Cinta CEO Pada Lesbian

Cinta CEO Pada Lesbian
20. Sakitkah Jet Lag?


__ADS_3

" Mungkin 30 jam an, kita naik jet pribadiku jadi hanya sebentar"


" Apa !! lama sekali"


" Tidak lama, hanya satu hari lebih beberapa jam"


" Aku belum pernah naik pesawat"


" Begitu kah? baru kali ini?" France kaget mendengar Collete baru pertama kali ini .naik pesawat. Collete mengangguk.


" Tenanglah, kau akan aman bersamaku" France menepuk-nepuk kepala Collete dengan lembut. Tapi Collete menampik tangan France dengan lembut, Collete tidak ingin France tersinggung dengan gerakannya.


" Baiklah aku percaya padamu." Collete mengatakan itu hanya untuk mengalihkan perhatian France yang sedang menepuk-nepuk kepala Collete tadi.


" Aku tidak memiliki uang sepeserpun" wajah Collete memelas masih mengalihkan perhatian France.


" Kau akan bernyanyi di acara ayah lalu kau akan di bayar" Collete berhasil mengalihkan perhatian France.


" Baiklah, tapi.. tidakkah aku seperti memanfaatkan kalian?" Collete benar-benar berpikir tanpa di buat-buat kali ini. Wajah bingungnya sangat menggemaskan.


" Kami yang memanfaatkanmu bukan sebaliknya" France buang muka takut tidak tahan melihat ekspresi Collete.


" Ok kalau aku ada manfaatnya sangat bagus kalau begitu"  Collete membuat gerakan seperti membersihkan sesuatu di telapak tangan Collete.


Collete sudah di rawat selama 4 hari, luka di tangannya sudah membaik. Kini hanya tinggal bekas luka dan hanya terlihat seperti ganti kulit saja. Hati France seperti remuk melihat gerakan tangan Collete tersebut. Tidak seharusnya ia meninggalkan Collete sendirian.

__ADS_1


France sudah menceritakan keseluruhan kejadian yang terjadi pada Collete lalu. Oliver mengerti dengan keadaan Collete yang mengharuskan France bertemu dengan seorang psikiater untuk Collete. Jadi Oliver akan menceritakan apa yang telah France katakan padanya ke Tania dan stand by di kantor untuk menggantikan France selama anaknya pergi.


France sudah biasa dengan penerbangan bisnis ke mancanegara. Lain halnya dengan Collete, dia tidak pernah di ajak oleh ayahnya bepergian keluar negri. Jadi inilah kali pertama bagi Collete merasakan berada di dalam pesawat terbang. Selama penerbangan, Collete gelisah bukan kepalang. Kadang Collete melakukan gerakan menutup kedua telinganya dengan tangan. Dia merasakan tekanan pada telinganya. Kadang Collete hanya mendengarkan musik, sengaja mencari kesibukan. Bibir France melengkung tipis menyaksikan aksi konyol Collete di pesawatnya lalu meneruskan pekerjaannya di laptop.


" Sebaiknya kau tidur, biasanya orang yang baru pertama kali sepertimu akan terkena jet lag" France tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.


" Sakit kah 'jet lag'?" Collete tidak tahu apa itu jetlag. Mendengar komentar Collete, France jadi tertawa kencang sekali.  " Hei, kenapa tertawa?" wajah Collete merah padam karena di tertawai oleh France.


" Jet lag itu hanya gangguan tidur, perbedaan waktu yang kita lewati akan memaksamu harus beradaptasi."


" Aku tidak mengerti..." Collete merasa lebih baik dia di tertawakan saja oleh France. Daripada harus mengerti makna dari jet lag.


" Nanti kau akan mengerti Collete"


" Baiklah"


Mereka tiba tanggal berikutnya siang hari. France kali ini makan siang di tempat yang tidak biasanya, karena France selalu membawa Collete pada 'miliknya'. Kali ini France mengajak Collete ke restaurant milik temannya di Idaho 'Pion'r Faloon'. Suasana di restaurant sangat kental akan kehidupan 'Barat'. Sangat menyenangkan bagi Collete karena mendatangi tempat baru. France yang melihat Collete yang sedikit linglung berjalan mengikuti France. Baginya mungkin Collete terkena jet lag.


