
Tempat yang mereka tuju tidaklah terlalu jauh. Dalam waktu lima belas menit ketiganya tiba di depan sebuah rumah mewah bergaya minimalis.
Rumah tersebut tampak ramai dengan berbagai ornamen ulang tahun. Meski acara belum dimulai, beberapa tamu bahkan sudah terlihat mendatangi rumah tersebut.
Sambil membawa kue tart dan beberapa cupcakes, Allen dan Norra berjalan menuju rumah tersebut, sementara Willy memilih menunggu di dalam mobil.
Beberapa gadis yang ada di sana sontak mengalihkan pandangann mereka pada sosok Allen. Terang saja, siapa yang tidak terpesona melihat pria tampan bermata biru yang memiliki tinggi tubuh menjulang. Belum lagi bentuk tubuh Allen yang tercetak sempurna di balik kemejanya. Bisikan-bisikan nakal disertai kikikan genit sontak saja terdengar samar di telinga keduanya.
Norra refleks menoleh ke arah Allen. Pria itu tampak biasa-biasa saja, seolah sudah terbiasa menghadapi keadaan menyebalkan seperti ini.
Norra tercengang salut. Dia pun turut masa bodoh, tatkala seorang gadis genit secara terang-terangan membicarakan dirinya bersama dua gadis lain.
"Kak Norra!" Alyssa, si pemilik rumah sekaligus yang berulang tahun, menyambut hangat kedatangan mereka berdua.
"Maaf, kami datang terlambat, Alyssa," ucap Norra tak enak hati.
Alyssa sontak menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak! Acaranya bahkan masih belum mulai!" seru gadis itu ramah.
Norra pun memberikan kue-kue yang mereka bawa pada dua asisten rumah tangga Alyssa, sedangkan sisanya, Alyssa meminta dua orang asisten yang lain untuk mengambil di mobil Allen.
"Siapa itu, Kak? Kekasihmu, kah? Wah, tak kusangka, kau menyukai pria matang," kelakar Alyssa setelah Allen bersama dua orang asisten gadis itu pergi menuju mobilnya.
Norra tertawa kecil. "Sembarangan! Dia hanya kenalanku."
"Aih, aku tak percaya!" Gadis itu sedikit mendesak Norra untuk bicara. Kedekatan mereka memang membuat Alyssa tak canggung menanyakan hal-hal pribadi pada Norra. Namun, Norra yang memang berkata jujur terus saja berkata, bahwa mereka berdua hanyalah teman biasa.
"Baiklah, baiklah, untuk sekarang hanya teman."
Baru saja Norra hendak membalas godaan Alyssa, Allen sudah kembali.
Alyssa pun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih, tak lupa, dia juga meminta mereka berdua untuk ikut menikmati pesta. Namun, keduanya menolak harus. Norra tak ingin meninggalkan ibunya lebih lama sendirian di rumah.
"Baiklah. Sampaikan salamku untuk Rose ya, Kak?" ucap Alyssa. "Sekali lagi terima kasih, dan salam kenal Kak Allen yang tampan."
Allen tertawa kecil. Dia pun memuji balik penampilan remaja tanggung itu, sebelum kemudian pergi meninggalkan rumah.
Lagi-lagi pandangan genit mengiri langkah mereka. Bahkan, kini seorang gadis remaja berpenampilan seksi memberanikan diri mendekati Allen.
"Halo, Kak," ucap si gadis.
__ADS_1
Allen dan Norra refleks berhenti. Kendati tak nyaman dengan tatapan si gadis, Allen tetap berusaha terlihat biasa.
"Kakak tidak ikut menikmati pesta di sini? Kenapa terburu-buru?" tanya si gadis percaya diri.
"Saya bukan tamu di sini," jawab Allen datar.
Seolah mendapat respon dari Allen, si gadis malah semakin berani. "Aku Zillya. Siapa nama Kakak?" Gadis bernyali itu mengulurkan tangannya ke arah Allen, sambil tersenyum menggoda.
Norra yang berdiri di sebelah Allen tanpa sadar mengerutkan keningnya, sembari menatap gadis centil itu dengan raut kekesalan.
