
Collete menari dengan sangat menggoda, tubuh seksinya berselancar bebas di pikiran France. France ingin merengkuhnya, mendekap tubuh Collete dan tak akan melepaskannya hanya untuknya seorang. France akan mencumb&unya, mencium bibir merah Collete. France ingin menyentuh pangkal paha Collete dengan bibirnya. Oliver berjalan menuju panggung dan mengeluarkan gepokan uang lalu di lemparnya tinggi-tinggi ke udara hingga buyar seperti hujan uang. Lemparan uang ayahnya menyadarkan France dari lamunan mesumnya pada Collete. Yue memperhatikan France, mengawasi mimik wajah France yang melihat dengan tajam ke arah Oliver. Ayahnya memberi saweran pada Collete.
" Apa yang kau lakukan?" France tidak sabar lagi dengan tingkah ayahnya.
" Itu adalah tanda kepemilikan. Mereka akan mengingat kalau aku telah menghamburkan uang untuk Collete." kata Oliver.
" Yang mana artinya kau yang mengejar Collete bukan aku Dad" France menarik nafas panjang sekali kali ini.
" Semua mengejar Collete, France" Oliver memaksa France untuk melihat sekitar.
" Sial" France mengumpat. Apa yang di katakan oleh Oliver memang benar hanya France yang melupakan hal ini.
" Yue, cari cara agar kita bisa mendesak Collete ikut dalam acara di pulau ayah nanti." France sangat frustasi. Mengejar seorang wanita saja sampai harus seperti ini sulitnya.
" Baik tuan"
France mengangkat tangannya, ia memilih menikmati minuman di klub. Oliver hanya geleng-geleng kepala. Opening klub sudah selesai suasana di klub makin malam makin liar. Gadis-gadis champagne mendekati para tamu untuk dibujuk membeli banyak minuman. Collete juga kadang mengontrol keadaan klub agar tetap kondusif. Tanpa disengaja Collete menyapa dua Richman yang sedang minum dengan bahagia.
" Kalian suka minum?" Collete menyapa France.
" Tidak, aku hanya ingin mendengarkan musik " France bicara sambil tersenyum. Oliver sedang bersama Baileys dan Sherry minum bersama.
" Kau ingin ku temani minum?" Collete menawarkan diri.
" Hanya kalau kau memaksa. Aku tidak ingin kau di jauhi para fansmu hanya karena menemaniku untuk minum saja" France pura-pura tidak tertarik pada Collete. Padahal dalam hatinya bahagia sampai ingin pingsan.
" Baiklah, kau mau pesan apa?" Collete duduk dekat France, Yue menjauh. Memberikan waktu untuk tuannya ngobrol dengan Collete.
__ADS_1
" Kau punya Macallan ?" suasana hati France sedang berbunga-bunga sekarang. Memesan minuman dengan harga milyaran tidak akan membuatnya miskin. Toh ayahnya tadi nyawer uang ratusan juta.
" Apa itu?" Collete bingung dengan nama minuman yang di pesan oleh France. Pasalnya ini baru pertama kalinya Collete mendengar minuman bernama Macallan.
" Macallan sanagt terkenal di kalangan peminum. Harganya hanya beberapa milyaran saja." France tersenyum manis.
" Aku takut kami tidak menyediakan Macallan, tuan Richman. Bagaimana kalau aku pesankan saja?" wajah Collete memerah. Tentu saja Marry tidak menjual Macallan, karena harga diskotiknya saja kalau dijual paling hanya laku semilyar.
" Baiklah kalau kau memaksa" France pasrah.
" Baileys, tolong bawakan beberapa minuman mahal dan enak untuk tuan Richman" Collete tersenyum manis pada rekannya itu.
" Baiklah, kau sudah banyak minum Collete. Kau jangan minum lagi" Baileys memperingatkan Collete karena dia menyayanginya.
" Kau baik sekali" kata Collete. France yang mendengar hal tersebut tidak heran dengan Collete. Bekerja di bar pasti akan membuatnya menjadi seorang alkoholik.
" Tempat ini bagus untuk pendewasaanku, tuan" Collete menolak secara halus. Tak lama kemudian waitress membawakan beberapa botol minuman ke meja France.
" Bagaimana dengan tawaran ayahku? kau sudah memikirkannya?" France mengambil korek yang ada di tangan Collete. Lalu menyalakannya untuk Collete.
" Terima kasih" Collete menghisap nikotinnya.
" Apakah aku boleh tahu berapa bayaran yang di tawarkan untukku?" Collete menaikan dagunya.
