
Sadar bahwa Clara dan teman-temannya kini bersikap aneh, Norra pun memutuskan pergi untuk kembali kepada Allen, yang sekarang terlihat sedang duduk di sofa seorang diri. Lagi pula, mereka sudah berjanji untuk terus bersama-sama di sepanjang acara.
Dari kejauhan Norra bisa melihat beberapa wanita berusaha menghampiri Allen. Sebagian besar dari mereka bahkan secara terang-terangan menggoda pria itu.
Melihat hal tersebut, bukannya membuat Norra cemburu, gadis itu malah terlihat semakin tidak percaya diri.
Kendati tidak mengatakan secara langsung di hadapan Norra, tetapi dia sempat mencuri dengar, saat Clara dan para wanita itu membicarakan dirinya. Mereka bersyukur, pria seperti Allen tidak memiliki hubungan istimewa dengannya.
Norra tersenyum sendu. Dia memang belum mengenal betul seperti apa Allen dan bagaimana kehidupannya. Namun, melihat Clara, gadis itu tahu bahwa Allen adalah pria yang sulit digapai wanita biasa. Jangankan wanita biasa, bahkan sekelas model papan atas seksi seperti Clara saja sulit. Lantas, apa yang membuat Allen jatuh cinta padanya? Tuluskah perasaan pria itu selama ini?
Norra refleks menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak boleh meragukan perasaan Allen! Meski kami baru saling mengenal, tetapi aku tahu benar bagaimana perasaan Allen padaku!" Bagai sebuah mantra, Norra merapalkan kata-kata pembangkit untuk dirinya sendiri.
Norra kembali menoleh ke arah Allen dan hendak melambaikan tangannya. Namun, cepat-cepat gadis itu mengurungkan niat, saat melihat seorang wanita anggun tiba-tiba duduk di sebelah pria itu.
Norra terperangah melihat kecantikan wanita itu. "Siapa dia? Cantik sekali!" gumam Norra yang sedikit terpana.
"Hei, itu Julia!"
"Wow, wanita itu tak hanya cantik ketika dilihat di layar kaca, tetapi juga secara langsung seperti ini!"
"Pria itu siapa? Sepertinya aku pernah melihatnya. Ia sangat cocok dengan Julia."
Norra bisa mendengar obrolan orang-orang di sekitarnya tentang wanita itu. Para wanita saja mengakui kecantikannya, bagaimana dengan laki-laki dewasa seperti Allen.
Akan tetapi yang menjadi fokus Norra kemudian adalah identitas si wanita bernama Julia tersebut. Mereka mengatakan, bahwa Julia tak hanya terlihat cantik di layar kaca. Itu berarti, Julia merupakan orang terkenal.
Tapi siapa? Batin Norra.
__ADS_1
"Ahh!" pekik gadis itu, setelah menyadari, bahwa Julia adalah salah satu pewarta berita utama yang sedang naik daun.
Nyali Norra seketika menciut.
...**********...
"Berapa lama kita tidak bertemu, Allen?" tanya Julia.
"Sudah lama sekali sepertinya. Lima tahun? Dua puluh tahun? Aku tidak ingat," jawab Allen seraya memamerkan senyumannya.
Akhirnya, setelah terganggu dengan wanita-wanita genit tak tahu aturan, dia bisa bertemu dengan seniornya di sekolah, Julia. Wanita cantik nan anggun yang kini menjadi pewarta cerdas di layar kaca. Dia juga merupakan pemimpin sebuah redaksi terkenal.
Pria itu tampak asik berbincang dengan Julia. Mereka bahkan saling mengucapkan belasungkawa. Suami Julia meninggal karena kanker sekitar tiga tahun silam. (Julia juga sempat membawakan berita soal kecelakaan maut yang menimpa keluarga Allen).
"Lalu, kau sudah menemukan pendamping lagi, Julia?" tanya Allen.
"Kau benar." Allen mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau sendiri bagaimana Allen? Apa sudah ada wanita yang mampu meluluhkan hatimu lagi?" Julia balik bertanya.
Allen terdiam sejenak, sebelum kemudian kepalanya menoleh keluar, dimana Norra sedang mencicipi beberapa kudapan yang tersedia di pinggir kolam renang.
"Oh!" celetuk Julia yang mengikuti arah pandang Allen.
"Salahkah menurutmu, padahal aku baru saja kehilangan istriku?" tanya Allen pada Julia.
Julia kontan menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak. Semua orang berhak menemukan cintanya lagi, Allen. Aku yakin sekali, istrimu tak ingin melihat kau terus-terusan terpuruk."
__ADS_1
Allen menghela napasnya sejenak.
"Kau mencintainya, kan?" tanya Julia lagi.
"Tentu saja." Jawab Allen penuh keyakinan.
Julia tertawa kecil. "Lalu, apa yang harus dikhawatirkan. Berbahagialah, maka istrimu juga akan berbahagia di sana," ucap wanita itu bijaksana.
Allen mengulas senyum tipis nan menenangkan. "Terima kasih, Julia," ucapnya tulus.
"Sama-sama, Allen. Sampaikan salamku untuk kekasihmu. Aku harus menemui si pemilik rumah untuk pamit pulang sekarang, karena sejak tadi anak-anak sibuk menelepon," kata Julia.
Keduanya pun saling berpelukan, sebelum akhirnya Julia bangkit terlebih dahulu menuju Clara.
Di lain tempat, Norra terlihat menghabiskan dua potong kue seraya bergumam kesal. "Kudapan ini enak sekali. Lebih baik aku berkutat dengan seluruh makanan ini, dari pada harus melihat pria itu bermesraan dengan wanita lain!"
Norra mencoba melirik ke arah Allen, dan menemukan pria itu ternyata sudah berjalan ke arahnya seorang diri.
Norra refleks berbalik memunggungi Allen. Dia tak ingin Allen melihat dirinya sedang kacau atau cemburu.
"Lebih baik, aku pergi dari sini dan masuk ke dalam melalui pintu lain," gumam gadis itu saat melihat pintu lain yang berada tak jauh dsri tempatnya. Namun, saat Norra hendak melangkah pergi. Dua wanita teman Clara yang kebetulan melihatnya, dengan sengaja menyenggol tubuh Norra, tatkala berjalan melewati dirinya.
Norra sontak kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik, suara deburan air kolam terdengar seketika.
Semua tamu undangan sontak terdiam. Sementara dua orang wanita itu berusaha menahan tawanya dengan cara menutup mulut menggunakan kedua tangan mereka. Beberapa tamu pria bersiap menolong. Namun, Allen dengan sigap langsung menyeburkan dirinya ke kolam sedalam tiga meter itu.
Norra yang tidak bisa berenang berusaha sekuat tenaga menggapai permukaan kolam. Namun, gaunnya yang berat sontak menahan tubuh gadis itu untuk tetap berada di dasar kolam.
__ADS_1
Norra pingsan seketika.