
Boy membawakan kotak obat dan memberikannya kepada Faris, dan dengan segera, Faris langsung membuka kotak obat itu untuk mengobati luka di kening Melda, tapi Melda malah menolak untuk di obati. Melda menolak tangan Faris yang sedang membersihkan darah di keningnya, dan dia langsung duduk sambil berkata.
"Ngga usah di obati Mas,,! Aku ngga mau,,!" Kata Melda.
"Meldaa,, ini darahnya banyak sekali dan harus di obati." Kata Faris sedikit bersabar.
"Tapi aku ngga mau Maas,,! Ini hanya luka kecil, tapi darahnya saja yang banyak,,!" Teriak Melda yang membuat Faris langsung menarik nafas panjang kemudian berkata.
"Apa-apaan kamuu,,? Kenapa kamu ngga mau di obatii,,?" Tanya Faris dengan nada yang sudah mulai tinggi.
"Pokoknya aku ngga mauuu,,! Mereka tidak pernah mau melihat aku terluka apalagi berdarah seperti ini. Jadi aku mau mereka lihat, kalau aku sangat terluka di tinggalkan oleh mereka, atau bila perlu aku akan mati hidup tanpa mereka." Kata Melda sambil menatap tajam ke arah Faris.
Mendengar kata-kata Melda barusan, mata Faris langsung terbelalak, emosinya naik hingga ke ubun-ubun. Dan karena sudah tidak bisa mengendalikan emosi, Faris segera mengangkat tangannya hendak menampar Melda. Tapi untung saja, Reza yang berada tepat di belakang Melda, langsung menahan tangan Faris sambil berkata.
"Ris sabar Ris,,!" Kata Reza yang membuat Faris langsung menurunkan tangannya, dan berdiri kemudian melangkah pergi.
Melihat Faris yang sudah melangkah menuju tangga, membuat Aleta langsung buru-buru melangkah mengejarnya. Di saat Faris mau naik anak tangga pertama, Boy segera menahannya dan berkata.
"Ris,, sebentar lagi kita akan memakamkan jenazah orang-orang yang kita sayangi. Aku harap, kamu bisa mengontrol emosi, Melda seperti itu, karena dia belum bisa terima semua yang baru saja terjadi." Kata Boy sambil menatap Faris yang sudah menunduk ke lantai sambil mengangguk.
Setelah itu Faris segera buru-buru naik ke lanta atas untuk mandi, karena dia juga tadi ikut memandikan jenazah Papanya, Opanya juga Om Refan, dan dia belum sempat membersihkan badannya.
__ADS_1
Aleta pun ikut naik ke lantai atas, karena dia tahu, kalau suaminya saat itu sangat membutuhkan dia. Sedangkan Melda yang masih terus menangis, sudah duduk di sofa ruang keluarga bersama Reza, juga Boy yang sedang mengobati lukanya.
Boy adalah orang yang selalu bisa menasehati, dan menenagkan orang-orang yang berada di sekelilingnya, dalam suasana dan keadaan yang seperti apapun. Walaupun fisiknya lemah seperti wanita, tapi cara berfikirnya sangat bijaksana. Sambil mengobati luka Melda, Boy pun menasihati saudara perempuannya itu dengan kata-kata yang terdengar sangat lembut.
"Meel,, kamu tu harus kuat,,! Tante dan Om tidak pernah mau meninggalkanmu, ataupun melihatmu terluka seperti yang kamu bilang tadi. Tapi ini sudah kehendak Tuhan, dan kita sebagai manusi hanya bisa pasrahkan semua itu. Dan Mas Faris seperti tadi, itu karena dia sangat menyayangimu." Kata-kata Boy yang membuat Melda semakin menangis dan langsung memeluknya.
"Mas Boy,, aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku ini anak tunggal, dan sekarang aku jadi sebatang kara." Kata Melda sambil terisak.
Reza yang berada tepat di hadapan mereka berdua jadi bingung, dengan kata-kata Melda barusan. Karena yang Reza tahu, Melda adalah adik kandungnya Faris, tapi Reza memilih untuk tidak bertanya apa-apa.
