
" Apa kau mengundangnya?" France sengaja menanyakan hal itu karena ia yakin ayahnya belum melakukannya. Jadi ayahnya akan segera lpergi dari ruangannya untuk melakukan tugasnya.
" Kami bertemu di Busrak, dia sedang menghisap nikotinnya. Lalu aku mengundangnya. Kau tak bilang kalau dia itu perokok." Oliver menunjuk France dari kursi sebelah.
" Aku tidak tahu hal itu" France sama terkejutnya dengan Oliver.
" Lalu..?" France ingin tahu lebih banyak lagi tentang Collete.
" Entahlah, mungkin dia peminum juga" Oliver memngangkat bahunya.
Jawaban "entahlah" dari ayahnya sungguh ambigu untuk France. Apakah Collete akan datang ke acara ayahnya atau tidak. Atau juga ayahnya mengundang wanita yang salah. Yang di ajak bicara oleh ayahnya adalah wanita lain, bukan Collete.
" Apakah kita ke klub malam ini?" tanya Oliver tanpa dosa sama sekali. Tanpa memikirkan perasaan France.
Perkataan ayahnya tersebut membuat France curiga kalau ayahnya adalah seorang yang sering ke klub malam. France tidak tahu se-gaul apakah Oliver. France melipat kedua tangannya dan berjalan mendekat ke Oliver.
" Apakah kau sering ke klub malam itu?" tanya France.
" Maksudmu klub diskotik bar itu? no, aku sering ke klub tari telanjang. Maaf saja, waktuku tidak banyak untuk membuang waktu disana." Oliver mundur dua langkah dari France, lalu membelakanginya.
__ADS_1
" Apa kau selingkuhi ibu?" France membuka matanya lebar-lebar lalu mendekatkan kupingnya dekat dengan ayahnya. Kalau-kalau dia salah dengar ayahnya suka datang ke klub tari telanjang.
" Aku tidak selingkuhi Tania. Hanya saja ku pikir sangatlah mudah mengadakan pertemuan bisnis disana. Mereka itu lemah syahwat. Begitu melihat perempuan telanjang langsug tanda tangan." Oliver tertawa menepuk-nepuk tangan, bangga akan kelakuan konyolnya. Juga teringat dengan salah satu wajah koleg bisnisnya ketika menanda tangani kontrak perjanjian bisnis dengannya.
" Kau bodoh sekali, bagaimana kalau ibu sampai tahu Dad?" France menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
" Aku ke klub telanjang itu hanya untuk keperluan bisnis, bukan untuk mencari pelampiasan hasratku. Aku sudah memiliki ibumu sudah cukup untuk kebutuhan ranjangku. Aku tidak menyukai barang obralan seperti wanita-wanita di klub tersebut. Mungkin banyak sekali yang ingin jadi orang ke tiga pada hubunganku dan Tania. Tapi dengarlah France. Perempuan yang sedang di bakar api cemburu lebih berbahaya dari pada seorang pembunuh sekalipun." Oliver menghadapi anaknya sambil menunjuk dada France.
" Ibumu adalah cintaku" Oliver mengatakannya sambil tersenyum sendiri, karena perjuangan cintanya dengan Tania sangatlah berharga baginya. Melihat raut wajah ayahnya France jadi ingin memiliki cintanya sendiri. Cinta yang seperti ayah dan ibunya miliki.
" Jadi, apakah kita jadi ke klub?" Oliver menyatukan kedua tangannya dengan gerakan seperti memohon.
Mereka berdua menaiki Roll Rocye boat tail milik France malam ini sedangkan Yue sendiri menggunakan mobil Bugatti LA Voiture Noire milik Oliver. Yue dapat menebak bahwa mobil tuan besarnya ini di lengkapi dengan kaca anti peluru. Jadi walaupun sedang perang sanjata api atau perang nuklir bos besarnya akan hidup sendiri jika sedang berada dalam mobil ini.
Oliver, France dan Yue masuk ke dalam klub malam milik Marry. France merasa malam ini jauh lebih ramai dari malam-malam sebelumnya.
" Sepertinya sesuatu yang spektakuler akan terjadi malam ini." Oliver mengangkat kedua tangannya. Bicara tanpa memperdulikan kiri kanannya.
