
Faris yang baru sampai langsung turun dari mobil, dan melangkah menuju mobil yang terdapat kedua orang tuanya. Semua yang melihatnya langsung menegang seperti melihat malaikat pencabut nyawa. Dengan tatapan matanya yang begitu tajam menatap ke arah tawanannya, Faris terus melangkah tanpa berkata apa-apa.
Faris datang dengan menggunakan pakaian yang sangat rapi. Itulah bedanya Faris dengan yang lain, dia selalu berikhtiar dalam segala hal, apalagi akhir-akhir ini, semua kabar tentang dia dan keluarganya selalu di buruh wartawan dari berbagai media.
Selama kejadian yang menimpa keluarganya, setiap hari maupun malam, pasti ada wartawan yang lalu-lalang di depan rumahnya. Mereka seperti itu, karena Faris ataupun keluarganya yang lain, tidak pernah memberikan informasi apapun tentang musibah yang menimpa mereka. Jadi biar tidak di curigai, di saat keluar di malam hari, Faris selalu mengenakan pakaian yang rapi, biar terlihat seperti dia mau menghadiri sebuah acara, atau pulang dari sebuah acara.
Faris yang sudah berdiri di depan mobil anak buahnya, langsung terdiam sejenak di saat matanya tertuju kepada kedua orang yang sangat dia sayangi, yang sudah terkapar tak berdaya di dalam sana. Matanya yang merah dengan seketika langsung berkaca-kaca. Hati Faris sangat sakit, karena ini kali pertama dalam hidupnya melihat kedua orang tuanya teraniaya seperti itu, dan dia tidak bisa untuk menolong mereka.
Kemarahan Faris benar-benar menguasai dirinya, sekujur tubuhnya bergetar saking emosinya. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk membalas, semua perbuatan orang-orang yang telah melakukan itu kepada keluarganya. Sambil menatap wajah orang tuanya, dengan segera Faris langsung mengeluarkan pisau sangkur dari dalam jas yang dia kenakan.
Setelah pisau sangkur sudah berada di dalam genggamannya, Faris dengan nafas yang sudah memburu ingin segera berbalik dan menghabisi penjahat-penjahat itu saat itu juga, tapi tiba-tiba dia langsung mematung, karena tidak sengaja, dia melihat setetes kristal bening keluar dari sebelah mata Mamanya.
Melihat itu, Faris pun ikut meneteskan air mata yang sejak tadi sudah berusaha dia tahan. Faris menangis terharu juga bahagia setelah melihat air mata Mama Alira, dia merasa bahagia karena dia tahu, Mama Alira pasti merasakan kehadirannya walaupun dia sudah tidak bisa bergerak sama sekali.
Faris yang tadinya ingin segera menghabisi Pak Frengki dan rekan-rekannya, langsung mengurungkan niatnya, setelah melihat air mata Mamanya. Faris tahu, walaupun mamanya tidak mampuh untuk membuka mata taupun berkata-kata, tapi air matanya itu menunjukkan, kalau dia tidak mau Faris mengotori tangannya dengan darah untuk yang kesekian kali, karena Mama Alira adalah salah satu orang, yang selalu mengingatkan Faris agar tidak melakukan hal itu lagi.
Selain itu, Faris juga tiba-tiba teringat dengan pesan Aleta kepadanya, setiap kali dia mau keluar mencari kabar tentang keluarganya. Aleta selalu mengingatkan Faris, untuk tidak melakukan sesuatu hal yang dapat menghilangkan nyawa orang, karena dia takut bayi mereka yang akan menanggungnya.
Di saat Faris sedang memikirkan apa yang di pesan oleh Aleta, sambil menatap wajah Mamanya, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari Boy. Tanpa menunggu lama Faris pun menjawabnya.
("Haloo Boy,,") Sapa Faris setelah telponnya tersambung.
__ADS_1
("Ris,, aku sedang dalam perjalanan dengan ambulans.") Jawab Boy dari balik telpon.
("Tate juga ikut,,?") Tanya Faris.
("Mama ngga ikut, dia ngga mau ninggalin Aleta dan Almira sendirian.") Jawab Boy.
("Sudah ya Riis,,!") Kata Boy.
("Iya aku tunggu.") Kata Faris dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Boy sudah dalam perjalanan bersama ambulans, karena sejak tadi Faris sudah menghubunginya, untuk memberitahukan kabar kedua orang tuanya yang sudah berhasil di temukan, dan menyuruhnya segera datang dengan ambulans.
Selesai berbicara dengan Boy, dengan segera Faris langsung berbalik, dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Pak Frengki, dan Komandan Polisi beserta beberapa anak buahnya, ke suatu tempat yang tidak di ketahui banyak orang.
Faris tidak ingin ada yang mengetahui tentang Pak Frengki dan beberapa anggota Polisi itu, dan karena itu dia memutuskan untuk membawa mereka dari situ, sebelum pihak dari RS bersama Boy tiba. Dan untuk sementara, Faris belum bisa melakukan apa-apa untuk membalas semua perbuatan mereka, karena yang paling penting baginya saat itu, hanyalah keselamatan orang tuanya.
Faris yang sedang menunggu Boy, yang sedang dalam perjalanan bersama beberapa tim medis dari Rs, memilih untuk masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di atas kepala Mama Alira dan Papa Fahri. Faris menatap wajah Mamanya yang sudah tidak sadarkan diri sejak tadi dengan tatapan sedihnya.
