapa yang paling terguncang Collete atau France juga Dr.Mallabey. Tentu saja jawabannya adalah France. Kehidupan France sangat teratur, tertib, dan disiplin. Sekarang jadi sering main ke rumah sakit. Yang paling parah, banyak bercak darah di hampir seluruh setelan jas mahal France jadi berwarna merah darah, mengerikan. Pati France sangat terguncang. Jadi banyak sedikit Dr. Mallabey tahu kalau France sangat menyukai Collete. Hanya butuh pengakuan secara officially saja secara lisan.


" Jadi, apakah kau memiliki seorang psikiater pribadi?" Dr. Mallabey sudah memasangkan selang dari kantong yang berisi darah segar untuk Collete. Keadaan Collete kurang darah, makanya dia tidak sadarkan diri.


" Apa aku kelihatan sudah gila?" France memicingkan kedua matanya melihat Mallabey.


" Bukan kau, tapi dia. Untuk Collete, dia harus segera membicarakan masalah mentalnya." Dr. Mallabey menunjuk Collete yang terbaring lemah di kasurnya. Mana berani Mallabey menunjuk bosnya lalu mengatakan kalau France sudah gila.


" Oh, entahlah. Apa kau memiliki seorang kenalan. Psikiater perempuan tentunya, aku tidak ingin dia seruangan berdua dengan lelaki." France mengacak-acak rambutnya duduk bersandar di sofa yang empuk di ruangan Collete di rawat.


" Katakan kau datang dengan rekomendasi dariku" Mallabey memberikan selembar kartu nama, di baca oleh France.


" Dr. Idaho Lawrence. Dia berasal dari Idaho? atau hanya nama saja?" France membulak-balik jkartu nama yang diberikan oleh Mallabey.


" Yup, kau harus kesana membawa Collete." Dr.Mallabey melipat kedua tangannya persis di depan dadanya.


France yang mendengarkan Mallabey teman dekatnya terduduk lemas, ia tahu betapa serius gangguan mental yang di alami oleh Collete jika temannya sudah berkata demikian.

__ADS_1


__ADS_2