
"Selamat datang ... kau lagi?" Norra yang sedang menunggu toko sendirian, terkejut mendapati sosok Clara yang kembali datang ke tempatnya. Namun, kali ini, wanita itu bahkan tidak mengajak siapa pun.
"Sepertinya kau tidak senang melihat kedatanganku?" tanya Clara tersenyum.
"Jelas tidak pada manusia kurang ajar yang tidak menghargai pemberian tulus orang lain!" jawab Norra sinis.
Mendengar perkataan tersebut, Clara sontak tertawa kecil lalu berdeham. "Jangan salahkan kami. Kami hanya harus menjaga bentuk tubuh kami agar tetap ideal." Raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan penyesalan sedikit pun.
"Dengan membuang pemberian tulus orang lain? Cih! Kalau begitu, untuk apa kau datang kemari? Lebih baik pergi dari sini, karena tempat ini tidak cocok untukmu!" Tanpa basa-basi, Norra mengusir Clara terang-terangan. Dia tak peduli Clara akan menantangnya berkelahi atau apa. Gadis itu hanya ingin meluapkan rasa sakit hati, karena mereka tidak menghargai pemberian ibunya.
Clara tersenyum sinis lalu berjalan mendekati etalase, tempat di mana Norra berada.
Setelah cukup dekat, wanita itu kembali berkata, "aku memang tidak berniat membeli kue-kuemu. Aku hanya ingin memberitahu sesuatu soal Allen."
Norra mengerutkan keningnya. Dalam sekali lihat saja, dia sudah mengetahui bagaimana sifat Clara sebenarnya. Gadis itu harus waspada.
Melihat Norra tampak tidak tertarik, Clara tertawa kecil. "Aku yakin kau tidak akan berlaku demikian setelah mendengar hal ini, Norra," katanya.
"Mendengar apa? Singkat saja, karena aku sedang sibuk. Kehadiranmu menghalangi keberuntungan tokoku!" seru Norra ketus.
Clara mengangkat bahunya. "Tahukah kau, mengapa Allen mendadak menyukaimu, padahal dia baru saja kehilangan sang istri?" tanya Clara kemudian.
"Tak ada alasan yang mampu menggambarkan perasaan seseorang, Clara. Terlebih, jika perasaan itu tulus," ucap Norra.
Mendengar kalimat tersebut, Clara sontak tertawa. "Kau benar-benar polos sekaligus bodoh, Norra!"
Norra melotot, tampak tak terima dengan kata-kata Clara. "Apa maksudmu!"
Clara terdiam. "Dengar Norra, alasan Allen menyukaimu adalah wajah yang kau miliki saat ini."
"Maksudmu?" Norra mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Clara kemudian membuka tas kecilnya dan menyodorkan selembar foto pada Norra. "Kau tak akan percaya bila kau tak melihatnya."
__ADS_1
Norra mengambil foto tersebut dan menelisiknya baik-baik. Sedetik kemudian, matanya terbelalak lebar.
Bagaimana tidak, di dalam foto lawas tersebut terdapat potret beberapa orang. Salah satunya adalah Allen sewaktu muda. Namun, yang lebih menyita perhatian Norra hingga membuatnya terkejut adalah, sosok seorang gadis yang sangat mirip dengannya.
"Ini adalah fotoku, Allen, dan teman-teman kami saat masih kuliah. Dan seperti yang kau lihat, gadis yang ada di sebelah Allen adalah Winstley, teman kuliah sekaligus istrinya. Kemiripan wajah yang kalian miliki itu lah alasan Allen mengejarmu, Norra!" seru Clara.
Norra menatap lekat-lekat wajah Winstley yang ada dalam foto sekali lagi ... dan benar, wajah mereka memang sangat mirip. Hanya rambut dan tinggi badan saja yang tampak berbeda.
Jantung Norra berdebar kencang. Kekecewaan hinggap di hatinya. Setelah dipikir2, pantas saja Allen begitu aneh ketika pertama kali bertemu dengannya. Jangankan Allen, Willy pun berlaku demikian. Ternyata anak itu pun menyadari kemiripan wajahnya dengan wajah sang ibu saat muda. Mungkin dia pernah melihat potret ibunya dulu.
Clara tersenyum sinis melihat sorot mata Norra yang berubah mendung. Dia pun menegakkan dirinya. "Kuberikan itu padamu sebagai kenang-kenangan," kata wanita itu, sebelum kemudian pergi meninggalkan toko Norra.
Norra lantas berbalik menyandar pada etalase. Air mata mengalir membasahi pipi gadis itu. Entah mengapa, dia merasa sedang ditipu habis-habisan oleh Allen.