" Bagimana menurutmu?" France duduk di kursinya. Mereka sudah melakukan reservasi terlebih dahulu. Tentunya Yue yang telah menyiapkan segalanya.


" Mengesankan, tapi mereka semua bicara dalam bahasa asing. Aku tidak bisa, France" Collete menarik lengan baju France. France yang memperhatikannya merasakan hatinya berbunga-bunga " manis sekali" katanya membatin.


" Dengar, aku tidak ingin kau takut dengan situasi ini. Kau harus menurut apa kataku. Karena ini negeri orang asing. " Collete mengangguk-angguk tapi kepalanya masih mengawasi sekitar.


" Tidak boleh merokok, ingat itu. Kalau disini kau merokok di tempat sembarangan kau bisa ditangkap, tahu? "

__ADS_1


" Benarkah? Oh sulit sekali hidup ini.." Collete merana, percaya saja dengan apa yang di katakan oleh France. France sengaja melakukannya untuk membantu Collete dalam hidup sehat.


Waiters datang mengantar makanan yang telah Yue pesan di aplikasi Pion'r Faloon. Makanan hangat yang tersaji di depan Collete ini benar-benar sangat menggiurkan. " Pasti harganya mahal" dalam hati Collete. Karena penerbangan yang membosankan bagi Collete jadi berada di luar sangat menyenangkan sekali. Sangat merubah suasana hati Collete menjadi lebih ceria.


Mereka berdua menyantap makanan yang di sajikan di restaurant dengan kesan saangat menyenangkan. Anak pemilik restaurant datang untuk menyapa France dan Collete. Yang sangat mengejutkan, Collete mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Thomas. Tapi hanya sulit mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Jadilah France memiliki pekerjaan baru yang tak disukainya yaitu sebagai ahli penerjemah dalam komunikasi Collete dan Thomas.


" Sangat menyenangkan sekali memiliki teman orang asing ya?" Collete berjalan sedikit berjingkrak untuk mengimbangi langkah France.


" Anggap saja aku orang asing, kau bisa belajar melatih kepercayaan dirimu dalam bicara se'bahasa' dengan Thomas." Ada nada jengkel pada ucapan France, ketara sekali sedang cemburu.


" Kau cemburu dengan Thomas?" napas Collete mulai tersengal.


" Yeah, karena kalian terlalu asik membahas soal 'cafe'" France mengangkat kedua tangannya memeragakan tanda petik. Collete berhenti berjalan menjingkrak, kali ini diam berpikir. " Aku tidak menyukai Thomas karena ia adalah seorang lelaki." Tidak mengerti kenapa France cemburu.


" Kemana kita?" Collete mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Hotel tempat kita menginap" kata France singkat.


" Apakah kita sekamar?" tanpa perasaan Collete mengatakannya, gagal mengalihkan pembicaraan. " Dasar Collete Be@gok." Dia bicara lagi dalam batinnya sambil memukul kepalanya dengan tangan kanannya.


" Kau berharap begitu?" sebenarnya itu sama sekali bukan hal yang buruk bagi France.


" Tidak, hanya saja.. Apakah kau punya uang untuk membayar ini semuanya?" Collete benar-benar tidak tahu kalau France "Triliyuner". Mendengar uangkapan Collete yang baginya sangat konyol mengkhawatirkan uangnya tertawa terbahak-bahak.


" Kau be6o sekali Collete" tangannya meraih kepala Collete menepuk-nepuknya dengan lembut. Jangan tanya wajah Collete yang benar-benar merah seperti tomat Bandung.

__ADS_1


Kali ini Collete diam saja karena tak jauh dari restaurant tempat mereka makan siang tadi. Berdiri dengan gagah hotel de Richman yang berada di Idaho. Mereka berdua memasuki loby utama. Mereka berdua di sambut resepsionis yang wajahnya seperti dewi dari langit. France berbicara cepat sekali dan sesekali menunjuk Collete. Collete hanya tersenyum, sulit menangkap inti pembicaraan mereka berdua. France hanya memberi isyarat padanya untuk mendekat dan mengikutinya menuju kamar.


__ADS_2