
Sang Surya yang akan meredup di sore itu, menciptakan suasana yang begitu sepi. Begitupun dengan hati Melda yang sedang termenung di depan jendela kamarnya, dengan tatapan yang begitu kosong.
Melda termenung memikirkan nasibnya ke depan, tanpa kedua orang tua yang begitu mengasihinya. Rasa khawatir akan masa depannya, tiba-tiba datang menyelimuti hati dan fikirannya. Ketakutan hidup tanpa orang yang dia sayangi seketika jadi beban fikirannya sore itu.
Kedua malaikat nya yang tak bersayap, sudah terbang menuju tempat yang dia sendiri tidak bisa melihatnya. Rasa rindu di dalam hatinya semakin hari semakin membuatnya tersiksa. Kepiluan hatinya di sore itu, semakin sempurna dengan menetesnya kristal bening di wajah cantiknya.
Melda menangis tersedu-sedu di depan jendela kamar, sambil memandangi suasana yang senyap di luar sana. Dalam hatinya bertanya-tanya.
Sampai kapan dia harus tersiksa seperti itu?
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Melda saat itu, hanya air mata yang bisa menjelaskan rasa pilu yang sedang menyelimuti hatinya. Kesedihan hatinya akan kepergian orang tuanya, yang tidak pernah sirna dari dalam ingatannya, semakin parah setelah menyadari perasaan cinta mulai tumbuh di dalam hatinya, kepada sosok beku yang setiap hari ada bersamanya saat itu.
Selain merindukan orang tuanya, Melda juga merasa batapa menyedihkan dirinya, yang merasakan cinta pertama kepada laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya. Melda sadar kalau dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Reza, yang sama sekali tidak mencintainya.
Betapa menyedihkannya di saat cinta pertama seorang wanita, bertepuk sebelah tangan.
Jarum jam berputar dengan begitu cepatnya, Melda yang masih saja melamun, semakin merasa nyaman di depan jendela tanpa berfikir, kalau sinar bulan sudah menampakan dirinya. Tapi tiba-tiba dia di kagetkan dengan suara Tante Mawar, yang memanggil namanya dari arah pintu kamar.
"Melda,, Meldaa." Suara wanita yang baik hati itu memanggil nama Melda dengan begitu lembut, numun menyadarkan Melda dari lamunan panjangnya sejak sore tadi.
__ADS_1
"Iya Tante." Melda menjawab setelah menghapus air matanya.
"Kamu sudah mandi ya sayang? Soalnya sebentar lagi ada yang mau datang ke sini." Tante Mawar kembali berkata-kata, yang membuat raut wajah Melda tiba-tiba berubah.
Kerutan di kening Melda, menandakan betapa dia tidak suka, dengan apa yang baru saja di katakan oleh pemilik rumah itu.
"Aku sudah mandi sejak sore tadi ko Tante." Jawab Melda dengan raut wajah yang terlihat tidak bersemangat.
"Ya sudah, kalau begitu jangan lupa berdandan, biar Reza tidak berpaling kepada yang lain." Kata-kata Tante Mawar yang membuat Melda jadi bingung.
Melda merasa seperti Tante Mawar mengetahui perasaannya saat itu.
Bagaimana rasanya di saat perasaan cintamu yang tidak terbalas, di ketahui orang lain?
Hanya senyuman malu-malu yang bisa Melda tampakan dari wajah cantiknya, sebagai jawaban kalau apa yang di katakan orang tua itu, adalah kenyataan yang sedang dia rasakan saat itu. Wanita yang baik hati itu, melangkah menghampirinya dan mengusap-usap rambut indahnya, denagan mengeluarkan kata-kata yang bijak sebagai orang yang lebih dewasa.
"Tidak usah khawatir! Cita itu bisa datang karena adanya kebersamaan. Dan laki-laki yang memiliki sifat yang dingin, sesungguhnya dia punya segudang kasih sayang juga kesetian yang besar." Kata-kata bijak dari Tante Mawar, yang membuat Melda langsung memeluknya erat.
"Makasih Tante. Tapi jangan Tante memberitahukan semua ini buat Bang Reza! Aku malu kalau dia mengetahui perasaanku." Melda berkata-kata dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Tante tidak akan melakukan itu." Jawab Tante Mawar.
Rasa malu Dan bahagia bercampur menjadi satu, di dalam hati Melda karena perasaannya sendiri.
Setelah Tante Mawar pergi meninggalkan kamarnya, Melda pun segera bergegas untuk berdandan. Dia ingin terlihat cantik malam itu, biar Reza tidak berpaling kepada wanita-wanita yang akan datang ke rumah itu.
Semangat Melda untuk mendapatkan Reza, mampuh membuatnya melupakan kesedihannya selama beberapa hari ini.
Melda yang sedang berada di depan cermin besar, merasa begitu bangga dengan paras yang dia miliki. Dia sangat bersukur dengan kesempurnaan fisik yang Tuhan berikan padanya. Karena sesungguhnya kecantikan adalah hal yang paling penting, bagi para wanita untuk bisa memikat hati para lelaki.
Selesai berdandan, Melda pun langsung memakai salah satu pakaian yang di belikan Reza untuknya. Kecantikannya semakin terlihat sempurna dengan kaos putih dan rok mini sebatas paha, yang begitu seksi di tubuhnya. Melihat penampilannya kembali di cermin, membuat senyum manisnya pun terukir di wajah cantiknya.
Reza si kutub Utara yang tidak pernah sibuk, dengan urusan yang menurutnya tidak penting, sama sekali tidak mempersiapkan apapun. Dia hanya mengenakan pakaian yang begitu santai setelah selesai mandi, dan memilih untuk menonton siaran TV di ruang depan, bersama anaknya Tante Mawar.
Sedangkan Reno yang sejak tadi belum keluar dari dalam kamar, sedang mempersiapkan penampilannya untuk tujuan yang sudah dia rencanakan. Demi mendapatkan hati Teri, Reno rela pergi ke pasar sore tadi untuk membelikan segala perlengkapannya.
Begitupun dengan beberapa wanita yang akan datang ke rumah Tante Mawar, terutama Ririn. Dia memaksimalkan persiapannya dengan begitu sempurna menurutnya, biar tidak terkalahkan oleh yang lain setelah berada di depan Reza. Dia melakukan semua itu, tanpa memperhitungkan wanita kota yang ada di rumah Tante Mawar.
__ADS_1
Beberapa wanita kampung itu sangat percaya diri dengan penampilan mereka, tanpa tahu kalau ada manusia berparas bidadari, yang sedang menanti kedatangan mereka.