Cinta CEO Pada Lesbian

Cinta CEO Pada Lesbian
11. Pengganti Midori


__ADS_3

" Dengar, aku juga tidak ingin berbasa-basi seperti ini. Tapi aku memiliki acara yang para tamunya adalah orang-orang penting. Aku ingin kau bernyanyi di acaraku, berapapun biaya yang harus ku bayar, aku tidak peduli." Oliver mengeluarkan cek kosong yang sudah di tanda tangani olehnya. Jadi terserah pada Collete berapapun jumlah uang yang akan ditulisnya, Oliver akan membayarnya.


Oliver memasukan cek tersebut ke dalam tas tote yang di bawa oleh Collete. Ia tahu jika memberikannya langsung pada Collete, pasti akan langsung di buangnya. Collete melepaskan cengkraman Oliver dengan paksa, lalu pergi meninggalkan Oliver di Busrak. Collete mengendarai mini coopernya menuju klub.


" Ia pikir siapa dirinya. Dasar manusia sok kaya. Aku benar-benar tidak menyukai sifat kakek-kakek tadi." Collete melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas 80km/jam. Kecepatan tersebut membuat kendaraannya tetap aman berkendara.


" Sial, kenapa aku jadi sangat sebal sekali ketika aku di berikan cek oleh kakek tua tadi." Collete hanya menghembuskan nafasnya kasar. Collete memacu kasar kendaraannya hanya untuk melampiaskan kekesalannya pada Oliver. Setelah puas berugal-ugalan dalam berkendara, Collete segera masuk ke klub.


Collete berjalan masuk ke ruangan ganti para gadis-gadisnya. Bersiap untuk membantu gadis-gadisnya berganti pakaian. Sekarang pukul 5 sore, harusnya para gadis sudah berkumpul. Anehnya tak ada seorang pun muncul di hadapannya. Collete mencari-cari kemana semua orang. Yang ternyata mendengar keributan di kamar mandi.


" Ada apa?" mata Collete terbuka lebar, dia melihat Midori terbaring di lantai kamar mandi klub. Ditutupi oleh handuk oleh Tyler pacarnya.


" Midori pingsan, Collete! " kata Camari. Wajahnya sama pucatnya dengan Midori yang tak sadarkan diri.


" Tidak, tidak, tidak, tidak.. " Collete mengacak-acak rambutnya. Frustasi dengan keadaannya sekarang. Collete mondar mandir kebingungan dengan langkah yang akan dia ambil selanjutnya untuk menutupi Midori. Midori harus segera pulih.


" Cari penggantinya untuk sementara waktu, Collete" cetusan Baileys benar-benar masuk akal. Satu gadisnya tumbang, maka dia butuh gadis lain untuk menggantikan Midori untuk pertunjukan nanti malam dan harus segera di laksanakan.


" Baiklah, kau urus Midori. Baileys, tanya Tyler apa yang sebenarnya terjadi. " Collete berlari mencari pengganti Midori secepat yang dia bisa usahakan. Waktu sudah menunjukan pukul 17.30 sore hari. Collete sangat panik untuk klub Marry malam ini. Tak mungkin dia gagal malam ini karena kelalaiannya atas Midori. Collete berlari ke depan meja resepsionis, meminta bagian tiket mencari pengganti Midori. Tetapi mereka malah bengong melihat Collete yang sedang kepanikan. Karena dirasa tidak membantu sama sekali Collete keluar aula menuju jalan raya.


" Bodoh, bodoh, bodoh.. cari kemana aku pengganti Midori." Collete menuju gedung sebelah klub malam nya. Dia melihat bayangan dirinya yang kacau sekali. Tapi dia berhenti dan berpikir kalau di kaca yang ada bayangan dirinya itu memiliki jawaban atas kepanikannya. "Tapi apa?" Collete ingin menyentuh bayangannya sendiri, lalu dia tersenyum.


" Ah, memang bodohnya aku. Aku menghafal semua gerak tarian para gadis-gadis itu di semua lagunya. Aku bisa menggantikan Midori sampai dia sembuh" Collete tertawa karena lelah telah mencari pengganti Midor yang padahal dia bisa menggantikannya.

__ADS_1


Collete berlari kembali, para gadis bersiap di ruang ganti baju. Ada yang sedang menggunakan make up, ada yang sedang berganti pakaian, ada yang mencari-cari make upnya yang hilang. Benar-benar sibuk.


