
Aleta sangat bahagia, karena besok malam dia akan berangkat menyusul suaminya ke Amerika. Dan dia juga begitu bersukur memiliki mertua seperti Mama Alira, karena Mama Alira adalah wanita yang selalu bisa mengerti wanita lain. Seperti tadi Mama Alira langsung merespon menyuruhnya untuk pergi ke Amerika.
Setelah Mama Alira dan yang lainnya keluar dari kamar, tanpa menunggu lama, Aleta segera mengemasi barang-barang yang akan dia bawa untuk keperluannya nanti di Amerika. Aleta memilih untuk membawa semua yang dia butuhkan nanti di sana, biar sampai sana, dia tidak terlalu repot untuk membelinya, karena itu terlalu merepotkan menurutnya.
Selesai berkemas, Aleta memilih untuk langsung mandi, karena seluruh badannya terasa sangat lengket. Hampir satu jam di dalam kamar mandi, Aleta keluar dengan hanya memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya, dan di saat dia mau melangkah menuju lemari, tiba-tiba ada suara Mama Alira memanggilnya dari depan pintu berulang-ulang, sambil mengetuk-ngetuk pintu cukup keras.
Aleta jadi panik dan khawatir, karena dia yakin, pasti ada sesuatu yang darurat sampai Mama Alira bisa seperti itu. Dengan terburu-buru, Aleta melangkah ke arah pintu, dan setelah pintu terbuka, Mama Alira langsung masuk ke dalam kamar dan di ikuti Melda di belakangnya sambil berkata.
"Sayang,, ayo cepat siap-siap,,! Kamu akan berangkat sore ini juga sama teman Mama, namanya Tante Lili. Karena kalau besok, Mama takut kamu ngga ada teman di dalam perjalanan." Kata Mama Alira.
"Iya Al,, Tante Lili itu baik bangat, jadi kamu ngga perlu khawatir, lagian Tante Lili ngga sendiri, Tante Lili berangkat sama anaknya yang kuliah di Kampus kita itu lo,," sabung Melda.
"Ayo cepat sayang,,! Soalnya jam 5 pesawat sudah take-of." Kata Mama Alira lagi.
Dengan buru-buru Aleta langsung berpakaian. Aleta orangnya sangat teratur, jadi semua sudah dia siapkan, termasuk baju yang akan dia pakai untuk berangkat besok, jadi walaupun keadaannya mendadak seperti ini, dia tidak terlalu panik, karena semuanya sudah di siapkan.
Setelah selesai bersiap-siap, tanpa menunggu lama Aleta langsung di antara ke bandara, dengan tiga buah mobil mewah milik
__ADS_1
Papa Fahri, Om Refan, juga Opa Indra, dan Aleta naik di mobil Papa Fahri bersama Mama Alira juga Almira.
Fahri yang sudah mengetahui keadaan Faris dari Alira, sangat merasa bersalah, dan dia berfikir, kalau Faris sangat tersiksa berpisah jauh dari Aleta, karena Fahri yang lebih dulu merasakan hal itu sebelum Faris putranya.
***********
Apa yang Fahri fikir memang tidak salah. Pukul 4:30 dini hari waktu Amerika, Faris terbangun dengan wajah yang di penuhi dengan keringat, dia seperti itu karena bagian bawahnya menegang tiba-tiba dengan begitu kencang, dan itu membuat dia sangat tersiksa karena kesakitan.
Sudah dua malam ini Faris seperti itu, tapi malam ini dia sudah tidak sanggup untuk menahannya lagi, hampir satu jam dia berusaha untuk melawannya namun sakitnya semakin bertambah. Karena merasa sudah tidak mampuh, akhirnya Faris memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, dan berendam di dalam bathtub yang ada di dalam kamar mandi hotel mewah itu.
Hampir satu jam di dalam bathtub, sakit yang Faris rasakan bukan berkurang malah semakin bertambah, dan itu membuat tenaga Faris semakin lemah akibat menahan sakit sejak tadi. Dengan tampang yang lesu, Faris duduk di dalam bathtub, sambil berlinang air mata dan berkata-kata.
