Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
23. Toko Kue Norra.


__ADS_3

Sorot kekhawatiran Norra dan Rosemary tak bisa disembunyikan lagi. Pasalnya, sudah tiga hari ini toko mereka sepi, meski telah direnovasi habis-habisan. Bahkan hari ini hanya satu dua orang pembeli luar saja yang datang membeli kue mereka. Itu pun bukan pelanggan tetap, melainkan hanya orang yang kebetulan melewati jalan tersebut.


Sementara sisanya dibeli oleh para tetangga, yang mungkin kasihan melihat toko tersebut sangat sepi.


Norra sama sekali tidak mengerti alasan para pelanggan kompak tak lagi datang ke sana. Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui benak Norra.


"Bu, apa jangan-jangan ini imbas dari Carlos? Bisa saja anak buah Carlos diam-diam melakukan sesuatu pada kita!" celetuk Norra tiba-tiba. Sorot matanya terlihat sedikit kesal.


Rose langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, Nak. Untuk apa mereka melakukannya? Bukan kah dengan tertangkapnya Carlos, justru para anak buahnya akan pergi. Terbukti, mereka tak lagi mengganggu distrik ini."


Norra memajukan bibirnya. "Tak mungkin semudah itu, Bu. Mereka mafia, tak mungkin akan menyerah dan mundur semudah itu!" serunya.


Rose menghela napas pasrah. Wanita itu tak ingin berpikiran buruk, tetapi mungkin saja perkataan Norra ada benarnya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya pada sang putri tercinta.


Norra bergeming sesaat. "Aku harus mencari tahu, mengapa para pelanggan kompak tidak datang ke toko kita!" jawab gadis itu.


"Biar kubantu, Kak!" seru seorang remaja laki-laki yang baru saja masuk ke dalam toko mereka. Dari seragam sekolah yang dikenakannya, ia pasti baru pulang sekolah.

__ADS_1


"Alex!" seru Norra, tatkala mendapati anak dari salah seorang tetangganya datang.


"Aku juga penasaran, kenapa toko Oma yang seenak ini sepi. Pelanggan hilang begitu saja secara tiba-tiba. Jadi, biar aku bantu mencari tahu," ujar remaja berusia 18 tahun itu.


"Kau yakin bisa, Alex?" tanya Norra dengan mata melotot.


"Serahkan saja padaku!" jawabnya percaya diri.


Norra berseru senang. Dia dan Rose berterima kasih, karena remaja baik hati itu mau membantu.


Para siswa dan siswi sekolah segera membubarkan diri begitu mendengar bel sekolah mereka berbunyi. Norra yang mengajar anak-anak kelasnya pada jam terakhir menunggui mereka satu persatu keluar kelas.


Matanya kemudian tertuju pada Willy, anak dari sang kekasih, Allen, yang tampak murung. Gadis itu memutuskan menghampiri Willy dan mengajaknya keluar kelas bersama.


"Kau tampak murung, Will. Ada apa? Mau bercerita?" tanya Norra lembut.


"Aku hanya merindukan Papa, Miss. Sudah tiga hari ini aku dijemput sekolah Uncle Bob. Bukannya tidak suka, hanya saja aku ingin Papa yang menjemput," jawab Willy dengan wajah tertunduk lesu.

__ADS_1


Norra berhenti melangkah dan bersimpuh di hadapan Willy. Gadis itu membenarkan kerah seragam sang anak yang terlihat tidak beraturan, lalu mengelus kepalanya lembut. "Bersabarlah, Papa akan pulang besok, kan?"


Willy mengangguk. "Miss tidak merindukan Papa?" tanya bocah itu polos.


Semu merah menghiasi wajah Norra. Tentu saja dia merindukan kekasihnya itu. Meski mereka selalu rajin melakukan kontak melalui video call, tetap saja kerinduan yang Norra rasakan tidak terobat.


"Tentu saja." Jawab Norra tersenyum. "Bersabar ya? Besok, setelah papamu pulang, kau bisa bebas bersamanya, bukan?"


Willy mengangguk. "Aku ingin mengajak Papa makan ice cream bersama Miss, bolehkah?" tanyanya.


"Oke!" jawab Norra bersemangat. "Kalau begitu, kau tak boleh bersedih lagi. Sekarang, aku akan menemanimu menunggu Uncle Bob, tapi sebelum itu, kita ke kantor dulu untuk mengambil tasku, ya?"


Willy mengangguk antusias. Keduanya pun berjalan menyusuri lorong sekolah dengan bergandengan tangan.


Norra kini sudah terbiasa mendengar ledekan beberapa guru setiap melihat dirinya bersama Willy. Meski tidak lagi sesinis dulu, tetapi tetap saja ada satu dua guru yang masih melihatnya dengan sebelah mata.


Norra tidak peduli. Lagi pula, apa yang dia jalani sama sekali tidak mempengaruhi hidup mereka, jadi, untuk apa dia repot-repot mengkhawatirkan cemoohan orang.

__ADS_1


__ADS_2