
" Baiklah nona" France tidak mau memperpanjang canda gurau Collete lagi. Memang cantik melihat Collete tertawa. Tapi menertawai dirinya, seorang Richman. Bagi France itu adalah sebuah tindak kriminal.
" Berhentilah minta maaf karena aku sudah memaafkanmu. Sekarang katakan padaku, bisakah kau mengantarku ke toko yang menjual tas itu ? Karena aku ingin memberikannya pada ibuku."
Collete memandangi France, " betapa ibu yang sangat beruntung memiliki seorang anak yang berbakti pada orang tua nya. Seandainya saja keluargaku tidak berantakan. Pasti aku akan memberikan ayahku hadiah juga" wajah Collete memerah, matanya berkaca-kaca, nafasnya mulai tidak beraturan.
France dan Yue merasakan perubahan mimik wajah Collete. Perubahan nafas yang tadinya beraturan kini berantakan. Yue segera mendekati bosnya.
" Apa yang terjadi, tuan ?" Yue bergantian melihat France dan Collete. Tapi France menggelengkan kepalanya sama tidak mengertinya dengan Yue.
" Nona, bernafaslah.. Tarik nafas dalam lalu buang perlahan. Ikuti aku" France memegang tangan Collete. Bingung apa yang terjadi dengan Collete.
" Aku.. Aku.. Tidak..Uhuk" Collete di serang panik, trauma masa kecil Collete kembali teringat. Collete memejamkan matanya. Memori masa kecilnya malah terlihat jelas. Keringat mulai bercucuran, keluar dari dahi, punggung, dan tangannya. Collete kesulitan bernafas, tapi ada yang aneh. Collete merasa ada sentuhan hangat, seseorang memeluknya. Mengusap kepalanya dengan lembut.
"Ssh..Ssh, tenanglah. Semua baik-baik saja. Atur nafasmu, semua baik-baik saja" France berdiri sedangkan Collete duduk di kursinya. Ia juga tidak tahu harus bagaimana. Jadi ia memeluk Collete, komunikasi secara verbalnya tak terdengar. Jadi France menggunakan bahasa non verbal, menggunakan bahasa tubuh.
Collete perlahan mendorong lembut tubuh France menjauh darinya. Collete mulai bisa menguasai diri atas emosionalnya. Dia menarik nafas dalam dan mengehembuskan perlahan. France dapat menghirup aroma matcha dari nafas Collete yang di hembusnya.
" Apakah kita harus menelpon ambulan, tuan?" Yue bertanya dengan sopan pada France.
" Tidak perlu, maaf membuat kalian panik " Collete mulai berdiri. Sekarang sudah menguasai kesadaran atas dirinya 100%. Collete berdiri dan tersenyum. Yang sebenarnya terjadi pada Collete adalah trauma masa kecilnya kembali masuk ke dalam ingatannya sekarang. Hingga Collete merasakan bahwa yang dipikirannya sangatlah nyata. Collete merasa dia sedang bersembunyi di kolong kasur, bersembunyi dari siksaan ayahnya. Trauma Collete pada masa kecilnya membuat Collete menggenggak minuman keras setelah mabuk, dia akan tertidur. Hanya itu pelampiasan Collete saat ini. Trauma ini muncul karena kasih sayang France pada ibunya terlihat jelas di mata France saat mengatakan " ibu" hal itulah yang membuat Collete teringat keluarganya.
" Apa kau masih ingin aku mengantarmu ? " Collete merasa saat France memeluk dirinya ada rasa aman dan nyaman melindunginya. Tapi Marrylah pelindungnya saat ini, dan dia hanya mencintai Marry karena dia telah baik
pada Collete. Collete ingin tahu apa yang terjadi padanya kalau traumanya datang kembali.
" Tentu saja, nona. Tapi apakah benar kau baik-baik saja?." France bisa saja langsung membawa Collete ke Rumah Sakit. Tapi apakah keluarga Collete tidak mencarinya. Pasti mereka akan panik.
" Baiklah ayo ku antar. Berhentilah menanyakan kesehatanku. Anda tidak ingin membuat ibu Anda menunggu kan, tuan ?" Collete memberikan senyumnya pada France. France buang muka, karena kalau Collete sempat melihat tadi. Wajah France tersipu melihat senyum Collete.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan di depan sedangkan Yue di depan mereka. France Richman dapat mencium aroma parfum Collete dari jarak ini. Aromanya manis, France mencoba menebak-nebak dalam hatinya. " Apakah ini stawberry? bukan. Aromanya manis" France melihat-lihat sekeliling berharap menemukan petunjuk aroma Collete.
" Ah, cokelat." France bicara pelan tapi masih dapat di dengar.
" Ada apa?" Collete bingung France bicara dengan siapa.
" Aku mencium aroma tubuhmu, ternyata ini cokelat" France tersenyum. Collete membuka mulutnya, tidak terlalu mengerti. Mengapa aroma tubuhnya sangat penting untuk dibicarakan oleh seorang Richman.
