Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
16. Clara.


__ADS_3

Rose dan Norra hanya bisa terdiam sambil memandangi keadaan di luar toko yang masih sangat sepi.


Bagaimana tidak, selain para tetangga, tidak ada satu pun pelanggan lain yang datang mengunjungi toko mereka. Biasanya, para pelanggan akan langsung datang membanjiri tempat, begitu membaca pengumuman yang tertempel di dinding toko. Bahkan mereka pernah sampai kesulitan untuk keluar dari rumah, karena pelataran juga terhadang para pelanggan.


"Sepertinya mereka tidak membaca pengumuman yang aku tempel," gumam Norra, yang sedetik kemudian langsung disergahnya sendiri. Mustahil para pelanggan tidak datang ke toko mereka saat tutup kemarin. Beberapa tetangga pun sempat melihatnya.


"Apa karena kita sudah terlalu lama libur ya, Nak?" Rose yanh baru saja selesai menata kue terakhir, akhirnya membuka suara.


Norra kontan menggeleng. "Sepertinya tidak, Bu. Kita malah pernah tidak membuka toko lebih dari sebulan, kan," jawab gadis itu lesu, sambil bertopang dagu di atas etalase kue.


Rose terdiam sejenak. "Mungkin saja, karena kue-kue yang kita jual variannya tidak terlalu banyak ya?" kata wanita paruh baya itu kemudian. Maklum saja, Rose memang bertekad mempertahankan ciri khasnya dengan hanya menjual beberapa jenis kue saja.


Norra memang pernah menyarankan beliau untuk menambah varian dan jenis kue, tetapi Rose enggan melakukannya.


"Tidak juga, Bu. Mereka tahu toko kue Ibu adalah toko kue legendaris yang terkenal. Sudah pasti mereka tahu, Ibu hanya akan menjual jenis kue tertentu saja." Norra menggeleng, berusaha menenangkan pikiran sang ibu.


"Kalau begitu, Ibu sepertinya harus belajar membuat kue yang sedang digandrungi pelanggan. Sayang, bisakah kau memeriksa jenis-jenis kue apa saja yang banyak disukai orang-orang?" titah sang ibu kemudian.


Norra mengangkat alisnya. "Ibu yakin?" tanya gadis itu.


Rose mengangguk. "Kita juga butuh pembaharuan di sana sini," ujar wanita paruh baya itu, seraya menatap sekeliling toko.


"Kalau begitu, aku akan mencari beberapa orang untuk membantu pekerjaan kita!" usul Norra semangat.


Rose tertawa kecil.


...**********...


"Terima kasih, Mr. West." Seorang pria bertubuh tinggi besar mengulurkan tangannya pada Allen.


"Sama-sama, Mr. Bernard. Senang bekerja sama dengan Anda." Allen dengan ramah menyambut uluran tangan pria itu. Mereka baru saja selesai menandatangani perjanjian kerja sama antar kedua perusahaan.


Allen pun meminta Sebastian untuk mengantar pria itu keluar ruangan.


Selepas mereka pergi, Allen langsung menyandarkan tubuhnya di kursi, sembari mengembuskan napasnya. Dua hari ini merupakan hari yang sangat sibuk di kantor. Beberapa rapat dan pemeriksaan laporan yang sempat tertunda satu demi satu diselesaikan Allen.


"Pulanglah, bro, kau pasti lelah," ujar Sebastian begitu masuk kembali ke dalam ruangan Allen.


"Apa tidak ada lagi yang harus kukerjakan?" tanya Allen.

__ADS_1


Sebastian mencibir. "Yang benar saja! Pekerjaanmu banyak sekali, bro. Namun, aku tak bisa melihat wajah kusutmu itu!" serunya.


Allen merenggangkan seluruh tubuhnya yang terasa kaku, lalu berdiri dari kursi kebesarannya. "Aku ingin makan kudapan. Ayo!"


Sebastian tak bisa menolak, karena biar bagaimana pun, pria itu memang butuh sedikit pengalihan. Alhasil, keduanya pun pergi menuju keluar. Allen mengajaknya untuk makan di cafe kecil seberang kantor.


...**********...


"Allen!"


Saat Allen dan Sebastian tengah asik menikmati kudapan manis mereka, tiba-tiba suara seoramg wanita terdengar dari kejauhan.


Allen refleks menoleh ke sumber suara. Matanya sontak terbelalak. Begitu pun dengan Sebastian.


"Oh, my God, benar Allen ternyata! Ahh, Bas, kau juga ada di sini rupanya!" Clara, wanita cantik berpenampilan seksi, berlari kecil menghampiri meja mereka.


Dia adalah teman satu angkatan Allen, Sebastian, dan Winstley semasa kuliah dulu, yang juga menaruh perhatian pada pria itu (meski teman seangkatan, usia Clara memiliki selisih tiga tahun di atas Allen).


