Cinta CEO Pada Lesbian

Cinta CEO Pada Lesbian
6. Tas seharga mobil


__ADS_3

" Tapi aku bicara bahasa Indonesia, France. Kau tidak mengerti peri yang ku maksud adalah peri yang mengetahui apa yang aku inginkan, lalu kau mengabulkannya." Itulah yang di maksud Collete.


" Ah baiklah."  France mengalah.


" Yah, begitu " suasana canggung untuk mereka berdua sekarang. Collete menunggu France bicara sesuatu karena tadi memegang tangannya menahan Collete untuk tidak pergi.


" Beritahu aku soal trend tas masa kini yang cocok untuk ibuku" France memohon sekarang.


" Baiklah." Kata Collete sambil berjalan masuk duluan ke toko tas.


Begitu Collete dan France memasuki toko tas, para pramuniaga langsung menoleh pada mereka berdua. Bergosip mengatakan " pasangan sempurna" ada lagi yang mengatakan " pasangan serasi" hal tersebut membuat France tersenyum mendengarnya. Yue memberi kode tangan untuk mengusir pramuniaga yang mendekat untuk melayani Collete dan France. Untungnya kode itu dimengerti oleh para pramuniaga disana.


" Yue, bawa belanjaan Collete."


" Jangan, biar aku saja" Collete menolak memberikan belanjaannya.


" Aku ingin kau nyaman memilihkan tas untuk ibuku." France bersikeras.


" Baiklah" Collete terpaksa menuruti France.


" Ayo" France menggandeng tangan Collete. Kedua mata Collete terbuka lebar merasakan sentuhan hangat tangan France.


" Kenapa harus pegangan tangan ?" Collete berbisik pada France.


" Supaya kau tidak tertinggal" France hanya mengatakan itu. Collete manggut-manggut merasa omongan France ada benarnya. France yang melihat Collete manggut-manggut tertawa kecil sambil menunduk.


" Sekarang, beritahu aku. Seprti apa ibumu." Collete sangat fokus pada tujuannya datang ke toko tas, yaitu mencarikan tas yang sesuai untuk ibunya France Richman.


" Dia pendek seperti kau. Dia perempuan yang lembut seperti air" France terkekeh menceritakan tentang ibunya pada Collete. France juga ingin tahu, apakah Collete dapat menemukan tas yang sesuai untuk di pakai ibunya.


" Hmm, apakah tas ini akan di gunakan untuk bekerja atau hang out?" kata Collete lagi serius.


" Keduanya" jawab singkat France.

__ADS_1


" Baiklah " Collete mulai mencari-cari.


Lalu menemukan satu tas model jinjing. Collete melepaskan pegangan tangan France untuk meraih tas yang dia lihat. Tas berwarna putih gading dengan pita emas di sudutnya.


" Kau pilih yang ini ?" France tersenum dengan pilihan Collete.


" Iya, kau suka?" Collete mengangkat tangannya lalu pose meniru model terkenal sambil tersenyum.


" Ya dan ibuku pasti menyukainya juga" kata France.


" Terima kasih, Collete." France memanggil salah satu pramuniaga untuk membeli tas tersebut.


" Yang ini, bungkus dengan rapih. Aku akan memberikannya sebagai hadiah"


" Baik tuan. Saya akan mengantar bill nya" kata pelayan toko tersebut.


" Harganya 400 juta. " Kata pelayan itu.


Mendengar harga tas tersebut sebesar 400 juta Collete merasa bersalah. Dia menutup mulutnya karena kaget tas tersebut seharga satu buah mobil.


" Kau tetap akan membelinya?. Itukan mahal sekali" kata Collete kelepasan.


" Untuk ibuku, apapun akan ku berikan." France sambil senyum pada Collete.


" Ah sial, kenapa ia selalu tersenyum padaku. Beruntung sekali yang menjadi ibunya." Batin Collete " yang menjadi istrinya apalagi. Pasti hubungan mereka sangat menyenangkan."


" Bisa kah aku pergi sekarang ?" Collete ingin latihan vokal, ingin bertemu Marry. Rasanya melihat sikap France yang penyayang, Collete jadi kangen pada Marry.


" Kau tidak ingin tas seharga mobil juga?" France seorang miliarder. Jutawan yang rupawan. Membelikan 3 atau 5 tas seharga mobil ataupun pesawat terbang tidak masalah baginya.


