
Suasana di dalam mobil mendadak hening. Sebenarnya, gadis itu sudah menggantungkan pernyataan cinta Allen sejak satu minggu yang lalu.
Ada banyak pertimbangan yang membuat Norra enggan menerima pernyataan cinta tersebut. Salah satunya yang terbesar adalah, jarak kematian Winstley yang terlalu dekat.
Bagaimana bisa seorang suami yang baru saja kehilangan istrinya tak sampai setengah tahun lalu, kini menyatakan perasaan cintanya pada gadis lain?
Semudah itu kah Allen melupakan ibu dari putra semata wayangnya? Norra pernah menanyakan hal ini kepada Allen. Namun, Allen menjawab dengan tegas, bahwa sampai kapan pun dia tak akan bisa melupakan mendiang sang istri tercinta.
Mengetahui kegelisahan Norra, Allen mencoba mengerti. Dia tahu, Norra sebenarnya memiliki perasaan yang sama. Hanya saja gadis itu ingin lebih menghormati posisi Winstley di hatinya.
"Aku simpan lagi pernyataan itu, dan kau bisa menjawabnya kapan pun kau mau." Seulas senyum teduh hadir di wajah tampan Allen.
"Maafkan aku," ucap Norra tertunduk. Perasaan bersalah sontak menghiasi hatinya.
"Tidak masalah." Allen melepaskan genggaman tangannya pada Norra. Tak lama, mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Norra menatap tangannya yang baru saja terlepas dari genggaman lembut Allen. Kendati Norra paham, Allen harus fokus memegang kemudi, tetap saja ada kehampaan yang terasa, saat pria itu melepaskan genggamannya.
Norra belum ingin menerima Allen, tetapi dia juga tak rela, bila pria itu pergi menjauh darinya.
Jahatkah dirinya? Egoiskah dia? Entahlah, yang jelas Norra tak ingin terburu-buru mengambil keputusan.
...**********...
Suara ketukan pintu rumah yang cukup keras, membuat Rose yang hendak beristirahat di kamar terbangun seketika. Seolah tahu siapa yang datang, wanita paruh baya itu bergegas pergi keluar dari kamar menuju laci kasir tokonya untuk mengambil beberapa lembar uang, sebelum membukakan pintu.
"Lama sekali buka pintunya, Ibu tua!" Seorang pria bertato berwajah sangar dengan banyak tindikan langsung menghardik Rose, begitu pintu terbuka.
Ia adalah Carlos Santos, seorang mantan narapidana yang secara ilegal mengklaim hak atas tanah yang ditempati para penghuni rumah Distrik Zorneva, tempatnya tinggal.
__ADS_1
Sejak dulu, pria itu dan kawanannya memang selalu meminta bayaran pajak tempat tinggal pada mereka.
Tidak ada yang berani melawan, sebab selain memiliki banyak anak buah, Carlos juga tidak akan segan-segan mengancam sang pemilik rumah yang mangkir dengan seenjata tajam. Pria bertubuh kurus itu bahkan pernah membakar rumah salah seorang tetangga yang enggan membayar. Hal itu juga lah yang menyebabkan Carlos harus mendekam di jeruji besi selama tiga tahun.
Selama tiga tahun, warga bisa menghirup udara kebebasan dan hidup dengan tenang. Namun, hal tersebut tengu saja tidak bisa mereka lakukan lagi, pasca pembebasan Carlos tiga bulan lalu.
Tak sampai dua puluh empat jam dia keluar dari penjara, pria itu kembali berbuat ulah dengan memalak seluruh penghuni distrik. Mereka bahkan disuruh untuk membayar denda dan bunga selama tiga tahun ini dengan cara mencicil.
Sebeneranya beberapa warga berniat untuk melaporkan perbuatan Carlos ke polisi. Namun beberapa lainnya menolak, karena takut pria itu akan melukai anggota keluarga. Maklum saja, Distrik Zorneva kebanyakan dihuni oleh orang-orang tua. Sementara anak-anak mereka kebanyakan pergi merantau, atau tidak tinggal di wilayah tersebut
Alhasil, selama tiga bulan ini, Rose beserta para penghuni lain harus rela membayar pajak dengan harga yang sangat tidak masuk akal.
Rose pun merahasiakan semuanya dari anak Norra, agar sang putri bisa tetap fokus mengajar di sekolah dan tidak terbebani dengan hal ini.
