
Aleta sangat bahagia karena sudah bertemu Reza, setelah sekian lama mereka berpisah. Tapi di sisi lain dia pun merasa sedih, karena beberapa hari lagi mereka sudah berpisah. Reza akan kembali pulang ke Malaysia, sedangkan dia dan Faris pulang ke Indonesia.
Aleta sebenarnya tidak ingin berpisah lagi dengan Reza, dia ingin hidup bersama-sama dengan Reza seperti dulu lagi. Tapi Aleta juga sadar, kalau semua tidak bisa seperti dulu lagi. Karena sekarang, dia tidak hanya punya Abang, tapi dia juga punya suami. Sedangkan Reza juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sebagai seorang menejer.
Aleta hanya duduk terdiam sambil menatap Reza, yang sedang asyik mengobrol dengan Faris juga Boy. Aleta sangat merasa kasihan dengan Reza, karena dia tahu kalau di Malaysia, Reza pasti hidup sendiri.Sebab Reza tidak pernah bisa hidup serumah dengan Mama tirinya, juga adik-adik tirinya.
Di saat Aleta sedang asyik menatap mereka, yang sedang mengobrol tempat di samping tempat tidurnya, tiba-tiba dia merasa pusing. Karena merasa pusing, Aleta langsung menutup mata dengan sebelah tangan di kepalanya.
Faris yang sedang mengobrol dengan Reza dan Boy, tidak sengaja melihat ekspresi istrinya, dan dia langsung merasa cemas. Tanpa menunggu lama, Faris dengan segera mendekati Aleta, dan bertanya dengan nada yang terdengar sedikit khawatir.
"Kamu kenapa sayang,,?" Tanya Faris begitu cemas.
"Kepalaku tiba-tiba terasa pusing Mas,," jawab Aleta yang membuat mereka bertiga panik.
Mendengar jawaban Aleta, Reza dengan segera langsung berlari ke luar, menuju ruangan Dr untuk memanggil Dr yang menangani Aleta.
Tidak lama kemudian, Reza pun datang dengan Dr yang menangani Aleta. Dr itu pun langsung memeriksa keadaan Aleta. Sedangkan Faris, Reza dan Boy berdiri mengelilingi tempat tidur Aleta, sambil menatap Dr dan Aleta bergantian tanpa berkata apa-apa.
Hanya beberapa menit, Dr itu pun selesai memeriksa Aleta. Tapi Faris, Reza, juga Boy merasa bingung dengan ekspresi Dr itu. Mereka bingung karena Dr itu langsung tersenyum, setelah selesai memeriksa Aleta. Tanpa menunggu lama, Reja yang tidak kalah cemas dengan Faris langsung bertanya.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok,,?" Tanya Reza dengan begitu cemas.
"Ngga ada apa-apa Pak,, Ibu Aleta merasa pusing karena dia sedang mengandung." Jawab Dr itu, yang membuat Faris, Reza, dan Boy langsung terkejut dengan mata yang terbelalak.
__ADS_1
Di antara mereka bertiga, yang paling terkejut adalah Faris. Dia menatap Aleta dengan mata yang sudah berkaca-kaca, setelah mendengar apa yang baru di katakan Dr yang memeriksa Aleta barusan. Tanpa menunggu lama, Faris langsung memeluk Aleta dengan bercucuran air mata.
Faris sangat bahagia dengan apa yang baru saja dia dengar, sampai-sampai dia yang tidak mudah meneteskan air mata, langsung meneteskan air mata saking bahagianya. Begitupun dengan Aleta, dia pun langsung menangis mendengar kabar bahagia itu. Aleta membalas pelukan suaminya dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Reza, Boy juga Dr yang baru selesai memeriksa Aleta, ikut terharu melihat pemandangan yang sedang berlangsung di depan mereka. Reza dan Boy juga ikut berkaca-kaca karena merasa bahagia dengan kabar kehamilan Aleta.
Walaupun wajah Aleta dan Faris di penuhi air mata, tapi kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka tetap terlihat, terutama Faris. Di antara mereka berdua, Faris yang sangat menginginkan anak. Dan kehamilan Aleta adalah sesuatu hal, yang dia impikan selama ini.
Faris tidak menginginkan apa pun, karena dia sudah memiliki segalanya. Faris hanya menginginkan satu hal, yaitu kehamilan Aleta.
