Cinta CEO Pada Lesbian

Cinta CEO Pada Lesbian
15. Yue manusia kaku


__ADS_3

" Kenapa aku di rumah sakit, aku kenapa?" Collete masih bingung kenapa dia sampai tidur di rumah sakit.


" Kau pingsan, makanya aku takut kau kenapa-napa. Jadi aku membawamu ke rumah sakit" France menjawab. Collete diam saja mencoba mencari ingatannya semalam. Setelah dia menari dia hanya minum dan mengobrol dengan France.


" Baiklah, aku mau pulang. Apa ada ribut di luar sana?" Sulit mencari ingatan yang terjadi semalam hingga dia pingsan. Collete merasa mendengar suara Marry, perasaannya tidak enak pada Marry yang sedang marah-marah.


" Akan ku tendang kau, minggir!!" amarah Marry tak tertahankan lagi.


" Sayang, kenapa kau marah-marah?" Collete keluar dengan France di belakangnya. Melihat Collete bersama France membuat Marry makin marah. Dia sangat mengkhawatirkan Collete mencarinya sepanjang malam. Dengan santainya Collete keluar dari ruangan dengan seorang pria.


" PLAK!" dengan keras tamparan dari Marry mendarat mantap ke pipi kiri Collete. France dan Yue terkejut, Yue menarik tangan Marry menjauh dari Collete, sedangkan France membantu Collete yang terjatuh karena tamparan dari Marry untuk berdiri.


" Apa yang Anda lakukan" Yue menahan kasar tubuh Marry agar tidak mendekati Collete.


" Dasar wanita ja^la^ng ! kita putus. Jangan pernah kembali lagi ke apartmenku, cih !"  Marry benar-benar di kuasai oleh emosinya sendiri karena cemburu buta. Marry ingin meludahi Collete tapi gerakan Marry tersebut berhasil di gagalkan Yue.


" Nona, harap pergi dari sini jika Anda tidak ingin mati" Yue tahu batas amarah France. Jadi lebih baik Yue menyuruh Marry pergi dari pada nyawanya melayang. Marry masih belum puas terhadap Collete baginya Collete adalah manusia yang tak tahu terima kasih. Marry mundur, lalu menunjuk Collete.


" Kita belum selesai, lebih baik kau mati dari pada dimiliki oleh orang lain." Ancaman dari Marry benar dan sungguh-sungguh. Collete gemetar lagi, dia beringsut terduduk ketakutan. Kejadian ini benar-benar terlalu mendadak. Collete merasa belum siap memiliki musuh baru selain Andreas, ayah kandungnya. Marry pergi meninggalkan mereka bertiga.


Kepergian Marry membuat Collete bisa pura-pura tenang di hadapan France dan Yue, walau dalam hatinya kebingungan akan tinggal dimana. Sedaangkan seluruh barang-barangnya ada di apartmen Marry dan di klub. Collete menutup matanya berusaha berpikir akan hidup dengan bagaimana selanjutnya.

__ADS_1


" Aku punya apartmen kosong. Kau mau tinggal disana?" France berusaha menahan amarahnya pada Marry. Tidak ingin melihat Collete jadi ketakutan padanya. Lalu France menawarkan huniannya yang memang memiliki banyak apartemen, rumah, dan beberapa mansion. Ia tinggal di mansion, apartemennya kosong. Collete membuka matanya dan menatap France, perlahan menggelengkan kepalanya. Collete tidak ingin menyusahkan orang lain terlebih lagi dari seorang laki-laki yang tak di kenalnya.


" Aku tinggal di mansionku, apartmennya kosong. Ada bibi yang seminggu tiga kali datang untuk membersihkan apartmen. Tapi tidak tinggal disitu, kalau kau mau aku akan bertanya padanya untuk menemanimu." France membujuk Collete, bagaimanapun Collete tidak memiliki tempat untuk sekarang. Collete tetap diam.


" Kalau sempat, aku akan berkunjung ke tempatmu. Jika membutuhkan sesuatu katakan saja." France benar-benar berharap Collete mau tinggal di apartmennya.


