
Faris menyerahkan Bram kepada para Polisi yang sudah berada di situ. Tapi sebelum Bram di bawa, Faris minta kepada para Polisi untuk menunjukan bukti-bukti, kejahatan Fina untuk Bram. Faris melakukan itu, karena dia ingin Bram melihat bukti kejahatan, wanita yang dia cintai itu.
Polisi pun mengikuti apa yang Faris minta. Setelah melihat semua bukti yang di tunjukan Polisi, Bram langsung menyesali kebodohannya sendiri, yang di bodohi juga di manfaatkan oleh wanita yang sudah terlanjur dia cintai, dengan sepenuh hati.
Dan karena cintanya yang begitu besar, sampai-sampai dia tega menyakiti sahabatnya sendiri. Bram sangat merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Faris. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Bram menatap Faris sambil berkata.
"Ris,, tolong maafkan aku,,! Aku sangat menyesal atas semuanya. Aku harap kamu tidak membenciku dan mau menerimaku sebagai sahabatmu lagi." Kata Bram dengan berlinang air mata.
Faris hanya menunduk tanpa menjawab, ataupun menatap wajah Bram sama sekali. Faris seperti itu, karena dia sangat kecewa dengan Bram, yang sudah tega melukai wanitanya. Tapi tiba-tiba suara Boy membuat Faris kaget dan langsung mengangkat mukanya.
"Fariis,,! Aleta pingsan,,!" Teriak Boy yang membuat Faris juga semua yang ada di situ, langsung kaget dan menatap kearah Aleta, yang sudah tidak sadarkan diri.
Tanpa menunggu lama, Faris, Boy dan beberapa penghuni apartemen, langsung bergegas melarikan Aleta ke rumah sakit, menggunakan ambulans yang sudah di telfon oleh salah satu penghuni apartemen, sejak setengah jam yang lalu. Sedangkan Bram juga langsung di bawa oleh Polisi.
Sampainya di rumah sakit, Aleta langsung di larikan ke ruang UGD. Faris sangat khawatir juga panik dengan keadaan istrinya, setelah Dr mengatakan kalau Aleta kehilangan banyak darah.
Kata Dr, Aleta membutuhkan dara A secepatnya. Sedangkan persediaan darah A di rumah sakit lagi kosong. Faris benar-benar bingung, apalagi golongan darahnya tidak sama dengan golongan darah Aleta. Faris memiliki golongan darah O.
Beberapa orang penghuni apartemen yang ikut mengantarkan Aleta ke rumah sakit juga tidak bisa membantu, karena golongan darah mereka juga berbeda dengan golongan darah Aleta, begitupun dengan Boy. Tapi ternyata Tuhan masih menyayangi Aleta.
Ternyata Aleta sudah mengabarkan Reza, sejak dia mau berangkat ke Amerika. Dan Reza pun langsung menyusulnya, karena Aleta katakan lewat pesan yang dia kirimkan, kalau dia ingin sekali bertemu dengannya.
__ADS_1
Reza yang sudah tiba di Amerika sejak siang tadi, memilih untuk beristirahat di apartemen temannya yang juga dari Malaysia. Dan dia baru sempat ke apartemen Aleta malam itu. Karena sejak tadi Reza menghubungi Aleta maupun Faris, tidak ada yang menjawabnya.
Di saat mereka semua sedang panik mencari pendonor darah untuk Aleta, tiba-tiba Reza muncul dengan nafas yang ngos-ngosan sambil berkata.
"Fariis,, bagaimana keadaan adikku,,?" Suara Reza yang membuat Faris terkejut.
"Rezaa,,! Kamu ko bisa ada di sini,,?" Tanya Faris bungung.
"Nanti aku ceritain. Tapi jawab dulu,,! Bagaimana keadaan adikku,?" Tanya Reza dengan tampang yang sangat panik.
"Dia kehilangan banyak darah. Dan dia membutuhkan donor secepatnya, karena persediaan darah A di sini tidak ada." Jawab Faris dengan tampang yang penuh kekhawatiran.
