
Setelah Allen ikut turun tangan, Rose akhirnya dapat melakukan pengobatan secepatnya di rumah sakit. Wanita itu kini tengah melakukan beberapa persiapan sebelum operasi pemasangan ring jantung.
Untuk hal yang satu ini, baik Rose, mau pun Norra menolak bantuan Allen. Biaya operasi masih bisa mereka bayar dengan menjual beberapa perhiasan yang masih disimpan Rose.
Allen tadinya hendak bersikeras membantu biaya operasi juga, karena biar bagaimana pun perhiasan-perhiasan itu adalah bagian dari peninggalan ayah Norra. Namun, ibu dan anak tersebut menolak.
Alhasil, pria itu harus berpuas diri hanya dengan membantu biaya kamarnya saja. Itu pun setelah mereka sepakat, bahwa Norra akan menggantinya sedikit demi sedikit.
"Aku berangkat ya, Bu," pamit Norra pada sang ibu. Gadis itu tak bisa terlalu lama mengambil libur, apa lagi dia masih terbilang guru baru di sekolah.
"Hati-hati, Nak," ucap Rose. Keadaan wanita itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
...**********...
"Miss Norra!"
Sesampainya di sekolah, gadis itu langsung disambut oleh anak-anak didiknya di kelas. Mereka berbondong-bondong memeluk dan mengucapkan pesan menyentuh untuk kesembuhan sang ibu. Beberapa di antara mereka bahkan memberikan buket bunga, gambar, mau pun surat yang ditulis sendiri.
Keharuan menyelimuti hati Norra. "Terima kasih, anak-anakku yang manis," ucap gadis itu dengan suara bergetar.
Mengetahui sang guru menangis, anak-anak tersebut kembali memeluk tubuhnya beramai-ramai.
Usut punya usut, Willy lah yang ternyata memberitahukan teman-temannya tentang hal ini, dan teman-teman sekelasnya berinisiatif memberikan semangat untuk Norra.
"Terima kasih, Willy," ucap Norra sembari memeluk erat putra dari pria terdekatnya itu.
"Kembali kasih, Miss." Willy membalas pelukan Norra sama eratnya.
...**********...
Sementara Allen yang sedang sibuk memeriksa berkas di ruangannya, dikejutkan dengan kedatangan Sebastian tiba-tiba.
"Aku sudah menemukan mereka," ucap Sebastian.
Allen terdiam. Matanya menatap tajam Sebastian dengan tangan terkepal.
...**********...
"Wanita itu memang penyakitan dan sebentar lagi akan maatii, jadi bukan salah kita, kalau dia sekarang masuk rumah sakit, bodoh!" Carlos dengan kesal memukuli kepala Juan yang baru saja memberitahunya tentang keadaan Rose.
Juan mengaduh kesakitan seraya meminta ampun. Sementara anak buahnya yang lain turut buka suara. "Lalu bagaimana, Bos? Kita hentikan dulu sampai suasana kembali kondusif, atau tetap dilanjutkan?"
__ADS_1
Carlos berhenti memukuli Juan dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Sebotol anggur murahan ditenggak pria itu hingga habis.
"Lanjutkan. Kita baru saja berhasil mengadakan kerja sama dengan Kartel Vierzen. Itu berarti, kita akan membutuhkan banyak uang untuk memulai usaha!" seru Carlos seraya menatap tajam para anak buahnya.
Kartel Cierzen merupakan kartel n44rkoba terbesar di wilayah mereka. Bagi pebisnis gelap seperti mereka, bisa bekerja sama atau masuk ke dalam bagian Kartel tersebut, merupakan hal yang sangat menggiurkan. Bayangan akan pundi-pundi uang yang melimpah sudah ada di depan mata. Terbukti, Billy Forbes, sang pemimpin langsung memberikan Carlos dan anak buahnya tempat sebagai markas baru mereka.
Akan tetapi, keinginan Carlos untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dengan cepat sepertinya harus tertunda, sebab saat ini, tiba-tiba belasan buah mobil SUV mewah berwarna hitam dan sebuah mobil sedan, datang mengepung markas.
"Siapa mereka?" tanya Carlos.
"Tidak tahu, Bos. Sepertinya bukan bagian dari Cierzen!" jawab Juan panik. Pria bertubuh kurus itu kemudian memerintahkan anak buah Carlos yang lain untuk mengambil senjata masing-masing.
