
Setelah mendengar ada suara mobil, Reza dengan segera langsung keluar dari kamar meninggalkan Melda tanpa berkata apa-apa. Dan Melda yang sedang terduduk di atas tempat tidur, hanya bisa menangis tak berdaya. Dalam fikiran Melda hanya keselamatan Om dan Tantenya, dan dia akan melakukan apapun demi bisa menyelamatkan mereka.
Setelah hampir satu jam Reza pergi, tiba-tiba dia kembali bersama Pak Rendra dan seorang laki-laki berotot. Pak Rendra membuka pintu kamar dan tersenyum setelah melihat Melda. Dan Melda yang sudah pasrah dengan segala hal yang akan dia hadapi nanti, hanya menatap mereka tanpa suara.
Sedangkan Reza yang berada di samping Pak Rendra, hanya menatap Melda dengan tampang datarnya, sambil mengepalkan kedua tangannya. Reza merasa sangat marah, tapi bukan marah kepada Melda, melainkan kepada Pak Rendra. Rasa-rasanya Reza ingin menghajar Pak Rendra saat itu juga dan lari membawa Melda. Tapi kalau sampai dia melakukan itu, berarti nyawa orang tua Faris akan menjadi taruhannya.
Pak Rendra yang memiliki kebiasaan yang tidak masuk akal itu, ingin agar laki-laki yang datang bersamanya itu, segerah melakukan apa yang dia inginkan saat itu juga, dan tanpa menunggu lama, Pak Rendra pun langsung membuka suara.
"Halo cantik, kamu sudah tahu kan maksud kedatangan aku dan anak buahku ke sini,,?" Tanya Pak Rendra kepada Melda, dan Melda hanya mengangguk tanpa menatap mereka.
"Kalau gitu apa bisa segera di mulai,,? Soalnya aku tidak bisa berlama-lama di sini." Kata Pak Rendra yang membuat Melda seketika langsung menatapnya, dengan tampang kaget dan ketakutan.
Melihat ekspresi Melda, membuat Pak Rendra langsung tertawa dan kembali berkata.
"Hahahahaha,, tidak usah kau takut cantik, itu sesuatu yang sangat nikmat di dunia ini, dan kamu bisa membuktikan kata-kataku ini sebentar nanti.
Melda yang tadinya sudah pasrah, seketika menjadi ketakutan. Dia tidak sanggup melakukan semua itu, tapi dia pun tidak berdaya. Dengan perasaan yang hancur, Melda kembali menundukan kepalanya, dan berkata-kata dalam hatinya.
"Ya Tuhan, aku tahu ini musibah terbesar dalam hidupku. Sesuatu yang paling berharga dalam hidupku, yang selama ini aku jaga, akan di renggut oleh laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal. Tapi aku melakukan semua ini, demi keselamatan Om dan Tante aku, karena aku tidak ingin kehilangan mereka." Melda berkata-kata dalam hatinya dengan air mata yang sudah berlinang.
Melihat keadaan Melda, hati kecil Reza sangat tidak Rela, dan dengan segera dia pun berfikir, untuk mencoba kembali berbicara dengan Pak Rendra.
__ADS_1
"Pak,, aku ingin bicara sebentar." Kata Reza.
"Apa yang ingin kamu bicarakan,,? Bicara saja,,!" Kata Pak Rendra.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang rahasia." Kata Reza sambil melirik laki-laki berotot yang ada di samping Pak Rendra, dan Pak Rendra yang melihatnya, langsung mengerti, kemudian berkata.
"Kamu keluar sebentar,,!" Kata Pak Rendra kepada laki-laki itu.
Melda yang sudah berderai air mata, sangat berharap Reza akan menolongnya. Dan apa yang di harapkan oleh Melda itu tidak salah. Setelah laki-laki itu keluar, Reza langsung memohon kepada Pak Rendra, untuk tidak melakukan apa yang menjadi keinginannya itu, kepada Melda. Tapi Pak Rendra malah memberikan Reza pertanyaan, yang membuat Reza juga Melda terkejut.
"Apa yang ingin kamu bicarakan,,?" Tanya Pak Rendra.
"Pak,, aku mohon jangan lakukan itu kepada wanita ini,,! Dia ini wanita baik-baik, dia bukan wanita yang biasa melakukan hal semacam itu." Kata Reza dengan tampang memohon.
Mendengar apa yang di katakan oleh Pak Rendra, membuat Reza juga Melda yang sedang menunduk sejak tadi di atas tempat tidur, langsung berputus asa. Air mata Melda yang sejak tadi sudah berlinang, langsung mengalir dengan begitu derasnya membasahi wajahnya yang cantik. Dia merasa seperti dunianya akan segera kiamat.
