
Emosi Allen memuncak. Jelas sekali urusan mereka tak ada hubungannya dengan Norra. Pria itu kemudian menatap wajah Juan tajam.
Juan yang semula memandangi Allen dengan sorot mata menantang, tiba-tiba merasa gentar. Entah mengapa, aura Allen terlihat jauh lebih menakutkan dari Carlos, bahkan dari Billy sekali pun.
Tangannya yang semula tengah mencengkeram keras lengan Norra pun mengendur.
Baaji11ngan, kenapa hatiku mendadak takut begini! Siapa pria itu? batin Juan tak tenang.
Melihat ketakutan Juan, Billy pun meneriakinya untuk tetap memegang Norra. Namun, terlambat. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Allen sudah berada di hadapan Juan sembari tersenyum manis. Juan menoleh ke belakang Allen, dan mendapati Lesley ditinggalkan begitu saja di aspal.
Saat Juan hendak mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya, dalam satu gerakan cepat, Allen berhasil melumpuhkan pria dengan tangan kosong.
"Norra!" panggil Allen pada Norra yang kini berada di pangkuannya. Gadis itu ternyata pingsan.
Mengetahui rencananya gagal, Billy menggunakan cara terakhir.
Pria berkepala pelontos itu mengeluarkan senjaata4 apii yang memang selalu dia bawa.
"Allen!" teriak Sebastian memperingatkan.
"Kali ini, aku tak akan pernah melepaskanmu, West!" seru Billy seraya menodongkan pist00l tersebut ke arah Allen.
Allen terkesiap. Pria itu tak akan bisa lari menghindar. Dia pun segera memejamkan matanya sembari melindungi tubuh Norra.
Suara tembaka4n pun terdengar bergaung, disertai jeritan Billy yang menggema. Pria itu akhirnya pria itu tumbang dengan satu luka temb4k di kaki yang berasal dari seseorang.
Sebastian dan para anak buah Allen yang hendak menolong, mematung seketika. Allen pun terlihat tak jauh berbeda. Pandangan matanya kini tertuju pada seorang pria gagah paruh baya dengan rambut memutih, yang baru saja mengantongi pi1st0lnya kembali.
Dia adalah Damian Forbes, ayah dari Billy.
"Damian," ucap Allen.
Damian berjalan menghampiri Allen dan membantunya bangun, sementara Norra langsung diambil alih oleh salah satu anak buah Allen.
"Kau tidak apa-apa, Mr. Allen?" tanya Damian.
__ADS_1
"Ya, tapi ...." Allen dengan wajah sedikit kebingungan menatap Damian dan Billy secara bergantian. Maklum saja, sedetik lalu dia baru saja mendapati seorang ayah men3mba4k putranya sendiri.
"Dad, apa yang kau lakukan!" teriak Billy marah.
Damian mengalihkan pandangannya pada Billy dan berjalan meninggalkan Allen. Setelah sampai di hadapan sang putra, Damian dengan kasar menamp44r pipinya hingga terluka.
"Sudah kubilang padamu untuk tidak mengganggu keluarga West!" seru Damian dingin.
Billy yang tidak terima kembali meneriaki Damian, bahkan kini disertai kata-kata kotor. "Memang apa istimewanya keluarga itu hingga kau tega melukai anakmu sendiri, b4ngsaat!"
Tampaarran kembali diterima Billy. "Karena aku berhutang budi pada ayahmu, dan kau tak perlu tahu soal itu!" Setelah berkata demikian, Damian pun meminta Allen untuk pergi dari sana, dan segera membawa Norra ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.
"Aku masih tidak mengerti," ujar Allen.
"Tak ada yang perlu kau mengerti. Aku berjanji mereka tak akan mengganggumu dan orang-orang sekitarmu lagi," ucap Damian seraya melempar sesuatu.
"Itu pemberian ayahmu, dan kini kukembalikan padamu. Jaga baik-baik, seperti aku pernah menjaganya dengan baik selama ini!" seru Damian.
Kendati masih terlihat bingung, Allen akhirnya berterima kasih pada Damian dan berjanji akan membalas pertolongannya.
...**********...
Norra terkejut, tatkala mendapati dirinya terbangun di ranjang rumah sakit ditemani Allen yang kini terlihat sedang menelepon seseorang
Gadis itu mendudukkan dirinya dan menatap sekeliling ruangan yang tampak tidak asing.