Reza adalah orang yang sangat menyayangi Aleta. Faris memang mencintainya, tapi kasih sayang Faris, belum tentu melebihi kasih sayang Reza kepada saudara perempuannya itu. Karena selama kepergian orang tua Aleta, Reza yang menjadi penggati orang tuanya. Hidup Reza hanya untuk Aleta semenjak Aleta menjadi yatim piatu. Sampai-sampai Reza tidak punya waktu untuk bermain, ataupun pacaran seperti teman-temannya yang lain.
Sejak Reza masih berada di bangku SMP, dan Aleta di bangku SD. Reza sudah mulai bekerja di sebuah tokoh setiap pulang sekolah. Walaupun dia tidak mampu untuk bekerja, karena fisiknya juga belum terlalu kuat, tapi dia paksakan untuk bisa. Semua itu dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan Aleta.
Apalagi saat itu, Papa Reza yang tidak lain adalah Om Aleta, tidak memperdulikan mereka. Akhirnya, Reza berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan Aleta, walaupun kebutuhannya sendiri tidak terpenuhi. Reza melakukan semua itu, karena dia terlalu menyayangi Aleta, dan dia tidak ingin Aleta merasa bersedih dan merasa kekurangan.
Tanpa menunggu lama, Reza langsung mendonorkan darah untuk Aleta. Dan setelah itu, dia pun terbaring lemas di atas tempat tidur yang bersebelahan dengan Aleta. Reza merasa lemas, mungkin karena dia baru melakukan perjalanan jauh, juga kurang tidur.
Pukul 2:30 malam, Faris mengajak Boy untuk keluar membeli makanan di restoran, yang terletak di depan RS itu. Sedangkan Aleta masih belum sadarkan diri, karena tadi dia di beri suntikan oleh Dr biar dia tertidur sampai esok harinya. Dan Reza pun masih tertidur.
__ADS_1
Selesai membeli makanan, Faris dan Boy kembali ke kamar rawat Aleta juga Reza. Sampainya di depan pintu, langkah Faris dan Boy langsung tertahan, di saat melihat pemandangan haru di depan mereka. Faris dan Boy melihat Reza sudah terduduk di samping tempat tidur Aleta. Reza mengusap-usap kepala Aleta dan mencium kening Aleta sambil berkata.
"Aal,, maafkan Abang yang selama ini tidak pernah menemuimu. Dan kita bertemu di saat keadaanmu seperti ini. Untung Abang cepat datang dan mendonorkan darah untukmu, kalau tidak Abang juga tidak tahu apa yang terjadi padamu." Kata Reza sambil mengusap-usap kepala Aleta dengan nada suara yang bergetar.
"Dan kalau sampai sesuatu hal buruk terjadi padamu, Abang bersumpah akan mengakhiri hidup Abang di depanmu. Karena Abang tidak akan pernah lupa dengan janji kita, untuk sehidup semati bersama." Tambah Reza dengan berlinang air mata.
Melihat pemandangan itu, dan mendengar kata-kata Reza yang begitu tulus, membuat Faris merasa kalah dengan saudara iparnya itu. Dia tidak menyangka, begitu besarnya kasih sayang Reza kepada istrinya. Sedangkan Boy sudah terisak di samping Faris, karena merasa haru dengan apa yang dia lihat di hadapannya.
Sebelum masuk, Faris menarik Boy menjauh dari arah pintu, dan berpura-pura mengobrol dengan Boy sambil kembali melangkah menuju pintu. Dan Reza yang mendengar suara mereka, langsung buru-buru menghapus air matanya.
"Kamu udah bangun,,?" Tanya Faris pura-pura tidak tahu apa-apa setelah memasuki ruangan.
"Iya,," jawab Reza dengan suara seraknya.
"Bagaimana keadanmu,,? Apa kamu sudah merasa baik,,?" Tanya Faris penuh perhatian.
"Iya,, aku merasa sudah lebih baik,," jawab Reza.
"Lebih baik Bang Reza makan dulu,,! Biar tenaganya pulih,," sambung Boy.
Reza pun mengangguk sambil tersenyum menanggapi perkataan Boy. Dengan segera, Boy langsung menyiapkan makanan untuk mereka bertiga. Dan selesai makan, Faris langsung mengajak Reza untuk mengobrol mengenai kedatangannya, yang tiba-tiba. Akhirnya Reza pun menceritakan semuanya.
__ADS_1