
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari, ketika Allen tiba di rumah.
"Buatkan aku secangkir teh," titah Allen pada salah seorang asisten rumah tangganya, yang menyambut kedatangan pria itu.
"Baik, Tuan," jawab sang asisten rumah tangga.
Allen lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar sang putra terlebih dahulu, sebelum kemudian pergi menuju kamarnya sendiri.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Allen duduk di balkon kamarnya, seraya menikmati secangkir teh panas yang sudah dibuatkan oleh pelayannya.
Sisa-sisa kemarahan dalam diri Allen masih tampak, meski Carlos sudah diserahkan kepada pihak kepolisian.
Selain kemarahan, perasaan bersalah juga hadir memenuhi benak Allen. Maklum saja, pria itu sudah berjanji pada mendiang istrinya, bahwa dia tak akan lagi melakukan hal-hal demikian seperti dulu. Namun, mau bagaimana lagi, tindakan Carlos nyaris saja membuat Rose, ibu dari gadis yang ditaksirnya, kehilangan nyawa.
"Maafkan aku. Aku tak bisa menahan diri," gumam Allen lirih.
'Begitulah dirimu, seorang penyayang yang keras kepala!'
Allen tersentak begitu mendengar suara Winstley yang tiba-tiba terngiang di telinganya. Suara tersebut bahkan sempat tertawa kecil, sebelum akhirnya menghilang kembali.
Allen menyandarkan punggungnya di kursi. Pria itu juga tertawa kecil. "Tampaknya, kau mengawasiku selama ini ya?" tanya pria itu pada angin malam yang mulai berembus. "Kalau begitu, kuharap, kau tidak keberatan dengan apa yang kulakukan?" sambung pria itu.
Hening menyelimuti dirinya.
"Maksudku ... Norra."
Hening masih menyelimuti suasana malam itu. Tak ada lagi suara Winstley yang terdengar seperti sebelumnya.
Allen yang merasa konyol pun tertawa. Tak ingin dirinya semakin larut dalam khayalan belaka, pria itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, guna mengisyaratkan dirinya.
...**********...
Billy Forbes hanya terdiam di kursi kebesarannya, setelah mendengar penjelasan Juan, anak buah Carlos.
Juan terpaksa meminta bantuan pemimpin kartel tersebut, setelah mengetahui bahwa Carlos kini berada di kantor polisi.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Billy dingin.
"Bantu beri pelajaran pada orang yang telah melukai bos kami, Tuan besar!" seru Juan.
__ADS_1
"Apa keuntungannya bagiku, menolong kalian?" tanya pria berkepala plontos itu.
Juan terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu. "Kami yang akan bertugas mengambil alih wilayah yang Anda inginkan, Tuan besar. Anak buah Anda tak perlu bersusah payah turun tangan. Bos kami memiliki banyak keahlian soal itu." Juan dengan tegas menawarkan sebuah kesepakatan.
Billy memegang dagunya, seraya memerhatikan para anak buah Carlos satu persatu. Kelompok Carlos memang bukan kelompok mafia besar. Bahkan termasuk kacangan. Namun, kemampuan Carlos di lapangan patut diacungi jempol. Oleh sebab itu, dia mau menerima tawaran kerja sama darinya.
Jika saja Carlos tidak lahir sebagai seorang pecvvndang miskin, mungkin kedudukan mereka akan sama.
"Baiklah. Cari tahu pria itu dan segera laporkan padaku!" seru Billy dingin.
Mendengar kalimat yang baru saja dikeluarkan Billy, Juan bersama anak buahnya serempak membungkukkan badannya dalam-dalam. "Terima kasih banyak, Tuan besar!"
...**********...
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Allen di sela-sela makan malam mereka. Keduanya kini tengah berada di salah satu restoran langganan Allen.
"Baik. Beliau hanya mencemaskan operasinya, dan aku malah jadi ikut kepikiran," jawab Norra sembari meringis.
Allen menggenggam tangan Norra lembut. "Tenang saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter Diana adalah salah satu dokter terbaik di sana."
Norra menganggukkan kepalanya. "Hari ini aku akan tidur di rumah. Ibu menyuruhku untuk memeriksa keadaan rumah terlebih dahulu," kata gadis itu tiba-tiba.
