CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 26. Aleta yang takut dengan kegelapan.


__ADS_3

Aleta turun dari tempat tidur melangkah menuju pintu, dia ingin mencari Faris karena dia sangat menghawatirkan keadaan Faris, tapi belum sempat dia menghampiri pintu, tiba-tiba lampu padam dan dia langsung ketakutan karena Aleta memang sangat takut dengan kegelapan sejak kecil.


Dengan tergesa-gesa Aleta menyalakan ponsel di tangannya dan segera melangkah pergi, sedangkan Faris yang sudah mulai mabuk, sedang duduk bersandar di sandaran sofa dengan mata yang terpejam dan hanya memakai celana panjanngnya.


Setelah lampu mati tadi, Faris langsung melepaskan bajunya karena dia merasa sangat gerah, kemudian dia memutuskan untuk bersandar di sofa, sambil memejamkan matanya karena kepalanya terasa semakin pusing.


Aleta melangkah menuruni tangga tanpa bersuara, dan baru dua anak tangga yang dia lalui, tiba-tiba batrei ponselnya mati yang membuat dia tambah panik dan ketakutan.


Mata Aleta menatap ke sana kemari tapi dia tidak bisa melihat apapun, dengan detak jantung juga nafas yang memburu, Aleta melangkah dengan perlahan menuruni tangga sambil tangannya meraba-raba.


Sampainya di lantai bawah, Aleta langsung terduduk di samping tangga sambil menunduk memeluk kedua kakinya saking ketakutannya. Aleta yang terdiam di samping tangga, tiba-tiba langsung menangis karena dia teringat dengan kedua orang tuanya, yang selalu menemaninya di saat gelap seperti ini waktu dia masih kecil.


"Maaa,, Paaaa,, aku takuuut,,! Aleta berkata-kata dalam hatinya sambil menangis.


Sedangkan Faris yang masih berada di sofa sudah terlelap, mungkin karena pengaruh masih lemas di tambah dengan pengaruh minuman yang dia minum, membuatnya tidak butuh waktu lama untuk masuk ke dalam alam mimpi.


Sedangkan Aleta dia semakin ketakutan sampai-sampai dia kesulitan untuk bernafas, dadanya terasa sesak, mukanya bertambah pucat dan air matanya semakin deras mengalir membasahi wajahnya.


Begitulah Aleta, dia selalu merasa sesak nafas di saat berada dalam kegelapan, selain kegelapan, Aleta juga sangat takut dengan suara petir, dan ketakutannya terhadap kegelapan dan suara petir itu pernah membuat dia pingsan dan di larikan ke Rs.

__ADS_1


********


Kejadian itu terjadi di saat malam pertama kepergian ke dua orang tuanya. Di saat itu Aleta masih berada di bangku sekolah SD, karena baru di tinggalkan kedua orang tuanya membuat dia tidak bisa untuk tidur, sedangkan semua orang yang ada di rumah itu sudah terlelap termasuk Reza kakak sepupunya.


Tanpa membangunkan asisten rumah tangga yang sedang tidur menemaninya, Aleta turun dari tempat tidur dan memutuskan untuk pergi ke kamar ke dua orang tuanya yang sudah kosong.


Sampainya di dalam kamar orang tuanya, dia langsung mengambil foto ke dua orang tuanya yang ada di samping tempat tidur, Aleta yang sangat merindukan ke dua orang tuanya itu, duduk di tepi ranjang sambil memeluk foto orang tuanya dan menangis dengan pilunya.


Tapi di saat dia sedang menangis, tiba-tiba suara petir dan kilat menyambar dengan kerasnya, dan membuat foto yang ada di tangan Aleta langsung terjatuh ke lantai saking terkejut dan ketakutannya dia.


Aleta yang begitu ketakutan langsung berdiri dan berlari menghampiri pintu, Aleta berlari sambil menangis dan memanggil ke dua orang tuanya, tapi karena dadanya sudah terasa sangat sesak, membuat suara teriakannya terputus-putus.


Asisten rumah tangga yang tidur menemaninya itu lngsung bangun kemudian berlari membuka pintu, setelah melihat Aleta terbaring tidak sadarkan diri di depan pintu, dengan segera ART itu langsung berteriak membangunkan semua orang untuk meminta bantuan, dan tanpa menunggu lama mereka segera melarikan Aleta ke RS.


*********


Aleta yang masih berada di samping tangga mencoba menguatkan hatinya karena dia tidak ingin kejadian waktu kecilnya itu terulang lagi, dia menarik nafas panjangnya dan membuangnya perlahan berulang-ulang, tapi di saat tarikan nafas yang ke tiga, tiba-tiba suara petir menyambar dengan begitu keras, dan membuatnya langsung berdiri dan berlari sambil berteriak memanggil nama Faris dengan kerasnya.


"Fariiiiiiiis,,,!

__ADS_1


Suara Aleta yang keras membuat Faris langsung terbangun dan berdiri tegak, Faris yang belum sadar sepenuhnya hanya berdiri seperti patung dengan tampang kebingungan.


Aleta berlari dan langsung menabrak Faris yang masih mematung, karena tabrakan Aleta begitu kuat membuat mereka berdua langsung terjatuh ke atas lantai.


Faris terjatuh dengan posisi terlentang dan Aleta berada di atasnya. Faris yang di tindih oleh Aleta sedang mencoba menahan sakit di bagian lukanya, karena di saat jatuh tadi, tanpa sengaja tangannya yang terluka terbentur lantai.


Sambil memejamkan matanya, Faris tetap berdiam menunggu Aleta bangun dari atas tubuhnya, tapi setelah menunggu selama beberapa menit Faris jadi merasa bingung juga aneh, karena Aleta tidak bergerak sama sekali.


Serentak Faris langsung merasa hawatir, dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Aleta tadi di kamar sehingga Aleta jadi ketakutan seperti itu. Dengan segera Faris memaksakan diri untuk bangun, dia sudah tidak memperdulikan lukanya yang terasa sangat sakit itu.


Walaupun luka di tangannya terasa sangat sakit, Faris tetap berusaha untuk bangun sambil berusaha membangunkan Aleta, dan karena tidak ada jawaban dari Aleta, membuat Faris semakin hawatir dan takut terjadi apa-apa sama Aleta.


Dengan gerakan cepat Faris bangun dan langsung mengangkat tubuh Aleta untuk di baringkan di atas sofa. Dan setelah Aleta sudah di baringkan di atas sofa tiba-tiba lampu kembali menyala.


Kemarahan, kekecewaan dan rasa mabuk Faris tadi seketika hilang di saat dia melihat Aleta, yang tidak sadarkan diri dengan wajah yang sangat basah dengan air matanya.


Tanpa menunggu lama Faris segera berusaha untuk membangunkan Aleta, dia memanggil-manggil nama Aleta sambil mengusap-ngusap rambut Aleta dengan penuh kasih sayang.


"Aletaa,,! Aleta banguuun,,! Aku sangat menyayangimu. Kata Faris sambil mengusap rambut Aleta dan menatap Aleta dengan tatapan sayangnya.

__ADS_1


__ADS_2