
Ada banyak hal yang mengusik pikiran Norra saat ini, terutama soal kesehatan sang ibu. Semula, Norra harus berkonsentrasi demi kesehatan beliau. Namun, konsentrasinya seketika pecah, tatkala Allen tanpa permisi mencium bibirnya.
Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Tidak ada.
Norra dengan wajah semerah tomat bergegas memunguti belanjaan, sebelum kemudian pergi tanpa melihat wajah Allen terlebih dahulu.
Akan tetapi, bukannya tersinggung, Allen justru teetawa nyaris terbahak. Norra bahkan masih bisa mendengar jelas, saat pria itu mengatakan 'sampai jumpa'.
Mendengar perkataan dari pria itu, Norra malah mempercepat langkahnya menuju rumah.
Di sepanjang perjalanan, yang ada dalam otaknya hanyalah perbuatan Allen. Pria pertama yang mencuri hatinya. Maklum saja, selama ini Norra tidak memiliki kesempatan untuk mencari kekasih, karena sibuk membantu sang ibu. Jadi, momen ini benar-benar membekas di hati Norra.
Salah satu momen indah yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Norra tiba-tiba tersentak. "Ih, apa sih, yang aku pikirkan!" celetuk gadis itu sambil membanting barang-barang belanjaannya di atas meja dapur. Sembari menekuk wajahnya, dia mulai membereskan barang belanjaan satu persatu ke dengan cekatan.
Selesai melakukan hal tersebut, Norra juga menyibukkan diri dengan membersihkan rumah, demi menghapus ingatan tentang mereka.
Norra baru pergi mandi dan berganti pakaian, setelah selesai membersihkan rumah. Tak lupa, dia juga membuat catatan di depan toko, yang akan tutup sekitar satu sampai dua minggu ke depan, hingga sang ibu pulih.
Sambil menunggu rasa kantuk datang, gadis itu memutuskan untuk menonton televisi terlebih dahulu di ruang tamu. Namun, saat asik menonton, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
Norra refleks melihat jam dinding rumahnya. "Siapa yang bertamu malam-malam begini?" gumam gadis itu.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Norra bimbang, haruskah dia membukakan pintu, atau mengabaikannya saja. Namun, semakin lama mendengar ketukan tersebut, Norra semakin penasaran.
Gadis itu pun memutuskan bertanya tanpa membuka pintu rumah. "Siapa?"
"Kami utusan Tuan Allen yang ditugaskan menjaga rumah ini, Nona," Seorang pria langsung menjawab pertanyaan Norra.
Mendengar hal tersebut, Norra mengembuskan napas lega. Kendati demikian, Norra merasa sangat kesal karena Allen lagi-lagi melakukan sesuatu tanpa mengajaknya berunding terlebih dahulu.
Tak ingin membuat orang tersebut menunggu, tanpa curiga Norra pun membukakan pintu rumah.
"Silak–" Ucapan Norra sontak terhenti, ketika salah seorang pria tiba-tiba membekap mulutnya dengan obat bius.
Norra tumbang. Juan muncul setelahnya. "Bawa dia!" titah pria itu.
...**********...
__ADS_1
Billy lagi-lagi tertawa terbahak-bahak saat kembali melihat foto Allen. Dia bahkan menggebrak-gebrak meja seperti orang gila tiap kali melihat foto tersebut.
Terang saja, bagaimana tidak, sebab Allen merupakan orang yang paling ingin Billy hancurkan sejak bertahun-tahun silam.
Pria itu lah yang telah menghancurkan impiannya membangun markas di salah satu pulau pribadi paling eksotis di negeri ini.
Billy yang saat itu hampir menyelesaikan kesepakatan tiba-tiba batal begitu saja, saat West Corp tanpa tedeng aling-aling menawarkan harga tertinggi jauh di atas penawarannya.
Billy dendam. Dia mencoba mencari tahu lebih dalam tentang keluarga West, agar bisa menghabisi mereka. Namun, penjagaan West saat itu sangat ketat dan susah untuk ditebus. Terlebih, keadaan kartel sedang goyah. Banyak anggota yang memilih keluar dari sana dan membentuk kelompok sendiri.
Itu lah salah satu alasan mengapa Billy bekerja keras membesarkan kembali Kartel Vierzen hanya demi membalaskan dendam.
"Allen West, sekarang kau akan menerima akibatnya!" seru Billy penuh kebencian. Pria itu membakar wajah Allen di foto menggunakan rokok miliknya, lalu membuang ke tempat sampah.