...**********...
Allen sama sekali tidak mengerti, mengapa Norra tidak mau mengangkat telepon, atau pun membalas pesan singkat yang dikirimkannya selama beberapa hari ini. Di sekolah pun, Norra tidak muncul seperti biasa untuk sekadar menyapa dirinya.
Willy bilang, Norra terlihat buru-buru pergi begitu bel sekolah berbunyi.
Norra sedang sibuk membersihkan toko, ketika Allen masuk tanpa permisi. Gadis itu bergegas pergi ke dalam setelah melempar sapunya sembarang. Namun, Allen dengan sigap menahan tangan Norra.
"Ada apa denganmu?" tanya Allen dengan wajah kebingungan.
Norra terdiam. Gadis itu sama sekali enggan menjawab pertanyaannya. Jangankan menjawab, membalas tatapannya pun seolah tidak sudi.
Dalam hati Allen bertanya-tanya sekaligus berusaha mengingat-ingat, mungkin saja dia memiliki kesalahan yang tidak termaafkan.
"Ada yang salah dariku? Katakan, jangan diam seperti ini. Kau bisa membuatku gila!" seru Allen frustrasi.
"Bagaimana denganku? Apa kau tidak memikirkan perasaanku juga yang suatu saat nanti mungkin saja bisa gila!" balas Norra sengit.
Allen sontak mengerutkan keningnya. Memang apa yang telah dia lakukan sampai membuat gadis itu gila?
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Allen.
Tanpa menjawab, Norra merogoh kantong apronnya dan meletakkan secarik foto di atas meja terdekat.
Allen lantas mengambil foto tersebut. Matanya sontak terbelalak begitu melihat foto yang ternyata merupakan potret dirinya dan teman-teman kuliah, termasuk Winstley.
Allen tentu mengerti mengapa Norra begitu marah padanya.
"Aku mendapat foto ini dari Clara," ungkap Norra. "Seharusnya aku tahu sejak awal, bahwa kau tak pernah benar-benar memiliki perasaan padaku. Kau hanya menyukai wajahku, tidak dengan yang lainnya. Di matamu, aku adalah Winstley."
Allen tersentak melihat air mata mengalir membasahi pipi Norra.
"Norra, bukan begitu maksudku," kilah Allen. Pria itu berusaha menjelaskan perasaannya.
"Aku tak bisa memungkiri hal tersebut. Namun, bukan berarti aku mencintaimu sebagai Winstley, TIDAK!" tekannya.
Helaan napas keluar dari mulut Allen. "Aku mencintaimu sebagai Norra. Sejak awal aku mengatakan perasaanmu, karena kau adalah Norra. Rupa kalian yang sama hanya petunjuk untukku dalam menemukan dirimu."
Norra terdiam. Gadis itu sama sekali tidak dapat menerima penjelasan Allen yang terasa dibuat-buat.
Norra menghapus air matanya, lalu tersenyum pada Allen. "Terima kasih untuk segalanya, Tuan Allen. Lebih baik memang seharusnya kita tidak bertemu. Tenang saja, semua balas budi yang kau lakukan padaku, akan kuganti secepatnya."
Setelah berkata demikian, Norra pergi meninggalkan Allen begitu saja.
Allen termangu. Pria itu menatap kepergian Norra dengan mata basah. Dia sama sekali tidak menyangka, Norra akan mengetahuinya dengan cara seperti ini, padahal dia berniat memberitahukannya sendiri, sekaligus menekankan bahwa dia dan Winstley adalah wanita berbeda.
Allen berjalan lunglai menuju ke mobilnya. Pria itu kemudian membuka dasboard dan mengambil sebuah kotak berwarna merah terang.
Di dalam kotak tersebut terdapat cincin berlian, yang semula akan dia gunakan untuk melamar Norra pada hari ulang tahunnya nanti. Namun, sepertinya rencana tersebut tidak dapat terlaksana.
Allen menggenggam erat kotak tersebut. Dia tak ingin menyerah. Pria itu harus membuktikan, bahwa perasaannya pada Norra adalah ketulusan.
Sementara Norra segera mengurung dirinya di kamar. Sembari bersandar di daun pintu, gadis itu menangis terisak-isak. Norra lantas mengalihkan pandangannya pada sebuah figura foto yang terletak di atas nakas.
__ADS_1
Foto tersebut merupakan foto dirinya, Allen, dan Willy. Melihat foto itu, isak tangis Norra semakin keras.
Dia sangat mencintai Allen, tetapi dia tak ingin hidup di hati pria yang dicintainya sebagai bayangan seseorang.