"Jangan sampai lolos, aku hanya butuh pimpinannya!" seru Sebastian pada para anak buahnya.
"Baik!" Dalam hitungan detik, puluhan orang berpakaian hitam-hitam langsung menyerbu bangunan rumah kosong tersebut dengan cepat.
"Bos, jumlah mereka sangat banyak!" teriak Juan.
"Banggsaad! Kita pergi dari sini!" Carlos yang tak ingin mati konyol di tangan orang asing, bergegas melarikan diri melalui pintu belakang. Ditemani Juan dan tiga anak buah lain, mereka pergi masuk ke dalam hutan.
Mengetahui orang yang dia incar kabur, Sebastian pun mengejarnya. Mereka sempat mengeluarkan beberapa kali tembakaan peringatan untuk menghentikan Carlos. Namun, pria itu masih saja gigih.
Sebastian bergegas menghampiri Carlos yang kini tengah mengaduh kesakitan.
"S—siapa kau? Aku tak pernah ingat berurusan denganmu, Bedebaah!" seru Carlos.
Sebastian tidak menjawab. Pria itu malah menyeret paksa Carlos keluar dari hutan menuju mobil.
"Berhenti! Percuma kalian melakukan perlawanan!" teriak Sebastian sembari menyeret Carlos yang sudah tidak berdaya, melewati rumah tersebut.
Sesampainya di depan mobil sedan hitam, Sebastian melempar tubuh Carlos.
Pintu mobil terbuka. Allen dengan wajah luar biasa dingin keluar dari sana. Pria itu berjongkok di hadapan Carlos dan menatapnya penuh kebencian.
"Si—siapa kalian sebenarnya? Aku ti—tidak pernah berurusan dengan kalian!" ujar Carlos terbata-bata.
Allen terdiam sejenak, sebelum kemudian menjambak rambut pria itu keras. "Kau tentu berurusan denganku," ucapnya dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Carlos.
"Aaarrgghhh!" Carlos seketika memekik kesakitan, saat Allen semakin beringas menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Wanita tua dari Distrik Zorneva yang kau sakiti, adalah orang terpentingku. Jadi, sudah pasti aku berurusan denganmu!" ujar Allen bengis.
Carlos terkejut. Dia tidak menyangka, Rose memiliki orang terdekat seperti pria ini. "A—ampun, aku tidak tahu. Aku pikir, dia hanya orang biasa." Takut dirinya kenapa-kenapa, Carlos pun memohon ampun pada Allen.
Mendengar perkataan Carlos, Allen semakin marah. Dia pun dengan tega menginjak kaki Carlos yang terluka.
Lolongan kesakitan pun sontak meluncur dari mulut Carlos.
"Jadi, kalau mereka hanya orang tua biasa, kau bebas menyakiti?"
Carlos menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bu—bukan itu maksudk—aaarrggghh!" Pria itu kembali berteriak, ketika kaki Allen menekan lukanya menggunakan sepatu yang dia pakai.
"Bro!" Sebastian berusaha mengingatkan Allen untuk tidak berbuat lebih jauh.
"Kuperingatkan untuk tidak lagi berani-berani mengusik Distrik Zorneva!" ancam Allen.
Carlos mengangguk-anggukkan kepalanya. Pria itu kemudian mendorong Carlos, hingga tersungkur di tanah, dan kembali ke mobil.
Sebastian langsung menyuruh anak buah Allen untuk membawa pergi Carlos bersama mereka.
...**********...
"Pak, di depan ada keramaian!" seru salah satu anggota polisi muda pada para seniornya yang sedang berjaga malam.
Tanpa bertanya lebih lanjut, mereka pun berbondong-bondong pergi menuju keluar gedung.
Sesampainya di depan pelataran kantor, seluruh anggota polisi dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang berteriak-teriak meminta tolong dalam keadaan babak belur.
Evans, salah seorang anggota polisi senior, berjalan menghampiri pria asing tersebut.
"Carlos!" seru Evans, begitu mengetahui bahwa si pria asing ternyata narapidana langganan mereka.
"Tolong, aku! Ampun!" teriak Carlos.
Evans menyipit, tatkala menemukan sebuah catatan di dada Carlos dengan spidol tebal.
Jangan biarkan dia berbuat onar lagi, atau aku akan turun tangan kembali!
Evans mengacak rambutnya, seraya menghela napas pasrah. Dia tahu benar tulisan siapa ini.
"Allen."
__ADS_1