Saat Allen terbangun dari komanya, selepas kepergian Winstley, Clara bahkan sempat dengan kurang ajar mencuri kesempatan untuk mendekati Allen.


Sejak dulu, wanita itu memang dikenal memiliki tingkat keegoisan yang tinggi. Dia juga wanita sombong yang gemar merendahkan orang. Oleh sebab itu, Allen tidak pernah mau berdekatan dengannya.


Disapa dengan ramah oleh pria pujaan hatinya, Clara pun tanpa permisi mengambil tempat duduk yang kosong di sebelah Allen.


"Clara, bukankah sekarang kau tinggal di luar negeri?" tanya Sebastian.


Clara tertawa genit. "Hahaha, iya. Aku hanya sedang rindu dengan kampung halaman saja. Sebenarnya, sudah sejak lama aku mengajukan cuti kepada agensi. Namun, kalian tahu benar, karirku sebagai model sedang diperhitungkan di sana. Jadi, butuh waktu sedikit lebih lama sampai agensiku mengizinkan cuti ini."


Mendengar penjelasan Clara yang dipenuhi dengan kesombongan, baik Allen mau pun Sebastian menahan diri untuk tidak pergi dari sana.


"Keren sekali," puji Sebastian sekenanya.


"Terima kasih," ucap Clara bangga. Wanita itu pun mengalihkan perhatiannya pada Allen lagi.


"Kau sendiri bagaimana Allen?" tanya Clara seraya bertopang dagu. Matanya sesekali mengedip seksi pada pria itu.


"Hmm, biasa saja. Aku masih sibuk mengurus kantor. Tak ada yang istimewa." Jawab Allen singkat.


Clara sontak menggerak-gerakkan jari telunjuknya di hadapan Allen. "Bukan itu maksudku," katanya.

__ADS_1


Allen mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


"Pendamping. Apa kau sudah memiliki pendamping lagi Allen?" Clara memperjelas pertanyaannya.


Allen mendengkus kecil. "Tidak." Jawabnya singkat.


Mendengar jawaban Allen, Clara justru tertawa kegirangan bak gadis remaja yang sedang kasmaran. Dia bahkan mendekatkan kursinya sedikit lebih dekat ke arah Allen. "Mengapa tidak? Adakah seseorang yang kau tunggu?"


Allen mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"


Clara dengan cepat memegang tangan Allen.


Allen mencoba melepaskan diri, tetapi Clara menahannya sekuat tenaga. Sementara Sebastian pura-pura tidak melihat, padahal dia sedang berusaha menahan tawanya agar tidak menggelegar.


"Tentu saja aku. Aku terlalu lama berada di luar negeri, jadi mungkin itu yang membuatmu mempertahankan kesendirian, kan?" tanya Clara percaya diri.


Allen terdiam sesaat demi mengontrol emosinya. "Aku hanya belum melupakan Winstley." Tangannya perlahan melepaskan cengkeraman Clara.


"Oh." Clara tampak lesu. Dia tahu, sulit bagi Allen melupakan mendiang istri tercintanya. Baru saja wanita itu hendak membuka suaranya kembali, tiba-tiba seseorang datang menginterupsi.


"Nona Clara, pesanan sudah selesai. Ayo!"


Clara memutar bola matanya kesal. "Asisten sialaan. Tidak lihat aku sedang apa!" umpatnya.


Wanita itu kemudian menatap Allen dan Sebastian bergantian. "Baiklah kalau begitu. Ahh, aku mengadakan pesta kepulangan tiga hari lagi di rumah. Kuharap, kalian mau datang, atau aku akan menghantui kalian." Tawa genit kembali keluar dari mulut Clara.


"Oke, terima kasih undangannya, Clara," jawab kedua pria itu.


Clara pun berdiri dari tempat duduknya. "Jangan sampai tidak datang ya? Ajak siapa pun rekan kalian. Kita akan reuni kecil-kecilan di rumahku. Bye!" Sembari berlalu, Clara memberikan kecupan jarak jauh pada mereka berdua.


Allen dan Sebastian kompak membuang napasnya, begitu Clara sudah pergi dari sana. Mereka bahkan tidak sadar sejak kapan dan sudah berapa lama menahan napas.


"Bisa-bisanya dia kembali kemari," ujar Sebastian.


" ... Dan dia masih saja seperti itu." Allen mengeluh. Nafsu makannya mendadak hilang.


"Ya. Dia bahkan sama sekali tidak menanyakan apa pun tentang diriku, selain sapaan."


Mendengar perkataan Sebastian barusan, Allen refleks menoleh ke arah sang sahabat.

__ADS_1


"Apa?" tanya Sebastian seraya mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.


__ADS_2