
Clara yang sedang sibuk melakukan pemotretan berseru senang, saat mengetahui Allen datang mengunjunginya. Wanita itu pikir, Allen hendak mengajaknya kencan, atau minimal makan siang bersama. Namun, ternyata salah. Allen datang ke sana hanya untuk memperingati dua teman Clara yang telah mendorong tubuh Norra ke kolam.
Tak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka, Clara pun meminta semua orang yang berada di studio untuk keluar.
"Mereka tak mungkin melakukan hal tersebut, Allen," ujar Clara membela. Padahal jelas-jelas dia juga tahu, kedua teman seprofesinya memang berbuat hal demikian.
"Katakan saja pesanku, atau aku yang akan mendatangi mereka secara langsung, sekaligus menghancurkan karir yang sudah mereka bangun!" ancam Allen.
Clara yang mengenal betul bagaimana Allen sontak terdiam. Tak ingin terjadi apa-apa dengan kedua temannya, dia pun mengiyakan perkataan pria itu.
"Baiklah, baiklah, jangan mengancam, oke? Aku akan menyampaikan pesanmu pada mereka. Apa kau puas?" Clara bertolak pinggang.
Allen terdiam, enggan menjawab. Dia pun berbalik hendak pergi meninggalkan studio. Namun, Clara segera menahannya.
"Hanya itu saja? Kau tak ingin makan siang dulu denganku? Ayo lah!" desak wanita itu.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Allen singkat, sebelum kemudian berjalan pergi.
Clara menatap sinis punggung Allen. "Aku tak tahu, kau memiliki kepedulian sebesar itu pada gadis lain, Allen. Padahal waktu itu kau pernah mengatakan, sedang tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Namun, ternyata kau malah membawa wanita lain ke pestaku." Clara yang tak tahan dengan sikap Allen, akhirnya bersuara.
Allen tetap saja berjalan, seolah tak mendengar perkataan Clara.
"Ahh, aku tahu sebabnya, mengapa kau semudah itu berpaling dari Winstley. Sekali lihat saja, aku pun sadar, Allen, bahwa wajah Norra sangat mirip sekali dengan Winstley, saat kita masih duduk di bangku kuliah!"
Allen terkejut mendengar perkataan Clara barusan. Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Clara.
"Kenapa Allen?" tanya Clara. "Ups, sepertinya benar ya? Maaf, aku tak bermaksud membuatmu marah. Hanya saja, kalau memang itu benar, sebaiknya kau lupakan Norra, Allen. Sebab, biar bagaimana pun juga, itu artinya perasaanmu pada Norra tidak lah tulus. Kau hanya terobsesi karena dia memiliki paras yang mirip dengan mendiang istrimu," sambung Clara panjang lebar. Tak lupa dengan raut wajah memelas.
Diam-diam Allen mengepalkan kedua tangannya . "Jangan seenaknya menilai hati seseorang, Clara!" desis pria itu sinis.
Clara lagi-lagi mengangjat bahu. "Memang. Aku hanya mengatakan apa yang kulihat dari wajahmu saja. Percayalah, aku hanya tak ingin Norra sampai tersakiti dengan fakta yang ada."
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Allen berusaha untuk tidak terpancing emosi dengan semua ocehan Clara.
"Berpikirlah sesukamu, aku tak peduli!" Setelah berkata demikian, Allen kembali berjalan meninggalkan ruangan ... kali ini, Clara sama sekali tidak menahannya.
Wanita itu malah tertawa nyaris terbahak, saat Allen telah benar-benar pergi dari sana. "Kira-kira bagaimana reaksi Norra ketika mengetahui, bahwa dia hanyalah bayang-bayang dari Winstley semata," gumam Clara sembari bertolak pinggang. Dia masih belum melepas pandangannya, meski Allen telah dari sana.
Di sepanjang perjalanan, Allen berusaha meredam emosinya. Namun, gagal. Berkali-kali dia bergumam tentang mencintai Norra apa adanya, tetapi berkali-kali itu pula dia kembali mengingat seluruh perkataan Clara.
Tiba-tiba perasaan khawatir menyerang diri Allen. Dia sangat khawatir, bila Clara dengan penilaian sepihaknya malah mendatangi Norra dan mengatakan semuanya.
Clatra tidak boleh melakukan hal tersebut. Alhasil, alih-alih kembali ke kantor, pria itu malah memutar balik mobilnya untuk pergi ke rumah Norra.
Allen harus membicarakan hal ini dengan samg kekasih, agar hubungan mereka tetap baik-baik saja.
"Siaalaan kau, Clara!" umpatnya kesal.
__ADS_1