
Pukul 11 siang, Faris yang sudah menyelesaikan urusannya di kantor, langsung menggantikan pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai, kemudian dia langsung berangkat menuju Kampus. Sampainya di Kampus, Faris memarkirkan mobilnya di parkiran Kampus dan segera turun dari mobil.
Di saat Faris mau melangkah pergi meninggalkan parkiran, tiba-tiba ponselnya berdering, dengan segera dia langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, dan ternyata itu panggilan masuk dari Papanya.
("Halo Pa,," Suara Faris setelah menerima panggilan telfon dari Papanya.
("Ris, kamu di mana,,?" Tanya Fahri dari balik telfon.
("Aku di Kampus Pa, ada apa,,?" Tanya Faris panik.
Faris tiba-tiba panik, karena dia takut terjadi apa-apa sama Mamanya, sebab di saat Faris berangkat ke kantor tadi, Mamanya sedang menangis di dalam kamar.
("Tidak ada apa-apaa,, Papa sama Mama hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting, sama kamu dan Aleta,," jawab Fahri yang membuat Faris langsung merasa legah.
("Ooo iya Pa,, aku lihat Aleta dulu,, soalnya aku baru sampai di Kampus, dan sekarang masih di parkiran,," jawab Faris.
("Iya,, Papa sama Mama tunggu yaa,, jangan terlalu lama, karena Papa sama Mama mau ke rumah Oma kamu,," kata Fahri.
("Iya Pa,," jawab Faris.
Selesai berbicara dengan Papanya, Faris memilih untuk langsung menelfon Aleta, karena dia tidak ingin masuk ke dalam Kampus, dan bertemu dengan teman-temannya, sebab kalau bertemu mereka, ujung-ujungnya pasti di ajak ngobrol.
Sedangkan Aleta yang sudah selesai menerima mata kuliah, sedang mengobrol dengan teman-temannya di kantin, mereka membahas tentang tugas kelompok merek, yang akan mulai mereka kerjakan tiga hari lagi, tepatnya hari sabtu.
Dan di saat Aleta sedang asik mengobrol, dengan Melda juga teman-temannya yang lain, tiba-tiba ponsel Aleta berdering, dan dia langsung tersenyum di saat melihan layar ponselnya, ekspresinya itu membuat Melda yang tidak sengaja melihatnya, merasa bingung dan langsung bertanya.
"Ada apa Al,,?" Tanya Melda.
"Mas Faris nelfon,," jawab Aleta.
"Ya udah angkat dulu,,!" Kata Melda.
Tanpa menunggu lama Aleta segera mengangkat telfonnya.
("Halo Mas,," sapa Aleta setelah telfonnya tersambung dengan Faris.
("Mata kuliah kamu masih ada ngga,,?" Tanya Faris.
__ADS_1
("Udah selesai Mas,, memangnya kenapa,,?" Tanya Aleta.
("Kalau gitu kita pulang sekarang aja,, soalnya ada yang mau Mama sama Papa sampaikan buat kita berdua." Kata Faris.
("Sekarang aku sudah di parkiran Kampus,, cepat ke sini,,!" Tambah Faris.
Dengan segera, Aleta langsung berpamitan kepada Melda, juga teman-temannya yang lain, dan setelah itu, dia langsung bergegas melangkah menuju parkiran.
Sampainya di parkiran, Aleta segera masuk ke dalam mobil, karena Faris sudah menunggunya di dalam mobil. Setelah Aleta sudah duduk di sampingnya, Faris langsung menjalankan mobilnya dan melaju ke Jalan Raya.
Di dalam perjalanan, Aleta yang masih bingung juga penasaran, dengan apa yang mau di sampaikan ke dua mertunya, langsung bertanya kepada suaminya yang sedang fokus menyetir.
"Maas,, memangnya apa yang mau Papa sama Mama sampaikan,,?" Tanya Aleta sambil menatap Faris dari arah samping.
"Aku juga ngga tahu pasti, tapi tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor, aku sempat bilang sama Mama dan Papa, kalau aku mau beli rumah untuk kita berdua tempati,," jawab Faris.
"Trus Mama sama Papa jawab apa,,?" Tanya Aleta.
"Mereka ngga mau, terutama Mama, dia menangis karena dia ngga mau aku jauh darinya,," jawab Faris.
