
Faris yang sudah tidak sabar ingin mencari tahu kabar tentang Melda dan Reza, segera menyuruh semua anak buahnya untuk melacak ponsel Reza. Tapi mereka semua tidak berhasil melacaknya, mungkin karena ponsel Reza tidak aktif, atau dia berada di tempat yang memang tidak ada jaringan.
Faris dengan tampang yang terlihat tidak tenang, mondar-mandir ke sana ke mari sambil memikirkan langkah yang harus dia ambil, karena dia benar-benar yakin, kalau Reza dan Melda sedang berada di dalam masalah besar. Selain itu, Faris juga tidak mengerti dengan perkataan anak buahnya tadi, yang mengatakan kalau kata Reza, keselamatan orang tuanya sedang terancam.
Tapi Faris yang begitu jenius dan cerdas, tidak membutuhkan waktu lama, untuk mendapatkan langkah awal untuk mencari keberadaan keluarganya. Sambil berdiri dengan kedua tangannya di pinggang, dan tatapan yang sangat tajam tanpa tujuan, Faris pun berkata-kata dalam hatinya.
"Bos Reza pasti terlibat dalam masalah ini." Kata Faris dalam hatinya dengan tampang yang terlihat begitu menakutkan.
Di saat Faris sedang memikirkan semuanya, tiba-tiba Boy dan Tante Leni datang dan langsung menghampirinya di ruang keluarga. Dan belum sempat Boy dan Tante Leni duduk, Faris dengan tatapan yang tajam langsung berkata.
"Untuk sementara, Tante dan Boy tinggal dulu di sini menemani Aleta dan Almira,,! Karena ada urusan penting yang harus aku kerjakan." Kata Faris sambil menatap Tante Leni.
"Memangnya kamu mau kemana,,? Dan urusan penting apa yang membuat kamu harus meninggalkan mereka berdua, di saat seperti ini,,?" Tanya Tante Leni dengan tampang kebingungan.
"Papa dan Mama, kemungkinan besar masih hidup. Dan keselamatan mereka sekarang sedang dalam bahaya, begitupun dengan Melda juga Reza." Jawab Faris yang membuat Tante Leni dan Boy langsung terkejut.
"Apaaaa,,? Apa benar yang Tante dengar ini,,?" Tanya Tante Leni kaget.
"Iya Tan. Karena itu yang di katakan oleh Reza, di saat dia menelfon salah satu anak buahku tadi." Kata Faris menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau gitu telfon saja dia,,! Dan tanyakan semuanya." Sambung Boy dengan tidak sabarnya.
"Nomornya sudah tidak bisa di hubungi, begitupun dengan Melda." Jawab Faris.
"Terus apa yang harus kita lakukan Maas,,? Mas harus secepatnya bertindak,,! Sebelum semuanya terlambat." Sambung Aleta yang baru keluar dari kamar mengecek keadaan Almira.
Aleta juga sangat terkejut mendengar apa yang di katakan oleh anak buah Faris tadi, tapi walaupun begitu, dia tetap fokus dengan keadaan adik iparnya itu. Aleta merasa sangat tidak tenang kalau dia tidak berada di samping Almira, biar hanya beberapa menit. Padahal ada beberapa penjaga yang selalu siap di dalam maupun di luar kamar, untuk menjaga keselamatan Almira, selama Faris dan Aleta tidak berada di dalam kamar.
Aleta memang tidak ingin suaminya menyakiti orang, apalagi sampai membunuh lagi. Tapi dia tidak ingin melarang Faris di saat itu, karena dia tahu, Faris tidak akan bisa di atur dalam kondisi seperti itu.
"Faris,,! Kita harus memikirkan jalan keluar secepatnya." Kata Tante Leni..
"Aku sudah menemukan jalan yang harus aku ambil. Dan karena itu aku meminta Tante dan Boy untuk tinggal di sini, menemani Aleta dan Almira." Kata Faris.
Tanpa menunggu lama, Faris langsung masuk ke dalam kamar, dia ingin menengok adiknya sebentar sebelum dia keluar dari rumah. Sedangkan anak buahnya yang akan ikut bersamanya, sudah siap dengan segala peralatan mereka di depan rumah.
