
Reza merasa sangat legah setelah mendengar perkataan Pak Rendra, dan dia tahu, kalau Pak Rendra sudah teringat dengan saudar perempuannya, setelah mendengar apa yang dia katakan tadi. Sedangkan Melda yang sejak tadi hanya tertunduk dan terus menangis, langsung mengangkat mukanya, dan menatap Reza dengan tampang kebingungan.
Melda yang tidak tahu apa-apa, merasa bingung dengan sikap Pak Rendra, tapi di dalam hati kecilnya, dia merasa sedikit legah, karena Pak Rendra tidak menyuruhnya untuk melakukan sesuatu hal, yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Selama ini, Melda tidak pernah berpacaran, karena itu yang selalu di larang orang tuanya. Orang tua Melda tidak ingin Melda berpacaran, seperti teman-temannya yang lain. Mereka seperti itu, karena mereka tahu bagaimana gaya pacaran anak muda jaman sekarang, yang terbilang sangat bebas.
Reza yang sudah merasa sedikit legah, melangkah dan duduk tepat di hadapan Melda tanpa berkata apa-apa. Dan Melda yang masih merasa bingung juga penasaran, dengan segera langsung bertanya.
"Mengapa dia pergi,,?" Tanya Melda sambil menatap Reza dengan wajahnya yang sangat basah dengan air mata.
"Dia tidak akan memintamu lagi untuk melakukan apa yang dia inginkan tadi." Jawab Reza sambil menatap Melda yang juga sedang menatapnya.
"Tapi nanti malam gimana,,? Tolong selamatkan aku,,! Aku mohon Baang,,!" Kata Melda dengan berlinang air mata, yang membuat Reza langsung menatapnya tajam.
Reza seketika merasa terkejut, karena Melda memanggilnya dengan sebutan Abang. Dia langsung teringat dengan Aleta. Tapi tidak lama, dia pun membalikan posisi duduknya membelakangi Melda, dan mulai berfikir untuk rencana nanti malam.
"Nanti malam bagaimana Bang,,? Kita harus cepat pergi dari sini,,! Karena keselamatan Om dan Tante aku lagi dalam bahaya." Melda berkata sambil menarik lengan Reza, yang sudah duduk membelakanginya.
"Aku sedang berfikir." Jawab Reza dingin, tanpa menatap Melda.
Mendengar jawaban Reza, Melda dengan segera langsung melepaskan tangannya dari lengan Reza, dan duduk bersandar ke dinding.
Tapi tiba-tiba mata Melda terbuka lebar, di saat pandangannya tertuju ke atas tempat tidur yang tadi dia duduki.
Melda terkejut karena melihat ada noda darah yang lumayan besar di atas tempat tidur, yang dia duduki sebelumnya, dan itu tepat di samping tangan Reza. Dengan tampang kaget juga bingung, Melda pun berkata-kata dalam hatinya.
__ADS_1
"Astagaa,, apa jangan-jangan aku datang bulan." Kata Melda dalam hati sambil menatap noda darah itu dengan tatapan yang sudah mulai panik.
Di saat Melda sedang bingung dengan noda darah yang dia lihat di atas tempat tidur itu, tiba-tiba Reza yang tidak tahu apa-apa, hampir saja meletakan tangannya di atas noda darah itu, di saat dia hendak berbalik menatap Melda ingin mengatakan sesuatu. Tapi dengan segera, Melda langsung meraih tangannya tanpa berkata apa-apa.
Apa yang di lakukan Melda itu membuat Reza jadi bingung, karena Melda terlihat sangat aneh. Melda yang sudah merasa malu dengan noda darahnya itu, hanya terdiam sambil memegang sebelah tangan Reza, dengan wajah yang sudah sangat memerah.
Melda adalah gadis yang masih sangat polos, dia merasa sangat malu dengan keadaannya saat itu, saking malunya sampai-sampai dia tidak tahu harus berbuat apa. Dan Reza yang semakin bingung dengan ekspresinya, memilih untuk langsung bertanya.
"Kamu kenapa,,? Apa kamu sakit,,?" Tanya Reza sambil meraba-raba kening Melda dengan tampang khawatir.
"Aku tidak sakit,,!" Jawab Melda tanpa berani menatap Reza.
"Trus kamu kenapa,,? Mengapa kamu menahan tanganku seperti ini,,?" Tanya Reza dengan tatapan cari tahu.
"Karena tanganmu tadi hampir menyentuh itu,,!" Kata Melda dengan malu-malu, sambil menatap ke arah tempat tidur yang terdapat noda darah yang lumayan besar.