Tak berapa lama, Juan dan beberapa anak buahnya tiba di tempatnya. Mereka membawa serta seorang gadis yang tampak tidak berdaya dengan kondisi kaki dan tangan teriikat.
"Siapa dia?" tanya Billy.
"Kekasihnya, Tuan besar!" jawab Juan.
Billy mengerutkan kening. "Kekasih? Kau bilang, istrinya baru saja meninggalkan?" tanya pria berkepala pelontos itu lagi.
Billy berdiri lalu bertepuk tangan, sembari berjalan memutari tubuh Norra. "Wah, wah, wah, tak kusangka pria sepertinya cepat sekali melupakan istri tercinta."
Pria itu kemudian berjongkok di hadapan Norra, lalu membuka penutup mata dan mulutnya.
"Lepaskan aku!" bentak Norra sambil meronta berusaha melepaskan diri.
"Tak semudah itu gadis manis." Billy dengan tega mencengkeram pipi Norra kuat-kuat, sampai gadis itu memekik kesakitan.
"Arrghh!"
Mendengar teriakan Norra, bukannya melepas, Billy malah menaammpar pipi gadis itu berulang kali.
"Tuan, ponselnya." Juan memberikan Billy ponsel milik Norra. "Bagaimana kita menghubungi orang itu, Tuan?" tanyanya kemudian.
Billy langsung mengangkat ponsel Norra. "Dengan ini. Biarkan dia melacak ponsel milik wanitanya. Sekarang, seret dia ke gudang!"
"Baik!"
__ADS_1
...**********...
Hari ini adalah jadwal operasi Rose. Allen dan Willy sudah ada di rumah sakit, bersama beberapa orang tetangga Rose. Namun, Norra sama sekali tidak muncul di sana, padahal ini adalah hari-hari yang ditunggu olehnya.
Para tetangga sudah mengetuk pintu rumah Rose, tetapi tidak ada sahutan dan pintu rumah sudah dalam keadaan terkunci. Jadi, mereka pikir, Norra sudah pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali.
"Teleponnya masih tidak diangkat, Nak Allen?" tanya Lidya, salah satu tetangga Rose yang ikut datang memberi dukungan.
"Iya, Aunt," jawab Allen.
"Bagaimana ini? Norra sama sekali tidak pernah berlaku demikian. Apa jangan-jangan dia mengalami sesuatu di jalan?" pekik salah seorang wanita lainnya.
Lidya lantas menyuruh wanita itu diam agar Rose tidak mendengar. Mereka sengaja tidak memberitahu Rose soal Norra, karena tidak ingin beliau merasa khawatir.
"Pokoknya, kita harus merahasiakan ini, agar Rose dapat menjalani operasi dengan tenang. Oke?" titah Melinda, tetangganya yang lain.
"Baik!" Mereka semua serempak menjawab.
Tak lama kemudian, seorang perawat senior pun tiba di sana. Perawat tersebut berkata, bahwa Rose akan dipindahkan ke ruang operasi.
Mereka mulai masuk dan membantu Rose. Namun, seperti yang sudah diduga, orang pertama yang Rose cari adalah putri semata wayangnya.
"Ke mana Norra? Mengapa dia tak ada di sini?" tanya wanita paruh baya itu.
"Norra sudah datang tadi, Bu, tapi tiba-tiba sekolah meneleponnya untuk meminta tolong. Sekarang, dia sedang dalam perjalanan ke sini," Allen dengan cepat menjawab pertanyaan Rose.
Tanpa menaruh curiga, Rose percaya. "Apa Ibu tidak bisa menunggu Norra dulu?" tanya wanita itu pada perawat.
"Anda harus segera masuk ke ruang observasi dulu. Nanti, putri Anda bisa masuk ke sana, sebelum operasi dimulai."
Mendengar jawaban sang perawat, Rose pun mengangguk penuh kelegaan. Ditemani Allen dan para tetangganya, mereka pergi mengiringi Rose.
"Terima kasih atas semuanya, Nak Allen," ucap Rose sebelum masuk.
Allen tersenyum simpul. "Jangan pikirkan apa pun ya, Bu," pesannya pada Rose.
Rose mengangguk lemah.
Sepeninggal Rose, Allen dengan sigap menghubungi Sebastian kembali. Sejak tadi, dia sebenarnya sudah menyuruh sahabat, sekaligus sekretarisnya itu untuk melacak keberadaan Norra.
__ADS_1
"Lokasinya sudah ditemukan!"