" Tidak, France. Terima kasih, aku ingin sekali. Tapi nanti pacarku pasti akan bertanya tentang munculnya tas seharga mobil ini dari mana. Dia sangat cemburuan orangnya." Collete menjelaskan tentang Marry.


" Apakah dia bekerja di club juga?" France pura-pura tidak tahu soal Marry.

__ADS_1


" Ya, bisa dibilang begitu" Collete bicara sambil memainkan tangannya


" Baiklah, aku menghormati hubunganmu." Kata France sok bijak, padahal hati hancur berkeping-keping.


" Aku ada makan malam dengan ibuku pukul 7 ini. Kalau kau ingin ikut, ini kartu namaku. Hubungi aku kapanpun kau mau." kata France menahan rasa sakit di hatinya.


" Baiklah, tapi kurasa tidak bisa. Karena aku tidak mungkin ke acara formal dengan penampilan seperti ini. Maksudku luka ini." Collete memijit-mijit pelipisnya yang terluka.


" Kau cantik seperti apapun penampilanmu, Collete" France undur diri dan pergi meninggalkan Collete sedangkan Yue menenteng belanjaan tas yang seharga mobil tersebut.


Mereka berjalan menjauh dari Collete yang masih memandangi kartu nama France Richman, CEO de Richman Corp. itu.


" Apa dia selalu tampan begitu ?" Collete membulak-balikan kartu nama France, seperti berharap ada kantong rahasia berisi uang atau emas. " Menyedihkan sekali kau, Collete" katanya dalam hati. Lalu memutuskan berjalan menuju parkiran mobil.


Di sisi lain..


" Kenapa Anda tidak mengajaknya makan malam sekalian, tuan?" Yue bingung tuannya melepaskan kesempatan emas. Seperti bukan tuannya saja.


" Aku ingin dia mendekat dengan sendirinya, Yue." Kata France yang berjalan dengan cool.


" Baiklah, tuan" Yue tidak perlu menjadi cupid kali ini. Dia ingin melihat bagaimana tuannya menjerat cintanya sendiri. Itu berarti Yue harus menghadaoi makan malam formal tuannya dengan serius. Yue banyak tertawa hari ini.


" Apa kau senang hari ini, Yue?" tuannya bertanya dengan nada mengolok.


" Ya, maafkan saya tuan. Nona Collete seperti memiliki perspektifnya sendiri tentang laki-laki." Yue tersenyum lagi.


" Tertawalah sekali lagi, akan ku potong gaji mu bulan ini. Cih, "anak manja" dari mana dia mendapat ungkapan itu." France jalan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Yue tertawa tanpa suara.


Lain dengan Collete yang menenteng semua belanjaannya dari mall tadi ke apartment nya. Collete latihan vokal sendiri. Karena Collete tidak ingin membebani Marry lagi dengan bernyanyi. Marry sudah banyak membantunya. Kekasih Collete tersebut bagaikan seorang dewi penolong baginya.


Collete hanya mewarisi kecantikan dari ibunya Alexandrie Monacco. Ibunya meninggal saat Collete kecil berusia 8 tahun. Collete kecil mulai merasa kehidupannya berubah setelah kepergian ibunya. Ayahnya, Andreas Scott tidak pernah menikah lagi setelah kepergian ibunya. Kehilangan cintanya Alexandrie membuat Andreas lupa memiliki anak yang menyayanginya. Andreas mabuk setiap hari dan memukuli Collete, ketika mendengar teriak kesakitan Collete Andreas merasa senang. Gangguan pada mental Andreas makin menjadi ketika melihat Collete remaja. Hawa nafsu Andreas yang lama tak tersalurkan da tambah wajah Collete yang mirip dengan Alexandrie membuatnya gelap mata hingga mendorongnya untuk memperkosa anak kandungnya sendiri. Beruntung Collete cepat lari dari rumah.


Collete merasa berhutang pada Marry yang selalu memberikan segala kebutuhan Collete. Apapun yang Collete minta Marry akan mencoba memenuhinya. Selama ini, Marry mampu memberikan apa yang Collete inginkan. Seperti pakaian, makanan, pekerjaan, tempat tinggal , perhiasan, dan lain-lain. Collete mendapatkan rasa aman bersama Marry. Akan tetapi, Collete masih belum mampu menceritakan masa kecilnya dengan Marry.

__ADS_1


__ADS_2