CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 96. Penculikan


__ADS_3

Setelah selesai menjelaskan semuanya, Reza langsung bergegas keluar dari kamar Melda. Sedangkan Melda yang masih berada di dalam kamar, hanya terdiam di tepi ranjang, sambil memikirkan apa yang di katakan oleh Reza barusan.


Setelah beberapa menit berfikir, Melda juga merasa ada yang aneh dengan kecelakaan yang menimpa keluarganya, karena di antara mereka ber enam, yang meninggal dalam kecelakaan itu, hanya Papa Fahri dan Mama Alira yang teebakar sampai tidak bisa untuk di kenali sama sekali.


Setelah memikirkan semuanya, dan merasa ada keanehan dalam kecelakaan itu, Melda tiba-tiba kembali sedih, karena dia berfikir, kemungkinan besar kedua orang tua Faris masih hidup, sebab wajah mereka tidak bisa di kenali. Sedangkan kedua orang tuanya, dengan jelas dia melihat zenaja mereka dengan mata kepalanya sendiri.


"Hiks,,,hiks,,,hiks,,, Ya Tuhaa,, aku tidak tahu harus bahagia atau sedih dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi nanti. Tapi aku berharap, semoga Tante dan Om aku masih hidup, biar kita memiliki sosok orang tua. Walaupun mereka bukan orang tua kandungku, tapi mereka sangat menyayangi aku seperti anak kandung mereka." Melda berkata-kata dengan berlinang air mata.


Tanpa Melda sadari, Reza sedang mendengar semuanya dari balik pintu kamarnya. Reza tidak bermakaud menguping apa yang Melda katakan, tapi tadi di saat dia keluar dari kamarnya menuju lift, yang terletak di samping tangga, dia mendengar suara tangisan Melda, yang membuat langkah kakinya seketika tertahan, tepat di depan pintu kamar Melda, dan akhirnya dia mendengar semuanya.


Reza jadi merasa kasihan dengan keadaan Melda. Karena Reza juga berfikir sama dengan Melda, kalau orang tua Faris kemungkinan besar masih hidup, sedangkan Melda, dia sudah tidak punya harapan apa-apa, sebab dia sendiri sudah menyaksikan keadaan kedua orang tuanya, yang terbujur kaku di hadapannya.


"Kasihan sekali nasibnya, menjadi anak tunggal, dan sekarang harus hidup tanpa kedua orang tua. Tapi untung saja dia alami ini di saat sudah dewasa." Kata Reza dalam hatinya sambil melangkah menuju lift.


Reza adalah orang yang sangat mencintai olah raga, begitupun dengan Keluarga Permana. Jadi mereka lebih memilih menggunakan tangga. Tapi karena paha Reza terasa sakit dari semalam, akibat Melda jatuh menimpanya, sehingga membuat dia memilih menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah.


Reza memilih untuk menunggu kedatangan Faris dan yang lainnya di teras depan. Sampainya di teras, Reza sangat terkejut juga bingung, karena di depan rumah besar itu, sudah ada banyak pria berotot yang berdiri memenuhi pagar rumah. Dengan tampang kebingungan Reza kemudian mendekati salah seorang dari mereka, dan bertanya dengan nada yang sangat pelan.


"Permisi Baang,," sapa Reza.


"Iya Pak,,!" Jawab laki-laki berotot yang di sapa oleh Reza.


"Ngapain kalian di sini,,?" Tanya Reza bingung.


"Kita sedang menunggu Pak Faris yang sedang dalam perjalanan pulang." Jawab laki-laki itu.


"Apa kalian ini Polisi,,?" Tanya Reza lagi.

__ADS_1


"Tidak Pak,,! Tapi kita semua terlatih lebih dari Polisi. Dan kita bekerja untuk Keluarga Permana sejak dulu." Jawab laki-laki berotot itu.


"OOO jadi kalian di tugaskan untuk menjaga keselamatan keluarga Faris,,?" Tanya Reza penuh kebingungan.


"Bukan hanya menjaga keselamatan mereka, tapi kami juga siap untuk membunuh bila ada yang berani berbuat nekad." Jawab laki-laki itu yang membuat Reza tidak bisa lagi untuk berkata-kata.


Setelah itu Reza kembali melangkah, dan duduk di kursi yang ada di teras rumah besar itu. Dalam diam Reza sangat mengagumi Keluarga Permana. Dan setelah mengetahui kekuatan Keluarga Permana, Reza jadi ragu kalau kecelakaan yang menimpa keluarga Faris itu perbuatan seseorang. Karena menurut dia, mana ada orang yang berani main-main dengan keluarga mereka.


