
Pukul 1:30 Faris sudah sampai di apartemennya bersama Boy. Setiap berada di luar negri, Faris selalu menyewa mobil untuk dia pakai selama berada di sana, sebab Faris selalu tidak merasa aman kalau di supirin orang lain. Sedangkan Boy sebaliknya. Dia tidak merasa aman, kalau mengemudi mobil sendiri di luar negri, dan itu yang membuat dia selalu menolak, setiap Faris mau menyewa mobil untuknya.
Hari itu Faris dan rekan-rekan bisnisnya pulang lebih awal. Karena mereka hanya mengadakan pertemuan selama beberapa jam, untuk membahas hasil kerja mereka selama beberapa hari ini, sekalian meninjau segala persiapan mengenai acara besar nanti malam.
Selesai memarkirkan mobil, Faris dan Boy langsung melangkah menuju apartemen. Sampainya di depan pintu apartemen, Faris segera menekan tombol yang berada di samping pintu. Tidak lama pintu pun terbuka, dan bedirilah Aleta dengan gayanya seperti orang yang mau berfose.
Aleta berdiri dengan gaya seperti itu, karena sebelum dia membuka pintu tadi, dia sudah melihat Boy bersama Faris dari dalam. Dan Aleta memang sengaja ingin membuat Boy kesal. Soalnya Boy selalu merasa kesal, dan tidak pernah diam kalau melihat Aleta ataupun Melda bergaya di depannya.
"Aal,, aku tahu kamu tu cantik bangat, tapi ngga usah sombong dulu, karena suatu saat, aku juga akan menemukan pendamping hidup yang sangat waoo,," kata Boy sambil melangkah masuk dengan gayanya yang gemulai.
"O ya,,?" Tanya Aleta sambil menggandeng lengan Faris, dan melangkah mengikuti Boy yang sudah duluan melangkah.
"Iya lah,, tunggu saja undangannya,," kata Boy tidak mau kalah.
"Buktikan,,! Jangan hanya ngomong aja,,! Trus yang jadi pertanyaanku, pasangan kamu nanti, laki apa perempuan,,?" Tanya Faris setelah mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Siluman,,! Puas kamu,,?" Ketus Boy dengan wajah kesalnya, dan itu membuat Aleta langsung tertawa terbahak-bahak sambil berkata.
"Awas lo Boy, kata-kata itu doa lo." Kata Aleta yang membuat Boy langsung menatapnya tajam.
"Biarin aja,, biar dia di makan sama siluman." Sambung Faris dengan tampang datarnya.
__ADS_1
"Hiiiii amit-amit,, ngga, ngga, ngga,," aku tu cuma bercanda aja." Kata Boy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Melihat kspresi Boy, Faris hanya menatapnya sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan Aleta, dia tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan tingkah lucu saudara iparnya itu.
Walaupun Boy itu hanyalah anak angkatnya Tante Leni, tapi Faris dan keluarga besarnya menyayangi dan memperlakukan Boy, layaknya saudar sungguh. Apalagi Tante Leni sangat menyayangi Boy.
Perbedaan umur Faris dan Boy hanya dua tahun, Faris yang lebih tua dua tahun darinya. Waktu masi SMA, mereka sekolah terpisah. Dan Boy selalu di buli di sekolahnya. Setiap kali dia di buli, pulangnya dia langsung ke rumah Faris, dan memberitahukannya kepada Faris.
Di saat Faris mendengar apa yang di sampaikan Boy, Faris tidak tinggal diam. Keesokan harinya dia langsung mengantarkan Boy ke sekolahnya, dan dia segera memberi pelajaran kepada orang-orang yang membuli Boy, sampai mereka kapok. Dan karena semua itu, sehingga Boy tidak mau jauh-jauh dari Faris, karena bagi dia, Faris adalah abang sekaligus pelindungnya.
Faris, Boy, dan Aleta, memilih untuk makan siang di apartemen. Selesai makan dan beristirahat beberapa menit, mereka langsung bergegas pergi ke sebuah moll besar, membeli pakaian untuk acara nanti malam. Sampainya di moll, Boy dan Aleta sangat bersemangat untuk memilih segala hal, sedangkan Faris yang tidak suka berbelanja, hanya mengikuti mereka dari belakang.