"Meel,, kamu tidak boleh berkata seperti itu,,! Kita semua sangat menyayangimu. Tadi kamu dengar kan,,? Apa yang di janjikan Faris oleh orang tua kamu,,? Dia seperti tadi, karena dia sangat menyayangimu, dan dia tidak mau melihat kamu terluka." Kata Boy sambil menghapus air mata Melda dengan tisu.
*********
Sedangkan Faris, dia tidak mau menangis lagi setelah meninggalkan pemakaman. Sebenarnya dia ingin menangis dan berteriak dengan sekencang-kencangnya, tapi dia tidak bisa melakukan semua itu, karena mulai saat itu, dia adalah kekuatan juga pemimpin dalam keluarga Permana, jadi dia tidak ingin terlihat lemah oleh istrinya juga adik-adiknya.
Sampainya di rumah, Faris juga yang lain langsung berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Almira. Kondisi Almira sudah sedikit membaik walaupun dia belum sadarkan diri. Faris dan anggota keluarga yang lain hanya bisa melihat Almira dari balik kaca pintu ruang UGD, karena Almira belum bisa di lihat secara langsung.
Mereka semua berada di rumah sakit sampai sore. Faris memutuskan untuk menginap malam itu di rumah sakit, karena besok pagi Almira akan di pindahkan ke ruang perawatan biasa. Karena melihat keadaan Melda yang tidak terlalu baik, akhirnya Faris meminta Aleta untuk mengantarnya pulang ke rumah.
"Sayang,, kamu pulang ya sama Aleta dan Bang Reza. Biar Mas di rumah sakit sendiri, karena Tante Leni dan Boy juga harus pulang, soalnya besok mereka harus ke kantor." Kata Faris sambil mengusap-usap kepala Melda.
__ADS_1
"Aku temanin Mas aja di sini, aku juga ingin menjaga Almira." Jawab Melda.
"Ngga usah,,! Kamu pulang saja dan istirahat." Kata Faris lagi.
"Kalau gitu aku pulang sendiri aja sama supir, Aleta biar di sini saja temanin Mas." Kata Melda.
"Gini aja,, aku temanin Mas Faris di sini, nanti kamu pulang saja sama Bang Reza." Sambung Aleta.
"Mau kan Baang,,?" Tanya Aleta sambil menatap Reza.
Reza sebenarnya bingung antara mau dan tidak, apalagi dia belum saling kenal dengan Melda. Tapi dia pun tidak bisa menolak, karena tidak ada jalan lain selain mengikuti apa yang di katakan Aleta. Akhirnya Reza hanya tersenyum kepada Aleta dan Faris, yang sedang menatapnya sebagai tanda menyetujui apa yang di katakan Aleta.
Sedangkan Melda yang masih belum bisa berfikir banyak, tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terdiam sambil menatap Reza dengan tatapan datarnya.
Setelah itu, Reza langsung melangkah pergi dan di ikuti Melda. Mereka berdua melangkah menuju parkiran tanpa ada yang bersuara. Melda adalah orang yang sangat cepat dekat dengan orang baru, dan dia juga orang yang tidak pernah bisa diam dan selalu heboh. Tapi karena masalah yang sedang menimpanya, di tambah lagi dengan Reza yang terlihat sangat dingin dan kaku, membuat dia hanya terdiam.
Reza termsuk orang yang sangat dingin dan kaku seperti Faris. Hanya dengan Aleta adik perempuannya itu saja dia selalu mencair. Apalagi Reza itu tidak terlalu suka dekat-dekat dengan wanita yang baru dia kenal, ataupun yang sudah lama dia kenal. Reza termasuk laki-laki yang tidak suka mencari perhatian wanita.
__ADS_1
Sampainya di parkiran rumah sakit, Reza langsung membuka pintu mobil dan masuk, kemudian duduk di balik kemudi tanpa melirik Melda sama sekali. Melda yang melihat sikap Reza, tidak bicara apa-apa tapi dia merasa kurang suka dengan sikap cueknya Reza.