Selesai mengambil dua buah pistol dan memasukannya ke dalam jaket yang dia pakai, Faris langsung melangkah ke arah tempat tidur, kemudian dia duduk tepat di samping Almira dan berkata.
"Sayaang, doakan Mas ya,,! Mas janji, akan menyelamatkan keluarga kita dan segera membawa pulang mereka secepatnya." Kata Faris, kemudia dia tunduk untuk mengecup kening adiknya, yang masih terus terlelap itu.
__ADS_1
Setelah itu, Faris segera berdiri dan hendak melangkah pergi, tapi seketika langkahnya langsung tertahan, karena Almira sudah memeluk lengannya dengan sangat erat sambil menangis. Akhirnya Faris kembali duduk menghadap Almira, dan mencoba menenangkannya.
"Sayang,, Mas harus pergi ke Malaysia untuk menyelamatkan Mba Melda dan Bang Reza, sebab keselamatan mereka sedang dalam bahaya. Kata Faris sambil membelai rambut Almira.
Faris memilih untuk menyembunyikan kabar orang tuanya yang masih selamat dari Almira. Dia seperti itu, karena dia tidak ingin memberikan harapan kepada Almira, yang sangat menderita atas kecelakaan itu. Jadi sebelum Faris mendengar langsung dari Reza, atau melihat langsung kedua orang tuanya, dia belum bisa banyak berharap, apalagi memberi harapan kepada Almira.
Dalam hati kecilnya, sebenarnya Faris sangat berharap orang tuanya masih ada seperti yang di sampaikan Reza. Karena sebenarnya, dia sendiri tidak sanggup menjalani hidup tanpa kedua orang tuanya.
Setelah memberikan penjelasan dan pengertian kepada Almira, Faris kembali berdiri dan hendak melangkah, tapi dengan segera Almira langsung menarik tangannya, dan langsung mengeluarkan suara.
"Maaas,, Mama dan Papa di bawah pergi." Kata Almira dengan suara yang terbata-bata.
Mendengar apa yang di katakan oleh Almira, membuat Faris dan yang lainnya seketika langsung terkejut. Mereka terkejut sebab Almira baru bisa berbicara, setelah kejadian kecelakaan itu. Faris yang begitu bahagianya, dengan segera langsung berbalik menghadap Almira, dan memeluknya dengan begitu erat sambil berkata.
"Siapa yang membawa mereka,,?" Tanya Faris sambil memeluk erat adiknya, tapi Almira tidak menjawab sama sekali.
Almira yang tadi sudah bisa berbicara, kembali terdiam, dan tatapannya seperti orang yang sangat ketakutan dengan sesuatu yang dia sembunyikan. Dan Faris yang sudah melepaskan pelukannya dari Almira, sudah mengerti kalau Almira sedang ketakutan. Akhirnya Faris mencoba untuk menanyakan semuanya, dengan nada yang terdengar lebih tenang, biar tidak mempengaruhi mental Almira yang belum sembuh total.
"Sayaang,, kamu rindu sama Mama dan Papa kan,,? Papa dan Mama juga sangat merindukanmu, dan ingin cepat-cepat menemuimu. Jadi kamu harus kasih tahu semuanya biar Mas bisa pergi menyelamatkan mereka." Kata Faris dengan tenangnya, dan berhasil membuat Almira kembali berbicara.
__ADS_1
"Ngga tahuu,, tapi aku mendengar ada seseorang yang menyebut nama Bela, kepada Papa. Katanya Papa yang sudah membuat anaknya mati."Kata Almira dengan nada yang sangat bergetar saking takutnya.
Mendengar nama itu, membuat tampang Faris yang tadinya terlihat begitu menarik, beruba hampir seratus persen, menjadi predator yang siap memangsa sasarannya. Faris sangat marah mendengar nama itu, karena orang itu yang sudah pernah, mencoba menghancurkan rumah tangga orang tuanya waktu dulu. Dan wanita itulah yang membuat tangan Faris pertama kali di basahi darah.