" Nona, ancaman nona Marry sangat berbahaya bagi keamanan Anda. Anda juga tidak memiliki tempaat tinggal untuk sekarang. Jika Anda sudah mendapatkan pekerjaan dan ingin tinggal di apartemen yang lebih bagus, Anda bisa pindah nona" Yue membantu tuannya yang susah payah membujuk Collete.


Omongan Yue ada benarnya juga, Collete hanya memiliki pakaian yang melekat di tubuhnya saja. Tidak memiliki apa-apa saat ini. Seandainya France macam-macam dengannya, lebih baik dia loncat dari apartmennya France. Lagipula Collete menangkap kalau apartmen yang di tawarkan olehnya tidak begitu bagus. Jadi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.


" Apa kau memiliki hanphone yang sudah tidak terpakai?" Collete tidak memiliki hp untuk menghubungi siapapun. Walau memang tidak memiliki teman, setidaknya Collete dapat menghubungi polisi jika ada kejadian apa-apa.


" Untuk menelepon polisi jika kalian macam-macam padaku" maksud Collete berkata seperti itu adalah untuk mengancam France dan Yue untuk tidak macam-macam padanya. Tapi suara Collete bergetar seperti mau menangis. Jadi membuat France tertawa terbahak-bahak.


" Hei jangan tertawa ! kau mengejekku ya?" Collete mendorong France, wajahnya memerah karena malu.


" Yue akan mengantarmu ke apartemen, hari ini aku harus ke kantor. Hp yang kau butuhkan ada di laci lemari pakaian. Yue akan memberikan nomor baru padamu. Jika kau memerlukan sesuatu telepon saja aku atau Yue." France sedikit lega karena Collete berhasil di bujuk untuk tinggal di apartemennya.


" Baiklah, terima kasih tuan" Collete mengatakannya sambil menunduk.


" Hei, jangan panggil aku tuan. Panggil saja France" France merasa tidak enak jika Collete memanggilnya dengan sebutan 'tuan'.

__ADS_1


" Ba baiklah France" Collete mengangkat wajahnya memelas, France melihat ada bekas air mata di wajah Collete dan sedikit memerah karena tamparan dari Marry tadi.


" Baiklah aku pergi dulu, Yue tolong antar Collete ke apartmen yang di dekat Busrak taman bunga" France langsung pergi meninggalkan Collete dengan Yue.


" Baik tuan" sambil memberi hormat dengan menundukan kepala pada tuannya yang pergi.


" Silakan nona, kita ke parkiran"


Yue menuju parkiran yang berada di basemen. Oliver sudah di antar oleh Yue ke mansionnya segera setelah di periksakan kesehatannya dengan Dr. Mallabey. Ternyata Oliver hanya mabuk, maka dari itu di berikan obat untuk mengurangi rasa mabuknya saja agar cepat pulih.


Collete kaget bukan main saat berada di parkiran, lantaran mobil yang di kendarai oleh Yue adalah mobil Bugatti. Collete senang bukan main karena Bigatti adalah mobil impian Collete. Di bandingkan dengan mobil yang biasa di kendarainya mobil ini sangat keren. Yue menginjak gas mobil, Collete tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya di samping Yue. Yue yang melihat ekspresi Collete jadi tersenyum, ikut bahagia hanya melihat tingkah Collete.


" Mobil ini milikmu?" Collete tak tahan ingin bertanya karena penasaran dengan Bugatti yang di tumpanginya.


" Bukan nona. Mobil ini milik tuan Oliver ayahnya tuan France. Semalam beliau ikut mengantarkan Anda ke rumah sakit." Yue mulai memacu kendaraan dengan lihai.


" Panggil saja aku, Collete. Jangan panggil aku, nona. Aku bukan orang kaya seperti 'tuan' mu itu" wajah Collete memerah.


" Maaf nona, Anda adalah teman tuan France. Jadi saya harus memanggil Anda, nona. Jika tidak tuan France akan memarahi saya." Yue sangat keren saat mengendarai Bugatti. Yue menjawab pertanyaan Collete dengan matanya yang tetap fokus mengawasi jalanan.


" Kau kaku sekali, kan France tidak bersama kita." Collete berusaha untuk duduk nyaman di kursi tersebut, ada rasa tegang pada dirinya di mobil mahal milik Oliver. Yue hanya tersenyum pada Collete. Lalu sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2