Selesai membeli semua keperluan mereka, Faris dan Aleta langsung mengantarkan Boy pulang ke hotel tempatnya menginap. Dan setelah itu, Faris dan Aleta segera melanjutkan perjalanan mereka pulang ke apartemen mereka.
Boy sama seperti keluarganya yang lain, yang tidak pernah suka kalau ada wanita-wanita ganjen yang selalu ingin mendekati Faris. Dan Boy juga tahu, kalau ada beberapa rekan bisnis mereka, yang selalu mencari-cari perhatian Faris.
Wanita-wanita itu juga sudah berada di pesta, dengan penampilan mereka yang di buat sangat berlebihan menurut Boy.
Semua tamu sudah hadir di acara besar itu. Dan tidak berapa lama, Faris pun muncul dengan menggandeng tangan Aleta, yang terlihat begitu cantik dan anggun.
Semua mata yang ada di situ tertuju kepada Aleta. Dan Boy si gemulai itu tidak tinggal diam, dia melangkah mendekati rekan-rekan bisnis mereka, yang sedang menikmati minuman di tangan mereka dan langsung berkata.
__ADS_1
"Tu lihat,, istrinya secantik bidadari, dan karena itu sehingga dia tidak pernah melirik wanita-wanita halu." Kata Boy sambil melirik ke arah beberapa wanita yang juga rekan bisnis mereka, yang selalu mencari perhatian Faris.
"Iya,, wanita itu seperti bidadari." Kata salah seorang rekan bisnis mereka, sambil terus memandang ke arah Faris dan Aleta.
"Fariis,,!" Suara Boy memanggil Faris, sambil melambaikan tangan kepada Faris dan Aleta yang sudah menatapnya, dari arah sana sambil tersenyum.
Faris dan Aleta menghampiri Boy dan yang lainnya. Faris melangkah sambil merangkul pinggang Aleta yang begitu ramping. Dan pemandangan itu, membuat beberapa wanita yang ada di situ jadi salah tingkah, karena merasa malu pada diri mereka sendiri. Sedangkan Boy yang melihat ekspresi mereka, langsung tersenyum.
Beberapa wanita yang menjadi rekan bisnis Faris itu sangat malu, setelah mereka melihat kecantikan istri Faris. Apalagi selain cantik, Aleta terlihat sangat feminim dan begitu anggun, dengan gaun yang dia pakai.
Setelah Faris dan Aleta duduk pada tempat yang sudah di siapkan, tidak berapa lama acara pun di mulai. Di saat acara sedang berlangsung, Aleta merasa kalau ada seseorang yang memperhatikan dia dari arah sana.
Aleta menatap orang itu berusaha untuk mengenalinya, tapi Aleta tidak bisa mengenalinya karena jarak mereka cukup jauh. Dan tiba-tiba orang itu dengan cepat langsung berbalik dan melangkah pergi.
Aleta sangat penasaran dengan sosok laki-laki yang menatap dia tadi. Dia ingin sekali memberitahukan Faris, tapi pada saat itu Faris sedang berada di depan sana, menyampaikan sambutan dalam rangka membuka acara besar itu.
Dalam diam Aleta pun mencoba mengingat dan mengenali sosok yang dia lihat tadi. Dan tiba-tiba matanya terbelalak, saat ingatannya tertuju kepada seseorang yang dia kenal.
Aleta memang tidak mengenali wajah laki-laki itu, karena tadi jarak mereka lumayan jauh, dan dia berdiri di bagian sudut ruangan yang tidak terlalu terang. Tapi Aleta merasa mengenalinya dari postur tubuh dan gayanya berjalan. Dan Aleta merasa itu seperti Bram.
Seketika Aleta jadi merasa ketakutan, tapi dia kembali berfikir, kalau itu tidak mungkin, sebab Bram sudah di nyatakan meninggal.
__ADS_1