Tidak berapa lama dari situ, datang empat buah mobil memasuki halaman rumah, dan dengan buru-buru, beberapa orang suruhan Faris langsung berlari membuka pintu mobil kiri dan kanan, sedangkan yang lainnya, sudah siap dengan pistol di tangan mereka masing-masing.


Setelah pintu mobil terbuka, Aleta dan Faris langsung keluar dengan Faris menggendong Almira. Kemudian mereka segera melangkah masuk ke dalam rumah dengan penjagaan ketat di samping mereka. Sampainya di dalam rumah, Faris langsung membawa Almira ke dalam kamar Oma Rita, yang berada di lantai bawah tepat di depan ruang keluarga.


Faris memilih membawa Aleta ke kamar Omanya yang berada di lantai bawah, karena menurut dia, Almira lebih aman berada di lantai bawah dari pada berada di lantai atas.


Setelah di baringkan, Dr pribadi yang di bawa Faris dari rumah sakit untuk merawat Almira, segera menjalankan tugasnya, memasang infus pada Almira.


"Ini minumnya Deen, Noon." Kata Bi Susi yang baru datang dengan membawa beberapa minuman jus di tangannya.


"Makasih Bi." Jawab Aleta.


"Mana Melda Bi,,? Apa dia sudah makan,,?" Tanya Faris pada Bi Susi.


"Tadi ada di kamarnya." Sambung Reza.


"Tolong panggilin dia Bi,,!" Kata Faris.


"Baik Den." Jawab Bi Susi dan segera melangkah pergi menuju lantai atas.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Bi Susi kembali sambil berlari dengan nafas ngos-ngosan, kemudian berkata.


"Deen,, Non Meldanya ngga ada di kamar, dan di kamarnya ada bercak-bercak darah,,!" Kata Bi Susi dengan nada yang bergetar ketakutan.


"Apaaaa,,?" Teriak Faris dan langsung berlari menuju lantai atas, dan di ikuti oleh Aleta, Reza dan beberapa orang anak buahnya.


Faris berlari sambil mengeluarkan pistol dari dalam jas yang dia kenakan. Raut wajahnya sangat menakutkan, dia sudah seperti predator yang siap memangsa. Aleta yang melihat ekspresi suaminya jadi takut, karena dia tahu, kalau ekspresi suaminya sudah seperti itu, berarti kemarahannya sudah tidak bisa untuk di kendalikan lagi.


Faris dengan buru-buru membuka pintu kamar Melda, dan apa yang di katakan Bi Susi memang benar. Melda sudah tidak ada di dalam kamarnya, dan di lantai kamar Melda, ada bercak darah. Faris yang melihat semua itu langsung meremas dengan kencang pistol di tangannya sambil berkata.


"Di mana pun kalian sembunyi, aku akan menemukan kalian dan akan merobek perut kalian dengan tanganku sendiri." Kata Faris dengan tampang menakutkan.


Aleta yang sudah mengenal sifat suaminya, tidak bisa berkata apa-apa, karena dengan keadaan seperti ini, Faris tidak bisa untuk di tenangkan. Selain itu, Aleta juga tidak ingin melarang suaminya, untuk menghabisi orang-orang yang sudah tega melakukan semua ini pada keluarga mereka, karena Aleta sangat tidak terima keluarga mereka yang tidak punya kesalahan pada siapapun, di perlakukan dengan begitu kejam.


Reza yang juga terkejut dengan semua yang baru saja terjadi, ikut panik mencari keberadaan Melda. Reza berlari ke arah jendela kamar Melda, dan di sana dia melihat jendela kamar Melda terbuka, dan ada tali yang tergantung di sana.


Reza yakin mereka sudah membius Melda dan membawanya turun lewat jendela kamarnya, karena kalau tidak di bius, tidak mungkin mereka bisa turun dengannya melewati jendela. Setelah itu, Reza langsung kembali menghampiri Faris kemudian berkata.


"Ris,, ada tali di jendela kamar Melda." Kata Reza setelah berada di dekat Faris.


"Periksa cctv,,!" Kata Faris kepada Pak Amin, supir pribadi Opanya.


"Sudah saya periksa Den,, tapi cctv di kamar Non Melda tidak bisa di lihat." Kata Pak Amin.


Mendengar perkataan Pak Amin, Faris langsung menatap ke arah cctv yang berada di sudut kamar Melda. Melihat cctv yang sudah hancur, membuat Faris semakin emosi sampai matanya memerah seperti vampir.


Melihat keadaan suaminya, Aleta dengan segera langsung mendekatinya, dan mengusap-usap punggung suaminya sambil meneteskan air mata. Aleta sangat kasihan melihat suaminya berada dalam keadaan serumit ini. Tapi Aleta juga yakin, kalau suaminya itu selalu bisa mengatasi setiap masalah yang dia hadapi.

__ADS_1


__ADS_2