"Aal,, aku sangat rindu padamu, aku sangat tersiksa jauh darimu, tapi kamu ngga usah khawatir, walaupun menyakitkan seperti ini, aku akan selalu ingat dengan janjiku, kalau hati dan tubuh ini hanya milikmu seorang,," kata Faris dengan suara yang bergetar karena menahan sakit.
__ADS_1
Setelah satu jam di dalam bathtub, Faris kemudian keluar dan memakai jubah mandinya, karena dia sudah merasa sangat kedinginan. Dia keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju sofa, yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya.
Faris memilih untuk duduk di sofa itu sambil mencoba untuk mengendlikan dirinya. Faris mencoba segala macam cara, dia berlari-lari kecil, meminum air putih, berbaring, namun semuanya sia-sia. Akhirnya Faris berfikir, jalan satu-satunya hanya mengeluarkan apa yang harus dia keluarkan.
Dengan segera, Faris melepaskan jubah mandinya, kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Aleta, namun, nomor Aleta tidak bisa di hubungi sejak tadi, dan Faris tidak ingin menghubungi yang lainnya di saat keadaannya seperti itu.
Akhirnya Faris yang sudah mandi keringat karena menahan hasratnya, memilih untuk memandang gambar seksi Aleta di ponselnya, yang tidur tanpa sehelai benangpun. Gambar itu sempat dia ambil sehari sebelum dia berangkat ke Amerika, dan di saat itu Aleta sedang tertidur pulas.
Akhirnya Faris bisa tenang juga setelah hampir satu jam memandang gambar istrinya, karena dengan jalan yang dia ambil itu, dia berhasil mengeluarkan lahar yang membuat dia tersiksa dua malam ini, tapi tetap saja Faris tidak merasa puas, karena bukan seperti itu yang dia inginkan.
Di Amerika jadwal Faris sangat padat, dia sangat sibuk dengan segala urusan bisnisnya. Faris berangkat pukul 8 pagi dari hotel, dan pulang ke hotel pukul 5 sore. Dia sendiri sangat merasa bersalah pada Aleta, karena selama beberapa hari ini, dia belum dapat berkomunikasi dengan Aleta, dan dia tahu kalau Aleta pasti marah padanya. Sebenarnya Faris bisa mengirimkan pesan buat Aleta, tapi Faris tidak melakukan itu, karena dia ingin langsung berbicara dengan Aleta.
Baru beberapa hari berpisah, Faris sudah sangat merindukan istri cantiknya itu, tapi dia tidak mau terlalu memikirkan Aleta, karena itu bisa membuat hasratnya menggila secara tiba-tiba, dan dia juga yang akan tersiksa.
Pukul 8 malam, Faris bersama asistennya baru sampai di hotel tempat mereka menginap. Sebenarnya mereka selesai kerja sejak sore tadi, tapi karena mereka di ajak makan malam sama rekan bisnis mereka, akhirnya membuat mereka sampai di hotel jam 8 malam.
Karena sudah sangat kecapean, akhirnya Faris memilih untuk langsung tidur setelah selesai mandi. Sifat Faris seratus persen menurun dari Papanya.
__ADS_1
Faris dan Papanya adalah laki-laki yang sangat setia terhadap pasangan. Selama dua hari di Amerika, banyak sekali wanita-wanita yang menawarkan diri untuk menemani Faris di hotel, tapi Faris selalu menolaknya. Padahal semua rekan bisnisnya menyewa wanita, untuk menemani mereka di hotel, termasuk asisten Faris sendiri.
Faris tidak ingin melakukan hal yang di lakukan rekan-rekan bisnisnya, juga asistennya, padahal dia yang paling membutuhkan hal itu. Karena bagi Faris, hanya Aleta wanita yang dia inginkan, jadi dia akan selalu bersabar dalam keadaan dan situasi seperti apapun.