"Norra, kau sudah sadar?" Allen bergegas mematikan sambungan teleponnya, saat melihat Norra terbangun.
"Aku di mana? Bagaimana bisa aku ada di sini?" Bukannya menjawab, Norra dengan wajah kebingungan malah balik bertanya.
"Kau ada di rumah sakit yang sama dengan ibu. Aku baru saja diberitahu seseorang, bahwa kau diculik semal. Jadi, aku meminta tolong detektif kenalanku untuk menemukanmu." Allen berusaha menceritakan kronologi paling masuk akal yang dimilikinya saat ini.
Norra mencoba mencerna penjelasan Allen. Namun, kepalanya terasa sangat sakit. "Aww!"
"Jangan memaksakan diri. Kau mengalami dehidrasi dan gegar otak ringan. Sebaiknya, kau beristirahat lagi." Allen hendak menuntun Norra untuk kembali berbaring. Namun, gadis itu menolak.
__ADS_1
"Ibu! Bagaimana dengan Ibu?" tanya Norra kemudian. Wajahnya seketika panik.
"Tenanglah, ibumu dalam keadaan baik-baik saja. Beliau kini sedang dalam observasi."
Mendengar jawaban Allen, Norra sontak menghela napas lega. "Ibu pasti tahu, aku tak ada di sana. Tolong, jangan bilang apa pun padanya tentang ini, Allen," pinta gadis itu.
"Aku mengerti. Aku sudah bilang pada para tetanggamu yang menemani ibu, bahwa kau mengalami insiden kecil terjatuh dari motor, saat dalam perjalanan pulang kemari, dan aku sudah meminta mereka untuk tidak mengatakannya pada ibu," ujar Allen memberi penjelasan.
"Terima kasih. Aku benar-benar banyak berhutang padamu, Allen. Kalau saja bukan karena dirimu, aku tak tahu bagaimana selanjutnya," ucap Norra lirih. Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa Allen lagi-lagi menolongnyq.
"Berhentilah memikirkan hal-hal itu. Sekarang, kau harus fokus pada kesehatanmu dulu." Allen dengan lembut mencium kening Norra, lalu membantu gadis itu membaringkan dirinya di ranjang. Kali ini, Norra tidak menolak. "Beristirahat lah, nanti aku akan membantumu menemui ibu."
Norra menganggukkan kepalanya.
...**********...
"Operasi berjalan sangat baik dan lancar. Nyonya Rosemary sebenarnya bisa langsung pulang sehari setelah operasi dilakukan. Namun, demi memastikan kembali kesehatannya, Beliau sebaiknya harus tetap di sini selama dua atau tiga hari lagi."
Norra dan Allen mendengarkan dengan saksama penjelasan Dokter Diana tentang kondisi sang ibu.
"Apakah ada pantangan yang harus dipatuhi, dok, setelah pemasangan ring jantung ini?" tanya Norra.
"Jaga pola makan saja, dan jangan melakukan aktivitas yang berat-berat atau tiba-tiba. Lakukan secara perlahan saja." Jawab Dokter Diana sembari mengulas senyum.
Norra sekali lagi mengembangkan senyumnya. Dalam hati, dia berharap sang ibu tak lagi mengalami hal buruk seperti waktu itu, meski memang ring jantung bukanlah metode penyembuhan bagi para penderita. Namun, setidaknya dapat mengurangi resiko.
Keduanya pun keluar dari ruangan Dokter Diana untuk kemudian pergi ke ruang perawatan Rose, yang kini tengah beristirahat.
Para tetangga yang menemani Rose sudah pulang setelah sebelumnya menjenguk keadaan Norra terlebih dahulu.
Gadis itu mengucapkan banyak terima kasih, karena mereka sudah berbaik hati menemani, sekaligus memberi dukungan pada dirinya dan sang ibu.
"Aku beruntung tinggal di sana. Kami sudah seperti keluarga satu sama lain," ucap Norra seraya menatap Rose dari sudut ruangan.
Allen tersenyum. Pria itu merangkul pinggang Norra dan mengecup rambutnya. "Aku pun beruntung bisa bertemu denganmu," ucapnya.
__ADS_1
Norra mengalihkan pandangannya pada Allen dan membalas senyumannya. "Seharusnya, aku lah yang berkata begitu."