
Aleta duduk di taman itu memikirkan semua yang telah terjadi, dan dia sangat sedih karena harus menikah dengan laki-laki yang dia cintai namun sama sekali tidak mencintainya. Selain itu Aleta juga sangat sedih karena tidak ada satupun keluarganya yang akan hadir di hari pernikahannya nanti.
"Mama, Papa, aku akan menikah,,! Jangan mencemaskanku karena Aku baik-baik saja di sini. Aleta berkata-kata dalam hati sambil menatap ke langit dengan air mata yang bercucuran di wajah cantiknya itu.
Di balik sifatnya yang lemah dan gampang menangis, Aleta mempunyai jiwa yang besar di dalam dirinya, walaupun hidupnya selalu menderita dan tersiksa tapi dia tetap berusaha untuk tegar dan baik-baik saja.
Tanpa Aleta sadari Faris sudah berdiri di belakangnya dan melihatnya yang sedang menangis, sebenarnya Faris tidak tega melihat Aleta bersedih seperti itu, tapi dia juga tidak suka melihat wanita yang lemah dan selalu menangis.
"Aleta,, ayo pulang,,! Kata Faris yang membuat Aleta langsung terkejut.
Aleta yang terkejut segera menghapus air matanya tanpa memperdulikan Faris yang sudah berdiri di sampingnya, kemudian dia langsung membuang muka dari Faris karena dia masih sangat kesal melihat wajah Faris.
"Ayo pulang,,! Kata Faris dengan nada yang sudah mulai kesal dengan tingkah Aleta yang seperti anak kecil.
Tapi Aleta masih tetap pada pendiriannya, dia tetap tidak memperdulikan Faris dan masih tetap membuang muka dari Faris, dan tingkahnya itu membuat Faris makin kesal dan memilih untuk pergi meninggalkannya.
"Ya sudah, kalau kamu mau tetap di sini silahkan,,! Karena aku mau kembali ke apartemen. Kata Faris sambil melangkah pergi meninggalkan Aleta.
Tapi di saat Faris baru melangkah beberapa langkah, Aleta langsung berteriak memanggil namanya dengan keras sambil menangis dan membuat langkah Faris seketika langsung tertahan.
"Fariiiiis,,! Brengsek kamu brengseeeek,,! Hiks,,,hiks,,,hiks. Aleta berteriak sambil menangis dengan kerasnya.
Walaupun Faris mempunyai sifat berdarah dingin tapi dia tetap berusaha untuk selalu sabar menghadapi kemarahan Aleta, karena dia selalu ingat akan janjinya kepada Mbahnya yang tidak lain adalah neneknya Aleta. Faris yang sudah berbalik menghadap Aleta, dengan perlahan-lahan melangkah ke arah Aleta sambil menatap Aleta dengan tatapan dinginnya.
"Kamu jahaaat,,! Aku benci kamuuu,,! Kamu membuatku tersiksa terus menerus. Hiks,,,hiks,,,hiks. Tambah Aleta sambil terus menangis.
__ADS_1
Ucapan Aleta barusan membuat Faris langsung merasa serbah salah, karena di sisi lain dia ingin sekali melindungi Aleta, tapi di sisi lainnya dia adalah orang yang telah menghancurkan hidup dan masa depan Aleta.
"Mau kamu apa sebenarnya Aleta,,? Tanya Faris sambil menatap Aleta yang juga sedang menatapnya dengan berlinang air mata.
"Aku mau kembali ke Amerika dan aku tidak mau menikah denganmu,,! Jawab Aleta dengan berlinang air mata.
"Apaaa,,? Kamu mau kembali ke Amerika,,? Mau jadi apa kamu di sana,,? Mau jadi wanita penghibur iya,,? Faris berkata dengan nada yang sudah mulai keras karena merasa kesal dengan apa yang menjadi keinginan Aleta.
"Iya,,! Lebih baik aku jadi wanita penghibur,,! Dari pada harus menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku dan tidak punya hati,,! Kata Aleta yang membuat emosi Faris langsung meledak.
"Aletaaaaaa,,!!! Faris memanggil nama Aleta dengan kerasnya sambil mengangkat tangannya, hendak berbuat kasar kepada Aleta namun dia tidak melakukannya.
"Pukul aku biar kamu puas,,! Tantang Aleta sambil menatap Faris dengan air mata yang sudah kembali membasahi wajahnya.
Faris yang begitu emosi kembali menurunkan tangannya dan menatap Aleta dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, dia sangat kesal namun dia tidak mampuh untuk berbuat kasar kepada Aleta.