Begitupun dengan Reza yang sudah sangat mengenali sikap Pak Rendra, dia langsung terdiam setelah mendengar jawaban Pak Rendra. Reza ingin sekali melawan ataupun menghajar Pak Rendra, tapi dia tidak bisa melakukan itu, karena Pak Rendra adalah orang yang sangat berikhtiar, dia selalu menyediakan pistol kemanapun dia pergi. Dan di depan pintu kamar yang tidak di kunci itu, sedang berdiri beberapa penjaga yang berjaga-jaga. Jadi Reza sama sekali tidak punya celah untuk melakukan apapun.
Reza yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menatap Melda yang sedang menunduk sambil menangis, tanpa bersuara dengan tampang yang begitu putus asa. Tanpa Reza sadari, Pak Rendra sedang meliriknya, dan merasa curiga dengannya.
Pak Rendra adalah orang yang mengutamakan logika dari pada hati. Dia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, yang dia fikirkan hanyalah keuntungan pada dirinya sendiri. Tapi kalau mengenai Reza, logikanya selalu dia belakangi, karena dia sudah sangat menyayangi Reza seperti anaknya sendiri. Kemudian dengan tampang penuh curiga, Pak Rendra pun bertanya.
__ADS_1
"Reza,,! Apa kamu mencintai wanita ini,,?" Tanya Pak Rendra, sambil menatap Reza penuh curiga.
Reza yang sedang menatap Melda, langsung terkejut dengan pertanyaan Pak Rendra, begitupun dengan Melda. Melda yang sejak tadi menundukkan kepalanya sambil menangis, langsung mengangkat mukanya dan menatap Reza dengan mata yang terbuka lebar. Tapi dengan segera, Reza langsung menjawab yang membuat Pak Rendra langsung tertawa.
"Aku tidak mencintainya,,! Aku hanya merasa kasihan padanya." Jawab Reza penuh keyakinan.
"Hahahahaha,, Rezaaa, Rezaaa. Mengapa kamu selalu merasa kasihan sama orang yang tidak kamu kenal,,? Jangan mudah merasa kasihan sama orang yang tidak kita kenal sama sekali, karena belum tentu mereka itu orang baik." Kata Pak Rendra sambil menatap Reza.
"Aku hanya kasihan sama dia, karena aku punya adik perempuan yang sangat aku sayangi." Jawab Reza yang membuat Pak Rendra seketika langsung murung.
Reza menjawab seperti itu, memang sengaja untuk membuat Pak Rendra mengingat kembali pada seseorang yang sangat dia sayangi. Reza yakin Pak Rendra itu bukan orang yang tidak punya perasaan, tapi rasa marah dan sakit hatinya, yang membuat dia seperti manusia tak punya hati.
Sebenarnya, dulu Pak Rendra mempunyai seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi, dan mereka hanya dua bersaudara.
Kisa hidup Pak Rendra dan adik perempuannya itu, sama persis dengan kisah hidup Reza dan Aleta. Dan hal itu yang membuat Pak Rendra sangat menyayangi Reza, karena dia berfikir, dia dan Reza memiliki perjuangan yang sama untuk adik perempuan mereka.
Pak Rendra sangat menyayangi adiknya itu. Tapi suatu hari, adiknya itu di perkosa dan di bunuh oleh Pamannya sendiri, dan hal itulah yang membuat Pak Rendra jadi manusia yang tidak punya hati, terutama bagi para wanita.
Setelah kejadian itu, Pak Rendra jadi berubah. Rasa kasih sayangnya kepada wanita seketika hilang dari dirinya. Dia tidak pernah memikirkan kehormatan wanita, bahkan istrinya sendiri dia perlakukan dengan sangat kejam. Dan selain itu, dia tidak ingin memiliki keturunan yang berjenis kelamin perempuan.
Pak Rendra yang tiba-tiba teringat dengan adiknya karena mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Reza, dengan segera langsung berbalik menghadap pintu kemudian berkata.
__ADS_1
"Kamu temani saja dia di sini,,!" Kata Pak Rendra dan langsung keluar meninggalkan Reza dan Melda.
Mendengar apa yang di katakan oleh Pak Rendra, membuat Reza langsung menarik nafas panjang sambil menutup matanya. Dan Melda yang tidak mengerti apa-apa, merasa bingung dan juga merasa sedikit legah, walaupun dia belum tahu pasti apa maksud dari perkataan Pak Rendra barusan.