
" Dr. Idaho Lawrence. Dia berasal dari Idaho? atau hanya nama saja?" France membulak-balik jkartu nama yang diberikan oleh Mallabey.
" Yup, kau harus kesana membawa Collete." Dr.Mallabey melipat kedua tangannya persis di depan dadanya.
France yang mendengarkan Mallabey teman dekatnya terduduk lemas, ia tahu betapa serius gangguan mental yang di alami oleh Collete jika temannya sudah berkata demikian.
France pusing tujuh keliling menghadapi Collete. Rasa simpatinya makin hari makin besar pada Collete. Bagi France menaklukan hati Collete bagaikan tantangan hidup yang belum pernah di capainya, seperti sebuah prestasi tak tertulis. Daya tarik Collete begitu besar bagi France, tanpa di sadarinya. Ia membelai pipi mulus Collete. Mallabey tahu, inilah saatnya ia meninggalkan France dan Collete berdua saja.
" Apa yang kau sembunyikan Collete? " France mulai bertanya entah benar di tujukan pada Collete atau lebih pada dirinya sendiri. " Aku akan selalu menjagamu" hening setelahnya karena Dr. Mallabey sudah keluar dari ruangan Collete. France memang seorang jutawan, tapi uangnya tidak berlaku di depan Collete.
France memberikan foto kartu nama psikiater yang di rekomendasikan oleh Mallabey pada Yue. Ia mempercayakan Yue untuk menyelidiki latar belakang orang yang akan di datanginya saat Collete sudah cukup kuat nantinya. France ingin berjumpa dengan Dr. Idaho Lawrence sebelum acara pribadi ayah dan ibunya nanti. Jadi Collete memiliki bekal psikologis yang lebih memadai nantinya. France juga menginformasikan bahwa mereka akan tinggal bersama. Collete, France dan juga Yue akan tinggal bertiga di apartment tempat Collete tinggal. Ia hanya ingin Collete nyaman dan ada yang menjaga. France tidak bisa hanya tinggal berdua saja, selain hal-hal yag tidak di inginkan pasti akan terjadi kalau mereka berdua saja, Yue akan sangat berguna untuk banyak hal. Semakin ramai semakin bagus pikirnya. Tapi itu semua tergantung dengan apa yang akan Idaho katakan padanya. Jika baik untuk Collete maka akan ia lakukan dengan senang hati. Mungkin saja suatu hari nanti, entah kapan pastinya. Collete akan percaya kembali pada laki-laki.
Kali ini Collete di rawat agak lama di rumah sakit. Rupanya France sedang merenovasi apartmennya memiliki 3 kamar. Jadi selama masa renovasi tersebut France menjaga Collete di rumah sakit. Segala sesuatu urusan perkantorannya di rubah menjadi serba virtual. Memang sangat kaku, jadi seluruh manager bekerja di pantau langsung oleh France secara virtual di depan laptopnya yang mana semua laptop disadap oleh France tanpa sepengetahuan mereka selain Yue. Yue juga dapat memantau langsung karena Yue adalah orang kepercayaan Oliver dan France. Hal ini membuat nama Collete meroket di perusahaan, karena Collete. France tidak dapat selalu berada di kantor.
" Kapan kau pulang, berganti pakaian, dan membersihkan diri kalau kau 24jam nonstop berada disini? seperti cctv saja" Collete mulai jengah pada France karena merasa sangat di awasi.
" Makanya, suruh siapa kau meninju kaca di apartmenku hah?" France memiringkan kepalanya tanpa berpaling dari laptopnya. France sedang melakukan pekerjaannya sedangkan Collete sedang mengunyah makan siangnya di hari ke 5 dia di rumah sakit.
" Kan aku sudah mengatakannya berkali-kali, aku melihat hantu di dalam cermin itu. Lalu aku ketakutan dan melemparnya dengan apapun yang ada dalam jangkauanku." Sambil menunjuk-nunjuk sendok makannya pada France, makanan yang Collete kunyah hampir menyembur semua. France geleng-geleng kepala mendengar jawaban konyol Collete " sampai kapan dia akan berbohong terus" dalam batin France heran pada sifat Collete.
" Nona, tuan France mengganti pakaian dan membersihkan diri ketika Anda tertidur. Beliau tidak 24 jam berada disini. Kadang beliau keluar untuk keperluan mendesak. Hanya saat Anda tertidur, nona" Yue membela tuannya sambil menyerahkan dokumen untuk di tanda tangani France.