"Aku ngga mau pulang,,! Jawab Aleta.
"Aletaa, aku mohooon,,! Kata Faris sambil menatap Aleta yang sedang duduk di bangku taman dengan tatapan yang penuh emosi.
Tanpa memjawab apa-apa Aleta langsung berdiri dan melangkah meninggalkan Faris sambil menghapus kasar air matanya. Faris yang melihat tingkah Aleta hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan kekesalannya, dan setelah itu dia juga ikut melangkah pergi menyusul Aleta.
Sampainya di apartemen Aleta masuk setelah pintu di buka oleh Faris, Aleta langsung menuju kamar tanpa memperdulikan Faris.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Aleta langsung bergegas untuk mandi setelah berada di dalam kamar, karena sejak sampai di Jakarta dia belum sempat mandi. Selesai mandi Aleta keluar dengan hanya memakai juba mandi Faris yang ada di gantungan kamar mandi.
Aleta melangkah ke arah kopernya dan mengambil pakaian ganti, selesai berpakaian Aleta memilih untuk langsung tidur karena dia tidak ingin keluar kamar dan bertemu Faris yang berada di luar.
Faris duduk di sofa ruang depan, dia sedang sibuk membalas pesan dari anak buahnya yang dia suruh untuk membereskan mayat Vina. Anak buah Faris sudah melakukan semua yang Faris perintahkan, dan Faris sangat puas dengan hasil kerja mereka.
Orang-orang suruhan Faris itu bukanlah orang biasa, setiap tugas yang Faris perintahkan selalu di selesaikan dengan sangat baik, dan jejak mereka tidak pernah tercium dan itulah yang membuat Faris selalu aman.
Aleta yang berada di kamar sangat gelisah, dia tidak bisah tidur walaupun dia sudah mencoba untuk memejamkan matanya, selain dia belum ngantuk, dia juga sangat hawatir memikirkan tangan Faris yang terluka karena Vina tadi siang.
Sebenarnya Aleta ingin sekali keluar dan mengobati tangan Faris, tapi dia kembali mengurungkan niatnya karena dia masih sangat kesal dan sakit hati terhadap Faris, yang tidak pernah mengerti dan memikirkan perasaannya sama sekali.
Sambil menghadap ke dinding Aleta memikirkan tentang semua hal yang berkaitan dengan Faris, tapi tidak berapa lama, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar karena Aleta memang belum sempat untuk menguncinya tadi.
Sebenarnya Aleta sudah menebak siapa yang membuka pintu walaupun dia tidak melihatnya, karena posisi dia sedang mbelakangi pintu, tapi karena masih ada sedikit rasa trauma setelah di culik oleh anak buah Vina waktu itu, membuatnya langsung berbalik dan melihat ke arah orang yang sudah melangkah masuk ke kamar itu.
Apa yang di tebak Aleta memang tidak salah, setelah dia melihat Faris sedang melangkah menghampirinya, dia dengan segerah kembali berbalik menghadap ke arah dinding sambil terus berbaring. Setelah berada di samping tempat tidur langkah Faris langsung terhenti kemudian dia berkata.
"Ayo kita cari makan,,! Ajak Faris dengan nada yang cukup rendah sambil menatap Aleta yang sedang membelakinya.
"Aku ngga lapar,,! Jawab Aleta sambil terus membelakangi Faris.
"Kamu ngga lapar atau ngga mau makan,,? Tanya Faris dengan nada yang masih tetap tenang tapi tidak di jawab oleh Aleta.
Aleta tidak menjawab apa-apa tapi Faris tetap sabar menghadapinya karena dia tidak ingin bertengkar dengan Aleta lagi. Faris tidak ingin bertengkar dengan Aleta lantaran dia sudah merasa sangat lemas, karena Luka yang ada di tangannya yang lumayan besar itu mengeluarkan banyak darah sejak siang tadi.
__ADS_1
Karena darah yang keluar sangat banyak, membuat muka Faris sudah sangat pucat dan dia sudah mulai merasa pusing, apalagi dia belum makan sejak siang tadi tapi Aleta tidak menyadarinya sama sekali.
Setelah menarik nafas panjang Faris kembali mencoba untuk membujuk Aleta yang masih terus membelakanginya itu, sambil memegang kepalanya dengan sebelah tangan, Faris segerah berjongkok dan ingin meraih lengan Aleta, tapi tiba-tiba dia merasa bertambah pusing dan dia langsung jatuh menimpah Aleta di atas tempat tidur.