Dan setelah mendengar apa yang di katakan Dr tadi, dia merasa tidak ada orang sebahagia dirinya saat itu. Dengan penuh kasih sayang, Faris mencium kening Aleta.
Setelah Faris dan Aleta selesai mencurahkan kebahagiaan mereka satu sama lain, Reza langsung mendekati Aleta kemudian berkata.
"Aal,, selamat ya atas kehamilanmu. Abang turut bahagia melihat kamu bahagia." Kata Reza sambil memeluk Aleta.
"Iya Bang,, aku akan menjadi seorang ibu, dan Abang akan jadi Om." Kata Aleta sambil membalas pelukan Reza.
Setelah mendengar kehamilan Aleta, Faris sudah tidak ingin meninggalkan Aleta walaupun hanya sebentar. Malam itu, Faris menyuruh Reza untuk menginap di apartemennya. Sedangkan Boy, Faris menyuruh dia untuk pulang ke hotel tempat dia menginap. Sedangkan Faris memutuskan untuk menemani Aleta di rumah sakit.
Faris ingin mengabari orang tuanya, tentang kabar kehamilan Aleta juga musibah yang menimpanya. Tapi Aleta melarangnya, dengan alasan, Aleta tidak ingin membuat mereka di Indonesia, merasa cemas dengan keadaannya. Dan soal kehamilannya, Aleta tidak ingin Faris memberitahukan mereka, karena dia mau memberikan kejutan kepada keluarga besar Faris.
__ADS_1
Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya Aleta pun di izinkan untuk pulang, karena keadaannya sudah lebih baik walupun lukanya masih belum sembuh total. Pukul 8 malam waktu Amerika, Aleta, Faris, Reza juga Boy yang juga menginap di apartemen Faris, memilih untuk duduk di ruang tamu setelah selesai makan malam.
Mereka mengobrol tentang segala hal, termasuk kehamilan Aleta. Wajah mereka semua terlihat sangat bahagia, di saat membahas tentang Faris dan Aleta yang akan menjadi orang tua, dan Reza juga Boy yang akan menjadi Om.
"Ris,, beberapa bulan lagi kamu akan menjadi Ayah, sedangkan Aleta akan menjadi seorang Ibu." Kata Boy dengan gaya gemulainya.
"Iya,, dan kamu juga Bang Reza akan menjadi Om." Sambung Aleta yang membuat Boy jadi heboh.
"Iya benar-benar,,! Aal,, nanti kalau anakmu sudah lahir, aku siap ya kalau kamu mau nitipin dia sama aku. Karna kamu kan harus kuliah,," kata Boy sambil menatap Aleta sambil tersenyum.
"Apa-apaan kamu Boy,, memangnya udah ngga ada orang untuk menjaganya,,? Sampai aku harus memilih kamu untuk menjaganya,,?" Kata Faris dengan tampang dinginnya.
Mendengar perkataan Faris, membuat Boy langsung kesal. Boy menatap Faris dengan tatapan datarnya, sambil menaikan bibirnya. Boy si gemulai itu memang sangat suka juga senang dengan anak kecil, tapi Faris dan Aleta tidak mungkin menitipkan anak mereka kepadanya.
Faris yang melihat ekspresi Boy, langsung menatap ponsel di tangannya, dia tidak perduli dengan Boy yang sudah mulai kesal padanya. Sedangkan Aleta dan Reza hanya tersenyum melihat ekspresi Boy. Karena tidak ingin membuat Boy kecewa, Aleta yang masih terus tersenyum langsung memilih untuk membuka suara.
"Gimana kamu mau jaga dede bayi,,? Kamu kan harus kerja,," kata Aleta yang membuat Boy kembali bersemangat.
"Aku kan bisa membawanya ke kantor." Kata Boy dengan penuh semangat.
"Apa,,? Bawa ke kantor,,? Kamu fikir anaku kucing peliharaanmu,,? Kalau ngga kamu jadi pengasuhnya saja, ngga usah kerja lagi." Sambung Faris yang membuat Boy, jadi kembali berfikir tentang kata-katanya.
Boy memang berharap bisa membantu merawat anak Aleta dan Faris, tapi dia juga takut kalau sampai dia tidak kerja. Karena Boy, walaupun dia memiliki fisik yang lemah, tapi dia punya semangat kerja yang sangat besar, dan dia juga ingin menjadi orang yang sukses seperti Faris. Boy juga berfikir, bagaimana dia bisa menjadi orang sukses, kalau hanya bekerja sebagai pengasuh bayi.
__ADS_1