"Iyaa." Jawab Melda malu-malu tanpa menatap Reza.
Melihat ekspresi Melda, membuat laki-laki dingin itu, jadi tersenyum. Reza sebagai laki-laki dewasa, sudah mengerti setelah melihat noda darah di sampingnya, juga melihat ekspresi Melda. Kemudian sambil menarik tangannya yang masih di pegang oleh Melda sejak tadi, Reza pun bertanya.
"Kamu datang bulan,,?" Tanya Reza yang sudah kembali membelakangi Melda.
"Iyaa. Dan aku ngga punya pakaian ganti." Jawab Melda.
"Ngga apa-apa. Biarin begitu saja,,! Setelah keluar dari sini, baru di ganti." Kata Reza sambil terus membelakangi Melda.
__ADS_1
"Iya." Jawab Melda.
"Kamu di sini dulu,,! Aku mau ke bawah untuk mengecas ponsel aku, biar aku bisa mengabari Faris." Kata Reza di samping telinga Melda, yang langsung di iyakan oleh Melda.
************
Sedangkan di Indonesia, Faris yang baru sampai rumah, sudah di sambut oleh Aleta di depan pintu. Aleta yang melihat keadaan suaminya yang begitu berantakan, langsung memeluk suaminya dan menangis. Aleta sudah mencoba untuk kuat dan tidak ingin menangis lagi, tapi dia tidak sanggup melihat perjuangan, juga penderitaan suaminya dalam menghadapi cobaan sebesar itu.
Setiap hari Aleta menangis, apalagi di saat dia melihat Faris bersama Almira, yang sekarang sudah sadar tapi tidak bisa berbicara dan tidak bisa berekspresi sama sekali. Dan kata Dr, Almira seperti itu karena dia mengalami tekanan, dan trauma yang sangat mendalam karena kejadian yang dia alami.
Walaupun Almira tidak bisa berbuat apa-apa, tapi Faris tidak pernah berputus asa. Setiap hari Faris selalu pergi mencari tahu tentang kecelakaan keluarganya, juga keberadaan Melda, tanpa ada rasa lelah. Dan di saat pulang ke rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menemani Almira, karena Faris sangat takut terjadi apa-apa dengan adiknya itu. Dan Faris yakin, kalau para musuh sedang mengincar Almira, sebab dialah saksi kunci atas kecelakaan itu.
Faris dan Aleta melangkah menuju kamar Almira yang sekarang juga menjadi kamar mereka, dengan posisi Aleta memeluk Faris sambil terus menangis. Faris yang terlihat begitu tegar, hanya mengusap-usap lengan Aleta sambil berkata.
"Jangan menangis lagi,,! Karena air matamu itu adalah kelemahanku. Saat ini, aku tidak bisa menjadi laki-laki yang lemah, aku harus kuat dan tegar demi kalian semua." Kata Faris dengan tampang yang sangat menakutkan.
Sampainya di dalam kamar, Faris dan Aleta langsung menghampiri Almira, yang sedang bersandar di kepala ranjang dengan tatapan yang sangat kosong. Kemudian Faris melepaskan pelukannya dari Aleta, dan duduk di depan adiknya yang sudah seperti mayat hidup itu dan berkata.
"Adiku sayang, kamu rindu ya sama Mas,,?" Tanya Faris sambil meraba wajah Almira.
Almira tidak menjawab apa-apa, tapi dia langsung menatap Faris, sambil menganggukan kepalanya. Dan ekspresi Almira itu membuat Faris, Aleta, juga Dr pribadi Almira yang juga ada di situ langsung terkejut, karena ini pertama kalinya Almira merespon pembicaraan orang, setelah dia tersadar dari pingsan.
Faris dan Aleta sangat bahagia melihat perkembangan Almira. Dengan penuh kasih sayang, Faris langsung memeluk Almira kemudian berkata.
"Ya Tuhan,, trima kasih atas mukjizat yang engkau berikan kepada adiku ini. Aku tidak berharap banyak, aku hanya ingin dia sembuh, dan bisa beraktifitas kembali seperti semula." Kata Faris sambil memeluk Almira dengan mata yang sudah berkaca-kaca saking bahagianya.
__ADS_1
Faris sangat bersyukur dengan perkembangan Almira, karena walaupun dia belum bisa berbicara, setidaknya dia sudah mulai merespon apa yang di katakan oleh Faris. Dan yang lebih terharu lagi, di saat Faris memeluknya, dia juga langsung membalas pelukan Faris, dan itu membuat air mata Faris juga Aleta yang sedang berdiri di samping mereka, langsung menetes saking bahagianya.