"Ya, tapi kau tahu benar bagaimana ibuku. Dia hanya terlalu mengkhawatirkan peninggalan ayah." Norra mengangkat satu bahunya. "Lagi pula, dari yang aku dengar, Carlos ternyata baru saja ditangkap pihak kepolisian."
Mendengar perkataan Norra barusan, Allen berusaha bersikap biasa. "Mengapa bisa?" tanya pura-pura tidak tahu.
"Katanya ada seseorang yang menangkap basah pria itu saat melakukan aksinya. Dengan berani, orang itu menyeret Carlos ke kantor polisi. Aku juga diminta untuk ikut melaporkan perbuatan Carlos tempo hari." Norra terlihat mengaduk-aduk makanannya, sebelum kemudian memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut.
"Jadi?" Allen yang penasaran kembali mengajukan pertanyaan.
"Sepertinya aku akan ikut melapor. Aku tak ingin hidup ibu terganggu lagi." Jawaban yang diberikan Norra, membuat Allen menghela napas lega.
"Baiklah, meski begitu, kau harus tetap berhati-hati, karena anak buah Carlos pasti tidak akan terima."
Norra menganggukkan kepalanya.
Setelah makan malam selesai, keduanya pergi menuju sebuah supermarket untuk menemani Norra berbelanja bulanan. Sibuk mengurus sang ibu di rumah sakit, membuat gadis itu lupa mengurus keperluan rumah, termasuk berbelanja bulanan.
Allen dibuat kagum dengan sikap Norra yang bijak dalam memilih barang-barang belanjaan. Semaksimal mungkin gadis itu tak ingin barang yang dia beli tidak terpakai atau termakan nantinya.
__ADS_1
Selain itu, Norra juga pandai membandingkan harga. Sifatnya yang satu itu sontak mengingatkan Allen pada mendiang Winstley sekali lagi.
Tanpa sadar Allen tertawa kecil.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Norra, tatkala mendapati pria itu tertawa sendiri.
Allen refleks menutup mulutnya, lalu menggeleng. "Tidak. Aku hanya kagum dengan sikapmu. Kau begitu pintar mengelola urusan rumah tangga. Padahal yang aku tahu, seorang gadis biasanya tak pandai melakukan hal-hal demikian." puji Allen jujur.
Norra tersenyum. "Sejak kecil aku terbiasa dididik mandiri. Jadi, setelah ayahku meninggal, semua urusan rumah tangga menjadi tanggunganku. "
Allen menatap bangga Norra. "Kau gadis yang hebat."
"Terima kasih," ucap Norra malu-malu.
Allen tersenyum menatap Norra. Pria itu mendekatkan wajahnya, pada wajah Norra, sedangkan tangannya melingkar di pinggang gadis itu.
Norra yang terkejut mendapat perlakuan demikian di depan umum, sontak saja mengalihkan perhatian Allen dengan berteriak cukup keras. "Ahh, ini dia yang aku cari!"
Tanpa menunggu respon Allen, gadis itu berlari menuju rak sabun secepat kilat.
Allen tertawa.
...**********...
"Tak perlu sampai rumah, aku bisa sendiri." Norra lagi-lagi menolak tawaran Allen untuk mengantarnya sampai rumah.
"Baiklah, kalau kau bersikeras. Hubungi aku, kalau sudah sampai rumah," pesan Allen.
Norra mengangguk. Allen pun keluar lebih dulu dari dalam mobil, sebelum kemudian membantu Norra turun.
Pria itu masih tetap berada di sana, memerhatikan kepergian Norra. Namun, entah apa yang ada di pikirannya, Allen tiba-tiba berlari ke arah Norra dan menarik tangannya.
"Ad—" Perkataan Norra sontak terhenti, ketika Allen tanpa permisi mengecuup lembut bibirnya.
Norra yang terkejut berusaha melepaskan diri dari belenggu Allen, tetapi Allen malah semakin merapatkan diri.
Pria itu bahkan dengan lembut meminta ijin pada Norra untuk mengeksplor lebih dalam.
Norra terbuai. Kantong belanjaan yang berada di dalam genggamannya, kini jatuh berhamburan.
__ADS_1