Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
24. Strategi.


__ADS_3

Norra tercengang tidak percaya, setelah mendengar kabar dari Alex, anak tetangganya yang sudi membantu mencari tahu kenapa toko kue mereka bisa sepi.


Pantas saja, sebab anak buah Carlos rupanya menyebarkan rumor, jika toko kue Norra menggunakan bahan-bahan berbahaya agar tahan lama.


Norra marah mengetahui orang-orang beradab itu masih saja berusaha membuat keluarganya celaka. Namun, gadis itu tidak bisa berbuat banyak. Dia tak ingin salah langkah dan berakhir seperti tempo hari.


Alhasil, dari pada mengurus anak buah Carlos, Norra dan Rose pun mengatur strategi agar toko kue peninggalan sang ayah bisa kembali ramai seperti dulu.


Saat Norra, Rose, dan Alex tengah sibuk berdiskusi, Allen yang baru pulang dari kunjungan dinas di luar kota datang ke sana. Willy pun ikut serta.


Norra tersenyum sumringah. Gadis itu berusaha menahan diri untuk tetap bersikap sewajarnya. Padahal jelas-jelas dia ingin melepas rindu dengan memeluk tubuh sang kekasih.


"Apa yang terjadi? Kenapa toko tidak buka?" tanya Allen.


"Toko sebenarnya buka sejak kau pergi, tetapi tak ada satu pun pelanggan luar yang datang ke sini. Aku memutuskan mencari tahu, dan Alex bersedia membantu. Ternyata alasan di balik itu semua karena anak buah Carlos menyebarkan rumor buruk tentang kue-kue buatan ibu." Suasana hati Norra yang sempat membaik, kini kembali buruk.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Allen merapatkan gigi-giginya. Setelah apa yang telah dia lakukan, rupanya Juan dan beberapa orang lain masih berusaha mencari gara-gara.


"Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Allen pada Norra.


"Maaf. Aku hanya tak ingin menambah beban pikiranmu yang sedang sibuk mengurus pekerjaan." Norra tertunduk. Matanya tak berani melirik sang kekasih.


Allen menghela napas. Dia pun mengusap lembut kepala Norra, dan mulai menanyakan strategi apa yang akan mereka pakai untuk membuat toko kembali ramai.


Alex mengusulkan agar mereka mencetak pamflet sebanyak-banyaknya sebagai ajang promosi.


Sementara Norra sendiri mengusulkan open kitchen sebagai konsep baru toko mereka. Sebab, dengan begitu, para pembeli bisa tahu bahan-bahan apa saja yang digunakan untuk membuat kue.


Rose setuju. Allen bahkan memuji usulan sang kekasih.


Untuk Allen sendiri, pria itu berencana memasarkan produk kue di kalangan kantor dan koleganya.

__ADS_1


Setelah sepakat berunding, Alex pun pamit pulang. Remaja itu berjanji akan menyelesaikan desain tersebut dengan cepat.


"Tak perlu memaksakan diri, Alex!" seru Norra, saat Alex sudah menutup pintu toko.


"Tenang saja!" teriak Alex sambil melambaikan tangannya dan berlalu pergi. Sementara itu, Rose mengajak Willy ke dapur untuk menyantap kue buatannya.


"Dia anak yang baik," puji Allen, saat Alex benar-benar menghilang dari hadapan mereka.


"Dia memang anak yang baik. Waktu kecil dia sering sekali main ke sini . Namun, kesibukan sekolahnya lama-lama membuat Alex tak lagi memiliki waktu." Norra tersenyum memandang Allen.


Allen berjalan menghampiri Norra dan memeluknya erat. "Aku sangat merindukanmu," ucap pria itu.


"Aku juga," jawab Norra. Keduanya pun melepaskan pelukan mereka setelah beberapa saat.


"Maaf, aku tidak memberitahukanmu soal keadaan di toko. Aku hanya tak ingin membebani dirimu." Norra menatap Allen lembut. Seulas senyum terpatri di wajah cantiknya.

__ADS_1


Allen tidak menjawab. Dia malah kembali memeluk Norra erat. Tak ada yang bicara setelah itu. Keduanya menikmati komunikasi mereka lewat pelukan hangat.


__ADS_2