"Maaf, saya baru saja ingin pergi tidur tadi," jawab Rose kalem. Tanpa banyak bicara, wanita itu segera menyodorkan sejumlah uang pada Carlos.
Carlos menerima uang itu dan memberikannya pada Juan, anak buah yang ikut dengannya. Juan kemudian menghitung lembar demi lembar uang tersebut dengan saksama. Selesai menghitung, dia pun berbisik pada Carlos.
Rose mengerutkan keningnya. "Kurang bagaimana? Jumlahnya sama seperti bulan lalu, kan?" tanya wanita itu.
Mendengar prtanyaan Rose, Carlos pun menyandarkan tangannya pada pintu. "Kudengar, Norra memiliki kekasih kaya, kan? Kekasihnya itu selalu memarkirkan mobil mewahnya di depan gang dan menghalangi pengguna jalan! Jadi, kau sebagai calon mertuanya harus membayar biaya sewa parkir!" seru Carlos.
"Kekasih? Mana ada Norra memiliki kekasih." Rose lantas membantah keras. Dia tak pernah ingat sang putra memiliki kekasih selama ini. Apa lagi sampai di bawa ke rumah seperti yang Carlos katakan.
Carlos tertawa sinis. "Jangan berbohong kau! Siapa pun tahu, pria itu suka bertandang kemari!"
Rose terdiam sejenak. "Ahh, maksudmu pria itu!" seru wanita itu setelah mengingat sesuatu. "Dengar Tuan Carlos, pria itu hanya teman Norra sekaligus pelanggan toko kueku. Jadi, dia tentu saja berhak memarkirkan mobilnya di sana." Berusaha tidak terlihat gentar, Rose pun melanjutkan perkataannya.
Mendengar bantahan Rose, Carlos seketika naik pitam. Dia pun meneriaki Rose dan langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Siapa pun dia, kau harus tetap membayarku, siaalan!" Bersama Juan, pria itu menggasak seluruh uang di laci kasir untuk modal besok.
"Jangan semua, kumohon!" sergah Rose. Wanita tua itu menarik pakaian Carlos yang hendak keluar dari rumah. Namun, Carlos dengan kejam mendorong Rose hingga tersungkur di lantai.
Rose berteriak meminta tolong, sembari memegang dadanya yang mulai terasa sakit. Kegaduhan tersebut membuat para tetangga sontak berhamburan keluar.
Mereka semua mengepung Carlos dan Juan yang tengah berusaha kabur. Namun, Carlos dengan sigap mengacungkan pisau yang sejak tadi dia bawa.
"Jangan mendekat, atau aku akan masuk dan menghabisi tua bangka itu!" ancam Carlos dari ambang pagar rumah Rose. Pria jahat itu pun meminta mereka semua untuk mundur.
Tak ingin terjadi apa-apa pada Rose, para tetangga terpaksa mundur. Mereka membiarkan dua bandit itu pergi meninggalkan distrik.
Setelah Carlos dan Juan pergi, baru lah mereka berbondong-bondong masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan Rose.
"Panggil ambulance, cepat!" seru Celia, salah seorang tetangga Rose yang seusia dengannya. Wanita itu panik, tatkala menyadari keadaan Rose.
...**********...
"Indah sekali!" seru Norra dengan pandangan berbinar-binar. Bersama Allen, keduanya kini tengah menikmati suasana malam di dalam restoran apung sebuah kapal pesiar.
Danau besar di wilayah Vervile memang diperuntukkan sebagai tempat wisata. Ada banyak wahana penunjang di sana, seperti speedboat, kapal penyeberangan, dan restoran apung.
Sejak dulu Norra memimpikan bisa menaiki kapal ini. Namun, apa daya, dia bukanlah orang kaya yang mampu membayar makanan mahal di tempat ini.
"Terima kasih sekali lagi, Allen," ucap Norra. Matanya menatap Allen penuh keharuan.
Allen mengangguk. Pria itu merangkul pinggang Norra dan dengan perlahan mendekatkan wajahnya.
Akan tetapi, tiba-tiba ponsel Norra berbunyi. Dia pun meminta ijin pada Allen untuk mengangkatnya.
__ADS_1
"APA!"
Tak sampai sepuluh detik, Allen mendengar jeritan dari gadis itu.