"Kalau gitu, kita ngga usah pindah aja Mas, aku kasiahan sama Mama,," kata Aleta.
Tidak memakan waktu lama, mereka pun sampai di depan rumah, selesai memarkirkan mobilnya, Faris juga Aleta langsung turun, dan melangkah memasuki rumah, kemudian duduk bergabung dengan Papa Fahri dan Mama Alira, yang sudah menunggu mereka di ruang keluarga sejak tadi.
"Ada apa Pa,,?" Tanya Faris setelah dia dan Aleta, sudah duduk di hadapan ke dua Orang Tuanya.
"Gini Ris, Papa sama Mama sudah menemukan rumah untuk kalian,," jawab Fahri yang membuat Aleta dan Faris langsung saling menatap.
"Jadi Papa sama Mama setuju, kalau aku dan Aleta pindah rumah,,?" Tanya Faris bingung.
"Iya,, karena itu kan, yang kamu mau,,? Sejak kecil, apa yang kamu mau, tidak pernah Mama sama Papa ngga nurutin,," jawa Alira.
"Iya Ma makasih, tapi di mana Ma rumahnya,,?" Tanya Faris.
"Tu di samping,,!" Jawab Alira.
"Haaaaa,, di samping,,?" Tanya Faris kaget sambil menatap Aleta, yang juga sedang menatapnya tidak kalah kaget.
__ADS_1
Faris dan Aleta sangat terkejut, karena mereka fikir, rumah yang di maksud Mamanya itu, rumah Om Refa dan Tante Mey.
"Memangnya Om dan Tante, juga Melda mau pindah ke mana Ma,,?" Tanya Aleta bingung.
"Iya Ma, mereka mau pindah ke mana,,? Ko mendadak,,?" Sambung Faris.
"Bukan rumah Om kamu,, tapi rumahnya Om Daniel dan Tante Marta di samping kita,," jawab Fahri.
"Oooo, aku fikir rumah Om Refan,," kata Faris.
"Aku juga fikirnya gitu,," sambung Aleta.
"Lagian Om Refan sama Tante Mey mau pindah kemana,,? Kalau pun mereka ada niat mau pindah, Mama akan menghalanginya,," kata Aleta.
"Kenapa memangnya Ma,,?" Tanya Faris bingung.
"Ya karena Mama ngga mau jauh-jauh dari mereka,," jawab Alira.
Mendengar perkataan Alira, Faris, Aleta juga Papa Fahri langsung tersenyum. Fahri sebagai suami, sangat bangga mempunyai istri seperti Alira, karena Alira tidak hanya mencintainya saja, tapi Alira juga sangat menyayangi seluruh keluarganya, seperti dia menyayangi keluarganya sendiri.
"Memangnya Om Daniel dan keluarganya mau kemana Pa,,?" Tanya Faris.
"Mereka mau pindah ke london,, dan lusa mereka sudah berangkat,," jawab Fahri.
"Bagus kalau di situ, biar dekat sama rumah Papa juga Om Refan,," sambung Aleta.
"Iya sayang,, soalnya Mama tu ngga bisa jauh-jauh dari kalian, apalagi Almira, dia pasti yang lebih ngga mau jauh dari kalian berdua,," Kata Alira.
"Nanti besok, Papa kamu akan transfer uang rumahnya ke rekening Om Daniel, dan setelah mereka berangkat ke London, baru kalin pindah ke rumah mereka,," tambah Alira.
"Ngga usah Ma, biar saja nanti aku yang transfer pake
uang aku sendiri, soalnya kalau Papa yang bayar, berarti itu rumah Papa dong, bukan rumah aku,," kata Faris.
"Ya udah terserah kamu saja,," sambung Fahri.
Tanpa menunggu lama, Faris segera meminta nomor rekening Om Daniel, dan langsung transfer uang harga rumah, yang tidak kalah mewah dengan rumah Papanya itu melalui ponselnya, sedangkan Aleta yang hanya terdiam, merasa sedikit cemas, karena dia berfikir, kalau mereka sudah tinggal sendiri, berarti Faris akan lebih leluasa untuk melakuan, apapun padanya di waktu manapun.
__ADS_1
Tapi Aleta kembali berfikir, kalau dia harus selalu siap
untuk melayani suaminya itu, apalagi itu adalah sesuatu kewajiban dia sebagai seorang istri, yang harus dia laksanakan dengan ikhlas.