" Bagaimana? Kau menemukannya?" tanya Baileys masih panik melihat Collete masuk ke ruangan.


" Aku dapatkan dia, Baileys." Collete tersenyum cerah kali ini.


" Bagus, suruh dia cepat mengganti kostumnya, Aku tak ingin mengganti koreo." Baileys masih belum meyadari maksud dari ucapan Collete. Collete bermaksud mengatakan bahwa pengganti Midori adalah dirinya. Tapi Collete mengecek jam di tangannya sangat terkejut sudah pukul 18:00. Collete langsung bersiap-siap saat yang lain tidak memperhatikannya.


Satu jam berlalu dengan dandanan super sexy Collete. Pada dasarnya Collete sudah cantik, jadi hanya memakai lipstik merah hati dan smoky eyes. Collete merasa Limoncello memperhatikannya.


" Bukankah ini terlalu berlebihan untuk kau tampil malam ini, Collete?" katanya melirik tajam pada Collete.


" Kau benar, tapi aku harus mengimbangi kalian. Kalian sangat cantik-cantik sekali, aku tak ingin kucel sendiri." Kata Collete sembari tersenyum.


" Baiklah gadis-gadisku, hari semakin malam. Jual minuman sebanyak mungkin, maka kalian akan mendapatkan bonus malam ini. Aku akan menunggu kalian di belakang panggung saat pembukaan nanti. Jangan lup, mulailah menjual minuman saat kalian keluar dari ruangan ini!" Collete berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya, minta perhatian para penari.


" Kau memakai kostum pembukaan seperti kami, apakah kau pengganti Midori?" Tequila menaikan alisnya sebelah.


" Aku lupa memberitahu kalian, aku pengganti Midori" Collete bicara sambil membetulkan letak anak rambutnya.


" Benarkah, asiik malam ini kita menari dengan " kakak" perempuanku" banyak yang bersorak, kesembilan wanita-wanita cantik tersebut tambah bersemangat dengan mengetahui bahwa Collete akan menari.


" Kalian harus tampil baik malam ini" walalupun Collete paling muda di klub itu, Collete di hormati layaknya kakak perempuan bagi penari-penari klub malam tersebut. Dan tak ada satu orangpun selain Marry yang mengetahui usia Collete yang sebenarnya yaitu 17 tahun.

__ADS_1


" Baik Collete" banyak yang menjawab dan antusias atas ucapan yang Collete katakan. Mereka semua, para gadis-gadis cantik itu keluar ruangan, Collete ppaling depan di ikuti Camari, Gin, Baileys dan yang lain. Collete mulai mengontrol seluruh kru staff pekerja klub. Mulai dari bagian kebersihan sampai bagian keuangan. Jam 19:30 semuanya siap menerima tamu yang datang. Para gadis berpencar, betemu kembali pukul 20:30 di belakang panggung untuk opening klub.


Sementara di tempat lain...


" Bagaimana kabarmu?" Oliver masuk ruangan France tanpa mengetuk.


" Kau harusnya mengetuk pintu dulu jika ingin masuk ruanganku, Dad" France melempar dokumen yang tadinya sedang ia baca ke meja secara asal.


" Kau tidak sedang membuat anak dengan sekertarismu kan? jadi, untuk apa mengetuk" jawab Oliver santai.


" Bagaimana kabarmu?" Oliver mengulangi kembali pertanyaannya.


" Baik Dad." France malas sekali dengan omongan ayahnya itu. Sekertaris France memang sangat cantik tapi tidak sesexy Collete.


" Apa kau mengundangnya?" France sengaja menanyakan hal itu karena ia yakin ayahnya belum melakukannya. Jadi ayahnya akan segera lpergi dari ruangannya untuk melakukan tugasnya.


" Kami bertemu di Busrak, dia sedang menghisap nikotinnya. Lalu aku mengundangnya. Kau tak bilang kalau dia itu perokok." Oliver menunjuk France dari kursi sebelah.


" Aku tidak tahu hal itu" France sama terkejutnya dengan Oliver.


" Lalu..?" France ingin tahu lebih banyak lagi tentang Collete.


" Entahlah, mungkin dia peminum juga" Oliver memngangkat bahunya.

__ADS_1


__ADS_2