" Yeah, Collete akan memakan kerbau bulat-bulat?" France malas meladeni ayahnya yang selalu buat dirinya malu.
__ADS_1
" Atau bertelanjang bulat?" Oliver keceplosan dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
" Akan ku bunuh dia jika berani melakukannya" wajah France mengeras mengatakannya. Oliver berhenti bicara, ia mengetahui kalau itulah batas terakhir membuat lelucon di samping anaknya. Jika lebih dari ini maka akan terjadi keributan di diskotik malam ini.
Lain halnya dengan Yue yang saat ini merasa waspada penuh. Yue pusing jika kedua tuan Richman-nya bersama. Hal ini membuat Yue harus menggandakan keamanan di klub, tidak seperti biasanya. Ia tidak mengetahui kapan musuh bisnis dari kedua tuan Richman nya akan menyerang. Yue berpikir akan lebih baik jika sedia payung sebelum hujan.
Musik yang keras mulai menggema di klub. Oliver ketara sekali sangat bersemangat berada di klub. Bagi France yang memperhatikan ayahnya itu, Oliver ke klub telanjang bukan cuma karena bisnis. Tapi karena Oliver adalah seorang playboy kelas kakap. Yue duduk dengan kedua Richman. Pengamanan yang Yue ambil untuk kedua Richman ini adalah memanggil bala bantuan yaitu Yen dan anak-anak buahnya. Yen duduk di jarak 5 meter dari meja yang di sewa Yue. Jadi jika terjadi sesuatu, Yen dapat dengan cepat menolong.
" Gadis mu tidak ada di mana-mana" Oliver berbicara agak keras pada France.
" Dia disana, Dad" France menunjuk arah belakang panggung sedang bicara dengan seorang gadis lain yang berpakaian agak mirip dengan Collete. Tidak seperti biasanya bagi France.
" Kau benar. Gadis itu adalah Collete yang kujumpai di Busrak taman bunga" Oliver mengangguk-angguk membenarkan itu adalah Collete.
Keadaan di klub sekarang gelap gulita, hanya lampu sorot di atas panggung sekarang yang menyala. Kedua Richman menikmati keadaan klub dengan santai berbeda dengan Yue yang sedang waspada.
Awalnya Gin muncul dengan centilnya menari menggoda penonton. Penonton pun tergoda dan melempar beberapa lembar uang ke udara. Gin menari makin lincah saat saweran pertamanya berterbangan. Penonton yang lain berteriak kesenangan seperti serigala yang kelaparan. Lalu Limoncello keluar tak kalah centilnya, uang saweran keluar lagi dari seorang pria yang lain. Campari, Sherry, Tequila keluar bersamaan juga dengan Baileys. Vermouth dan Collete keluar di reff kedua. Hujan uang pun tak tertahankan lagi, para pria hidung belang menghamburkan uangnya di opening klub. Mereka juga sangat senang melihat Collete yang biasanya hanya bernyanyi kini menari juga dengan seksinya. Collete mendapatkan tarian solonya, genitnya, lincahnya, dengan tatapan menggoda Collete bertemu mata dengan France. Lalu dia mengedipkan satu mata padanya. Oliver jelas sekali sangat menikmati tarian para gadis-gadis di panggung. Jika ada yang menjual tiket untuk menari bersama dengan ke sembilan wanita itu, Oliver sangat ingin membeli tiket tersebut berapapun harganya.
" Dia benar-benar wanita yang pintar merayu" Oliver menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Collete menari dengan sangat menggoda, tubuh seksinya berselancar bebas di pikiran France. France ingin merengkuhnya, mendekap tubuh Collete dan tak akan melepaskannya hanya untuknya seorang. France akan mencumb&unya, mencium bibir merah Collete. France ingin menyentuh pangkal paha Collete dengan bibirnya. Oliver berjalan menuju panggung dan mengeluarkan gepokan uang lalu di lemparnya tinggi-tinggi ke udara hingga buyar seperti hujan uang. Lemparan uang ayahnya menyadarkan France dari lamunan mesumnya pada Collete. Yue memperhatikan France, mengawasi mimik wajah France yang melihat dengan tajam ke arah Oliver. Ayahnya memberi saweran pada Collete.