Sementara Willy yang sedari tadi duduk diam di dalam mobil pun akhirnya memilih keluar, setelah melihat sang ayah sedang terjebak bersama seorang gadis. Sambil berlari, bocah berusia delapan tahun itu memanggil Allen lantang.
"Papa!"
Allen menoleh ke arah sang putra dan dengan cepat menangkap tubuhnya. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada si gadis. "Maaf, putraku sudah menunggu."
Mendapati Allen sudah memiliki putra, gadis itu hanya bisa mematung di tempat dengan wajah memerah. Bahkan, tak hanya itu saja, Allen tanpa permisi menggandeng mesra tangan Norra.
Norra tentu saja terkejut. Namun, dia tetap berusaha mengikuti permainan Allen.
Dari jauh, baik Allen, Norra, mau pun Willy dapat mendengar jelas tawa anak-anak lain, yang tengah menertawakan gadis itu.
...**********...
Semula Allen hendak mengantar Norra sampai ke rumah, tetapi gadis itu menolak keras.
"Aku lah yang harusnya berterima kasih. Sudah lama rasanya aku tidak menikmati suasana rumah seperti tadi, dan itu sangat menyenangkan." Jawab Allen ramah.
"Aku senang, Anda dan Willy menyukai rumah sederhana kami." Norra tersenyum simpul.
Suasana di antara keduanya sempat hening sejenak, sebelum kemudian Allen kembali membuka suara. "Omong-omong, maafkan sikap kurang ajarku tadi. Aku ... hanya ...."
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku juga mungkin akan bersikap demikian bila jadi Anda," ujar Norra.
Mendengar itu, Allen tampak berlega hati. Sekali lagi pria itu mengucapkan terima kasih pada Norra, dan berharap dia tidak membencinya.
Norra refleks tertawa. "Tentu saja tidak." Jawabnya seraya melambai-lambaikan tangan.
Allen sontak ikut tertawa.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Allen.
Norra menganggukkan kepalanya. "Hari-hati di jalan," ucap gadis itu.
Saat Allen baru membuka pintu mobil, pria itu kembali menoleh ke arah Norra. "Hmm, Norra!"
"Ya?" Norra mengangkat alisnya.
"Tak perlu seformal itu padaku. Kuharap, kita bisa berteman baik, tak hanya sebagai wali kelas dan wali murid saja." Entah keberanian dari mana, Allen tiba-tiba mengatakan hal demikian.
Mendengar perkataan pria itu, Norra mengangguk malu-malu. "Baiklah."
...**********...
Di sepanjang perjalanan, Allen tidak bisa berhenti memikirkan Norra. Sesekali, pria itu bahkan memandangi tangannya, yang tadi sempat memggenggam tangan gadis itu, saat keluar dari rumah Alyssa.
Allen tidak dapat memungkiri debaran jantungnya yang selalu berdetak cepat setiap kali bertemu dengan Norra. Namun, di satu sisi, Allen merasa telah mengkhianati Winstley. Apa lagi Winstley baru saja meninggal tak sampai empat bulan lalu.
Refleks, Allen mencengkeram dadanya seerat mungkin. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," gumam pria itu.
Sementara Norra berulang kali merapalkan mantra-mantra aneh, hingga tiba di rumahnya.
"Jangan bodoh, Norra! Jangan bodoh, Norra! Jangan bodoh, Norra!"
"Siapa yang bodoh, Sayang?" tanya Rose dengan raut kebingungan.
Norra tersentak kaget. Buru-buru dia menggelengkan kepalanya pada sang ibu. "Tidak apa-apa, Bu. Hehehe."
"Omong-omong, ke mana Naik Allen? Ibu pikir, dia mengantarmu sampai ke sini," ujar sang ibu kemudian.
"Aku menolaknya, Bu. Kasihan Willy," jawab Norra.
"Oh, sayang sekali, padahal ibu sudah membuatkan cookies enak ini." Rose mengangkat sebuah kotak berisi cookies warna-warni yang tertata apik di dalam sana.
"Ahh, sayang sekali," ucap Norra.
"Tidak apa. Kau masih bisa memberikannya besok di sekolah, kan?" tanya Rose dengan wajah sumringah.
"Hah?"
__ADS_1