Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
17. Gotong Royong.


__ADS_3

Allen mengerutkan keningnya, tatkala mendapati rumah Norra sedikit ramai, meski toko kue sedang tutup.


Beberapa orang terlihat berlalu lalang sembari membawa bahan bangunan, seperti kayu dan papan triplek. Ada juga wallpaper gulung berukuran besar yang dipanggul oleh dua orang. Belum lagi barang-barang yang lainnya.


Melihat Allen datang, Norra dan Rose pun mempersilakan masuk. Tak lupa, pria itu dengan ramah menyapa orang-orang yang ada di sana.


"Ah, aku pikir merenovasi toko baru wacana saja," ucap Allen begitu melihat ke sebelah, yaitu toko kue mereka.


"Ibu ingin bergegas. Maka dari itu kami meminta bantuan beberapa tukang untuk membantu mendekorasi toko." Jawab Norra. Gadis itu pun meminta Allen untuk duduk, sementara dia mengambilkan minum.


Melihat sosok Allen yang tampan dan berpenampilan mahal, para tetangga yang belum tahu, sontak berbisik pada Rose.


"Siapa dia, Rose? Tampan sekali wajahnya!"


"Apa dia kekasih Norra? Bagaimana mereka bisa bertemu?"


"Lihatlah jam tangan dan pakaian mahalnya itu! Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Iya, kan, Rose?"


Mendengar berbagai pertanyaan yang diajukan ibu-ibu di sana, Rose hanya tersenyum tanpa menjawab. Saat didesak, wanita paruh baya itu malah meminta do'a yang terbaik untuk Norra.


"Pastinya, Rose. Norra sudah cukup umur untuk membina rumah tangga. Apa lagi bila pria itu benar-benar memiliki niat baik," ucap Noren, salah seorang tetangga yang rumahnya berada paling ujung distrik.


Ibu-ibu lain, termasuk Rose mengamini perkataan Noren. Mereka pun kembali fokus memilah-milah perabotan toko yang masih layak dipakai dan tidak.

__ADS_1


Setelah meminum seteguk jus jeruk buatan Norra, Allen bergegas menawarkan diri pada para tukang bangunan untuk membantu pekerjaan mereka.


Orang-orang di sana sontak heboh dan menolak penawaran diri Allen. Mereka malah menyuruh Norra untuk membawa pergi kekasihnya dari rumah. Namun, Allen bersikeras ingin membantu.


Norra tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun membiarkan Allen berbuat sesuka hati di tokonya.


Allen yang memiliki tinggi tubuh 187cm, memudahkannya untuk melakukan beberapa pekerjaan yang dirasa sulit. Seperti memaku dan menempelkan barang di dinding tertinggi.


Allen terlihat sangat cekatan dan mampu memgerjakan tugas para tukang bangunan, padahal jelas-jelas dia terlihat seperti orang kaya raya yang bahkan tidak bisa berkutat dengan hal-hal seperti ini.


"Pria yang baik. Kau sangat beruntung bisa bertemu dengannya, Norra," ujar salah seorang tetangga pada Norra yang sedang sibuk menata kudapan di atas nampan.


"Aku memang beruntung bisa bertemu dengannya, Aunt," jawab Norra sambil tersenyum simpul.


Norra tertawa kecil. Gadis itu pun mengucapkan kata terima kasih, sebelum kemudian pamit untuk membagikan kue-kue buatannya.


"Mereka pasti belum makan, kan?" tanya Allen.


"Ya, aku baru saja hendak membelikan mereka makan, setelah membagikan kudapan ini. Jadi, aku titip toko sebentar ya?" ujar Norra.


"Tidak perlu keluar. Aku sudah memesan banyak makanan untuk kita semua." Allen mengulas senyum tipis, seraya menenggak habis air putihnya.


"Tidak perlu. Biar aku saja!" sergah Norra kesal.

__ADS_1


Allen tidak menjawab. Dia malah diam-diam mencuri ciuman Norra, sebelum kembali berbaur dengan para tukang.


...**********...


Tepat saat pekerjaan mereka semua selesai, makanan cepat saji pesanan Allen pun tiba. Allen tak hanya membelikannya untuk mereka yang bekerja saja, melainkan seluruh penghuni distrik yang terdiri dari tujuh puluh tiga kepala keluarga ini.


Warga pun dengan senang hati menerima kebaikan Allen. Beberapa dari mereka bahkan ada yang saling berbisik, menanyakan berapa biaya makan yang Allen keluarkan hanya untuk makan.


Rumah mendadak ramai. Jalan otomatis tertutup oleh para tetangga yang memilih makan bersama di sana. Beruntung distrik mereka memang hanya jalan setapak dan bukan jalan utama. Jadi, tak akan mengganggu para pejalan lain.


Bukannya risih dengan keramaian yang ada, Allen justru senang. Sayang, dia tidak bisa mengajak Willy untuk turut menikmati malam bersama.


"Apa yang membuatmu tersenyum-senyum begitu?" tanya Norra penasaran.


Allen mengalihkan pandangannya pada Norra. "Aku hanya senang dengan suasana hangat ini."


Notra tersenyum. "Kau lah yang membuatnya. Terima kasih banyak atas makan malamnya," ucap gadis itu lembut.


Allen sontak memegangi tangan Norra dan mengelusnya lembut. "Sama-sama."


Pekerjaan baru selesai pukul sembilan malam, sebab Rose ingin renovasi mereka selesai dalam waktu sehari saja. Beruntung tidak ada hal berat yang harus diubah. Mereka hanya perlu mengecat, memasang wallpaper, menyekat beberapa bagian dan mendekorasi ulang saja dengan perabot yang baru.


Satu-satunya yang tersisa hanya tinggal memasang papan nama toko saja, dan itu baru datang keesokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2