" Yah, aku memakai parfum merk apa saja. Yang penting beraroma cokelat, tuan" Collete awalnya hanya menggunakan aroma cokelat karena dia tak punya uang untuk membeli parfum lainnya. Yang beraroma cokelatlah yang diskon pada saat itu. Jadi hingga kini Collete menggunakan aroma cokelat.
" Ah, aku mengerti" kata France.
" Kita sampai, tuan" kata Collete.
" Bisakah jangan panggil aku "tuan"?" France merasa terganggu dengan panggilan tersebut.
" Lalu? Sepertinya kau lebih tua dariku. Orang kaya seperti Anda pastilah banyak yang menghormati." Collete sebenarnya tidak ingin ambil pusing soal nama panggilan, aroma tubuh atau apapun itu. Collete hanya ingin mengantarnya lalu selesai. Collete bisa pergi latihan bernyanyi setelah ini. di tambah lagi luka di pelipis Collete. Dia ingin melepan perban kecil yang menutupinya.
" Kau lucu sekali tuan. Baiklah jika itu yang kau inginkan,France. Suatu kehormatan kita dapat bertemu." Collete bermaksud berbalik dan pergi. Akan tetapi France memegang tangan Collete, menahannya untuk jangan pergi.
" Jangan pergi Collete " France menatap mata Collete, tapi Collete terkejut. Karena dia tidak memperkenalkan diri pada France. Tapi, bagaimana ia tahu namanya?.
" Kau tahu namaku ?" Collete memutar kepalanya kesamping karena bingung.
" Yue memberi tahu namamu " France melemparnya pada Yue yang menunggu mereka berdua di pintu masuk toko tas. " Kenapa aku? " Yue tak kalah bingungnya dengan Collete.
" Ah, aku mendengar kau bernyanyi semalam. Lalu kubuntuti kau sampai tempat kerjamu. Aku sangat menikmati nyanyianmu." France sengaja tidak mengatakan klub malam untuk menjaga kenyamanan Collete berbicara padanya.
" Kau biasa pergi ke tempat kerjaku ?" Collete menyelidik, matanya menyi[pit.
__ADS_1
" Oh tidak, aku tidak menyukai tempat seperti itu. Hanya kebetulan aku ingin tahu suara emas yang ku dengar. Lalu aku tunggu sampai kau selesai bernyanyi.
" Kalau begitu kau melihat Tobias melempar cangkir padaku ?" Collete masih menyipitkan matanya.
" Yah, harusnya jika kau membaca berita siang ini. Kau sudah tahu apa yang terjadi pada Tobias." France mengeluarkan hpnya lalu mengetik sebentar. Setelah itu memberikan hpnya pada Collete. Collete mengambil hp tersebut dan melihat artikel sebuah kecelakaan atas Antonio Tobias sang penguasa air minum. Collete menutup mulutnya kaget dan terus membaca berita tersebut. Tobias mengalami amputasi pada tangan kanannya. France mengambil hpnya dari tangan Collete.
" Bagaimana bisa ? tadi Marry memberitahuku kalau tangan hukum sulit menyentuh Tobias, karena pengaruh uangnya." Collete hampir mengeluarkan air matanya.
" Berarti uangku lebih banyak dari Tobias." France nyengir seperti kuda.
Collete menangis sungguhan kali ini. Tidak di tahan-tahannya lagi.
" Hueee..." Collete terus mengusap air matanya dengan kedua tangan. Berharap tangannya dapat mengeringkan air matanya. " Terima kasih" Collete baru kali ini merasakan, ada yang berbuat jahat padanya lalu ada orang itu mendapat balasan.
" Sudahlah, itu sebuah kecelakaan. Mungkin Tobias mengantuk" France mengusap-usap kepala Collete.
" Kau seperti peri saja" dengan mata bengkak habis menangis Collete tersenyum ringan.
" I'm not gay" France merasa geli dirinya di panggil peri. France adalah seorang pebisnis yang selalu pergi ke 6 benua di dunia termasuk benua Amerika Utara dan Selatan jadi mengetahui segala istilah pergaulan manca negara. Collete memanggilnya peri sama dengan memanggilnya gay atau homosexual. France adalah lelaki yang sangat normal.
" Gay maksudmu homosexual ? Aku kan mengatakan peri. Bukan homo." Collete mencoba mengklarifikasinya agar France tidak salah paham.
" Iya, karena kau mengatakan aku adalah peri. Jadi peri atau fairy adalah bahasa gaul yang digunakan dalam bahasa Inggris berarti homo atau gay" France coba untuk menjelaskan pada Collete.
" Tapi aku bicara bahasa Indonesia, France. Kau tidak mengerti peri yang ku maksud adalah peri yang mengetahui apa yang aku inginkan, lalu kau mengabulkannya." Itulah yang di maksud Collete.
" Ah baiklah." France mengalah.
" Yah, begitu " suasana canggung untuk mereka berdua sekarang. Collete menunggu France bicara sesuatu karena tadi memegang tangannya menahan Collete untuk tidak pergi.
__ADS_1
" Beritahu aku soal trend tas masa kini yang cocok untuk ibuku" France memohon sekarang.
" Baiklah." Kata Collete sambil berjalan masuk duluan ke toko tas.