" Apapun yang kau minta" France mulai menenggak minumannya.
Collete memasuki pikirannya sendiri, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Collete menginginkan kehidupan yang tenang di pinggir pantai dekat makam ibunya. Collete ingin sekolah lagi, Collete tertarik dengan hubungan internasional jika dia bisa kuliah denga uangnya sendiri. Tapi Collete merasa hal tersebut sulit di gapai karena pertama-tama Collete harus lepas dari cengkraman Marry lalu aman dari ayahnya, Andreas. Collete juga ingin menikah akan tetapi, pria mana yang mau dengannya. Seorang perempuan kotor pecandu alkohol.
__ADS_1
" Entahlah tuan, aku tidak yakin dengan apa yang kuminta nantinya" Collete mematikan rokoknya yang baru berapa kali di hisapnya itu. Lalu mengambil gelas dan ikut minum dengan France. Tapi France memegang tangannya.
" Mengapa sepertinya kau menutupi sesuatu. Saat hal tersebut ingin keluar dari bibir manismu. Kau menelannya seperti menelan minuman sampah ini. " France mengibaskan tangan Collete dengan kasar. Collete tidak masalah dengan perlakuan dari France karena dia sering mendapatkan perlakuan yang jauh lebih kasar dari ini.
" Kau tidak mengenalku, tuan. Jadi anggap saja aku sampah yang menodai penglihatanmu" Collete menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
" Baiklah, mari kita lihat sekuat apa kau menahan untuk tidak minum minuman yang ada di meja ini." FranceĀ mengeluarkan segepok uang di letakannya di meja. Collete melihatnya dengan tersenyum. Uang itu dapat di pakainya untuk memberikan bonus pada gadis-gadis penarinya nanti. Collete hanya perlu sabar untuk menahan tidak minum minuman di meja.
" Katakan saja aku mau bernyanyi di pulau pribadi ayah Anda. Bisakah aku mendapatkan uang muka dulu?" Collete mencoba mencari bahan pembicaraan lain untuk mengulur waktu. Collete berusaha untuk tersenyum, dan meraih nikotinnya lalu dia gigit di mulutnya yang menggoda.
" Kapan kau mau aku memberikan uang mukanya? malam ini, besok?" France seperti sedang bernegosiasi dengan kolega bisnisnya. Kalau soal negosiasi, France jagonya.
" Besok tuan" Collete tersenyum, tapi keringat membasahi tubuhnya. France melihat gejala ini lagi. Yue juga memperhatikan Collete.
Collete kecil berteriak " ampun papa, maafkan aku" isak tangis Collete kecil tak di dengar oleh Andreas. Pria bertubuh besar itu mengambil ikat pinggang yang berada di balik pintu. Collete berteriak lagi " jangan papa, sakit. Sakit papa" Collete kecil menangis memejamkan matanya.
" Kau baik-baik saja?" France meraih tangan Collete, Oliver menyadari kalau anaknya mengkhawatirkan sesuatu. Oliver juga ikut mendekat, tapi sebisa mungkin tidak terlalu menarik perhatian.
" France, ada apa dengan Collete?" Oliver memeriksa wajah Collete yang bercucuran keringat.
" Kami bertaruh agar Collete tidak minum lagi. Tapi dia malah pucat pasi seperti ini." France duduk mengacak-acak rambutnya.
Collete kecil berlari di lorong, mencari tempat untuk bersembunyi. Tangannya penuh dengan darah. Itu adalah darahnya sendiri, keningnya berdarah karena pukulan benda tumpul dari ayahnya. Seberapa kencang Collete menjerit kesakitan, Andreas tidak peduli. Collete yang duduk di kursi dekat France bercucuran keringat, matanya memancarkan kesedihan yang sangat pedih. Wajahnya pucat, bulir-bulir air mata mulai keluar dari ujung mata Collete.
Ingin sekali France memeluknya, tapi di depan ayahnya. Rasanya gengsi France jauh lebih tinggi di banding rasa kasihannya pada Collete. Tapi daripada ayahnya yang memeluk Collete pikirnya. Lebih baik dia yanag melakukannya. France meraih tubuh Collete mendekat padanya, tapi terlambat. Collete sudah tidak sadarkan diri.
Pingsannya Collete membuat pengunjung yang lain ikutan panik. Para gadis-gadis bekerja ekstra keras menenangkan pengunjung yang lainnya. Mereka sepakat mengatakan Collete memang tidak enak badan lalu jatuh pingsan. Kekisruhan di bar tentu saja di ketahui oleh Marry. Salah satu pegawai bar menelepon Marry menjelaskan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1