Faris tidak menyangka, kalau perbuatannya akan di tanggung oleh kedua orang tuanya. Dia sangat tidak tega melihat keadaan orang tuanya seperti itu, dan tidak lama, air matanya pun menetes membasahi wajahnya.
Faris adalah orang yang hampir tidak pernah menangis, dia adalah laki-laki yang sangat kuat. Tapi sekuat apapun dia, dia hanyalah seorang manusia biasa yang punya perasaan, dan sebagai anak, siapapun itu akan jadi lemah, di saat melihat kondisi kedua malaikat nya yang tak bersayap terbaring lemah tak berdaya di depan mata.
Dengan air mata yang berlinang, Faris mengangkat kepala Mama Alira dan Papa Fahri, kemudian dia menaruh kepala kedua orang tuanya itu, di pangkuannya kiri dan kanan, dan dia mulai berkata-kata.
__ADS_1
"Maaa,, aku tidak mau membuatmu kecewa. Aku selalu berusaha untuk menuruti semua perkataanmu, untuk tidak menghilangkan nyawa orang. Tapi untuk masalah ini, aku minta maaf Ma. Karena mereka harus di hukum atas apa yang sudah mereka lakukan." Faris berkata-kata dengan berlinang air mata, sambil menatap wajah Mamanya yang sudah di penuhi luka, karena perbuatan Pak Frengki.
Setelah berbicara kepada Mamanya, Kemudian Faris berbalik menatap wajah Papanya, yang lebih banyak terdapat luka dari pada Mamanya dan dia pun berkata.
"Paaa,, Papa selalu mengajarkan aku untuk bisa mengendalikan emosi, dan lebih sabar dalam menghadapi setiap masalah, dan Papa juga pernah bilang kalau aku harus jadi orang yang selalu menepati janji. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa sesabar itu, tapi aku akan tetap menepati janji, yang pernah aku ucapkan kepada Mama dan Papa, kalau tanganku ini akan aku jadikan samurai, dan tubuh ini akan menjadi baja untuk melindungi kalian." Kata Faris sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tidak lama dari situ, suara ambulans pun terdengar, dan dengan segera Faris langsung keluar dari dalam mobil dan menatap ke arah mobil ambulans yang baru datang itu. Setelah mobil ambulans berhenti di belakang mobil Faris, tanpa menunggu lama beberapa orang tim medis segera keluar.. Kemudian mereka langsung bergegas mengangkat Papa Fahri dan Mama Alira, dari dalam mobil anak buah Faris untuk di pindahkan ke mobil ambulans.
Setelah sudah di pindahkan, tanpa menunggu lama, mereka semua langsung bergegas menuju RS milik keluarga Permana. Faris dan Boy memilih untuk naik mobil ambulans bersama Papa Fahri dan Mama Alira.
Keadaan Papa Fahri dan Mama Alira sangat lemas, karena mereka terlalu banyak di siksa, dan kemungkinan mereka tidak di kasih makan, kata Dr yang selesai memeriksa keadaan Papa Fahri dan Mama Alira. Dan Dr itu juga langsung memasang peralatan medis, yang di butuhkan oleh Papa Fahri dan Mama Alira dalam perjalanan ke RS.
Mendengar apa yang di katakan oleh Dr yang memeriksa kedua orang tuanya, membuat Faris semakin geram. Saking emosinya Faris langsung meninju pintu ambulans, yang membuat mereka yang ada di dalam ambulans langsung tersentak, terutama Boy yang duduk tepat di samping Faris.
Boy sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Faris, tapi dia tidak berani untuk berkata apa-apa, begitupun beberapa tim medis yang ada di samping mereka.
Boy yang sudah sangat tahu pribadi Faris, hanya menatap beberapa tim medis yang ada di sampingnya, sambil mengedipkan matanya. Dan beberapa tim medis itu hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di depan RS milik keluarga Permana. Kedatangan mereka sudah di tunggu sejak tadi di depan RS oleh Tante Leni, dan beberapa Dr juga perawat yang siap menangani Papa Fahri dan Mama Alir. Dan tanpa menunggu lama, mereka langsung melarikan Papa Fahri dan Mama Alira ke ruang UGD.
Sebenarnya Tante Leni memilih untuk menemani Aleta dan Almira di rumah, tapi Faris yang menelponnya untuk segera berangkat ke RS, di saat dalam perjalanan tadi. Faris melakukan itu, sebab dia tidak mau ada wartawan yang masuk ke area RS, untuk meliput berita tentang kedua orang tuanya. Dan untuk masalah itu, Faris sangat percayakan Tante Leni untuk mengatasinya.
Memang kabar mengenai kedua orang tuanya itu, belum di ketahui oleh pihak manapun selain pihak RS. Dan Faris juga sudah meminta kepada pihak RS, untuk merahasiakan kabar itu untuk sementara waktu, karena Faris tidak ingin proses perawatan atau penyembuhan kedua orang tuanya, terganggu dengan para wartawan yang selalu memburu berita tentang keluarganya setiap waktu.
__ADS_1
Sebenarnya tidak ada masalah buat Faris, kalau kabar mengenai kedua orang tuanya tersebar ke luar, tapi dia masih bingung harus menjelaskannya dengan cara apa, karena Faris tidak mau nama penjahat di balik kecelakan yang menimpa keluarganya, di ketahui oleh orang lain, karena dia sudah punya rencana untuk menghilangkan nama maupun nyawa mereka untuk selamanya.