" Tuanmu itu aneh" Collete memasukan suapan terakhirnya ke dalam mulut.
__ADS_1
" 'apan a'u a'an bulang?" yang berarti Collete mengatakan kapan aku akan pulang, dia terdengar seperti itu di telinga France karena mulut Collete penuh dengan makanan.
" Kita akan ke Amerika sebentar untuk bertemu teman lamaku. Aku ingin kau ikut denganku" France selesai menandatangani dokumen yang diberikan oleh Yue dan berdiri duduk di sudut ranjang Collete.
" Untuk apa aku ikut?" Collete mengangkat kedua bahunya.
" Dia designer terkenal tidak ingin hanya menerka ujkuran tubuhmu. Jadi biar ku bawa kau langsung padanya. Lalu kita jalan-jalan sebentar" France tidak ingin mengatakan mereka akan pergi untuk menemui psikiater untuk Collete. Menurutnya perempuan pasti akan tertarik pada pakaian yang indah. Yang padahal memang memiliki teman seorang designer ternama.
" Hmm, apakah itu untuk acara di pulau pribadi tuan Oliver?" Sedikit banyak Collete sudah browsing soal keluarga Richman. Jadi perlu menggunakan taknya untuk mengingat para anggota keluarga inti The Richman.
" Yup, kau mau bernyanyi-kan?" kata France sambil tersenyum menawan. Collete yang melihat senyum France langsung menunduk karena wajahnya bersemu, sedikit memerah yang tidak di sadari oleh France.
" Ok, kau bosnya. Tapi aku meninggalkan cek kosongnya di tasku. Tasku itu berada di klub" Collete salah tingkah karena merasa bersalah. Pasti cek tersebut akan di gunakan Marry untuk berfoya-foya.
" Kau jangan begitu, aku kan tidak melaporkannya. Yang di tampar kan aku, kenapa kau yang marah?" Collete benar-benar tidak enak hati kalau sampai France membalas Marry. Seburuk apapun Marry tetaplah dia pernah menolong Collete.
" Aku benci pada orang yang berbuat kasar di depan mataku" Collete yang melihat wajah France jadi berdebar-debar. " Apa aku takut padanya? kenapa wajahnya jadi tampan kalau lagi serius begitu" Collete berpikir dalam hatinya, karena dia tidak memahami dirinya sendiri.
" Lupakan saja dia, kapan kita ke Amerika?" Collete memiringkan wajahnya dan melebarkan matanya.
" Sore ini" France berdiri dan berjalan keluar ruangan.
" Hufth, kenapa seenaknya begitu" Collete yang melihat Yue menyusul tuannya keluar tidak menghiraukan omongan Collete. Ada sedikit gerakan yang tak disadari oleh Collete, ketika France mengajak Yue untuk berbicara di luar ruangan Collete. Jadi Yue mengikuti France keluar.
__ADS_1
" Yue, ketika wanita itu hendak mencairkan ceknya. Berikan dia balasan yang membuatnya paham siapa keluarga Richman sebenarnya." Yue melihat dendam tuannya sangat besar.
" Baik, tuan" Yue membungkuk sedikit. Ia mengerti apa yang harus di lakukannya. Sedikit kejam tak akan membuat Marry menjadi gila.
" Apakah semuanya sudah siap?" France dan Collete akan ke Idaho sedangkan Yue tinggal untuk mengurus perusahaannya.
" Semua sudah disiapkan, pesawat pribadi Anda sudah stand by di bandara." Kata Yue yang menunduk.
" Baiklah kalau begitu. " France memberikan gerakan tangan yang memerintahkan Yue untuk pergi. Sedangkan France kembali masuk ke ruangan Collete.
" Memangnya dari sini ke Amerika berapa jam ?" Collete langsung menyambar France yang baru masuk dengan pertanyaan.
" Mungkin 30 jam lan, kita naik jet pribadiku jadi hanya sebentar"
" Apa !! lama sekali"
" Tidak lama, hanya satu hari lebih beberapa jam"
" Aku belum pernah naik pesawat"
" Begitu kah? baru kali ini?" France kaget mendengar Collete baru pertama kali ini .naik pesawat. Collete mengangguk.
" Tenanglah, kau akan aman bersamaku" France menepuk-nepuk kepala Collete dengan lembut.
__ADS_1