Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
9. Bantuan Allen.


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Allen begitu melihat kepanikan dan tangisan Norra.


"Ibuku, ibuku masuk rumah sakit!" jawab Norra tersedu-sedu.


Allen pun berusaha menenangkan Norra. Keduanya bergegas pergi meninggalkan restoran menuju rumah sakit tempat di mana Rose berada.


Rose masih terbaring lemah di IGD, saat Allen dan Norra tiba.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Norra pada dua orang tetangganya yang mengantar.


Keduanya saling berpandangan terlebih dahulu, sebelum kemudian menjawab pertanyaan Norra. "Ini karena ulah Carlos Santos."


Norra sontak mengerutkan keningnya. "Carlos Santos si preman itu? Bukankah dia ada di penjara?" tanya gadis itu lagi.


Salah seorang tetangga menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya dia telah kembali sejak tiga bulan lalu."


"Memang, apa yang sudah dia perbuat?" Kali ini Allen ikut bersuara.


"Dia sudah lama menguasai distrik tempat tinggal kami dan selalu meminta uang pajak. Setelah keluar dari penjara, pria itu meminta uang pajak lebih besar sebagai kompensasi kekosongan tiga tahun lalu." Salah seorang tetangga lain memberikan penjelasan singkat.


"Mengapa ibu tidak memberitahuku?" gumam Norra, sembari menatap Rose dengan air mata berlinang.


"Sebab, dia tak ingin membuatmu khawatir, Nak." Jemimah, sahabat baik dari Rose tiba-tiba muncul menginterupsi mereka.


Melihat kedatangan Jemimah, Norra sontak berlari dan memeluk erat wanita itu. Selain sahabat, Jemimah juga merupakan mantan penghuni Distrik Zorneva. Beliau pindah sekitar lima tahun yang lalu mengikuti putra semata wayangnya.


"Aunty," ucap Norra.


Jemimah mengelus lembut rambut Norra. "Aku kebetulan baru di sini, dan berniat mengunjungi ibumu," kata wanita paruh baya itu.


Saat mereka masih berpelukan, dokter Diana, dokter spesialis jantung yang menangani Rose, tiba di sana.


"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa solusi terbaik bagi Nyonya Rosemary adalah operasi pemasangan Ring Jantung, agar dapat membantu mengurangi kerusakan pada otot jantung, dan menekan risiko mengalami serangan jantung lain," ujar sang dokter.


"Apakah akan efektif, dok?" tanya Allen.


Dokter Diana mengalihkan pandangannya pada Allen. "Tentu saja. Ring jantung memang bukan untuk menyembuhkan penyakit jantung. Alat ini hanya bermanfaat untuk membuka arteri yang menyempit atau tersumbat. Setelah pemasangan ring jantung pun, pasien tetap harus mengonsumsi obat-obatan dan mengubah gaya hidup. Namun, itu jauh lebih baik dari pada tidak melakukan tindakan apa pun."


Baik Allen mau pun Norra menganggukkan kepalanya. Gadis itu kemudian berjalan kembali menghampiri Rose.

__ADS_1


"Bu," sapa Norra.


"Tidak usah ya, Nak. Ibu baik-baik saja dengan keadaan begini," titah sang ibu kemudian. Sejak dulu, Rose memang selalu menolak melakukan tindakan apa pun untuk mengobati penyakit jantungnya.


"Jangan begitu, Bu. Lakukan demi aku. Aku tidak memiliki siapa pun, selain Ibu." Norra menghapus air matanya yang mulai mengalir.


Rose terdiam. Dia hanya menghapus air mata sang putri lalu memintanya untuk mendekat.


Menggunakan dua tangannya yang masih lemah, Rose memeluk dan mengelus punggung Norra penuh kasih sayang. "Maafkan Ibu, karena selalu merepotkan dirimu ya?"


Mendengar itu Norra sontak menggelengkan kepalanya. "Tak ada yang direpotkan, Bu."


"Ibu mau pulang," pinta Rose.


"Nyonya harus tetap di sini selama beberapa hari untuk pemeriksaan lebih lanjut ya?" Dokter Diana lah yang menjawab permintaan Rose.


"Benar, Bu, untuk saat ini lebih baik Ibu dirawat dulu. Jangan pikirkan soal toko atau apa pun dulu," ucap Norra.


Rose pun mau tak mau mengalah. Namun, setelah menunggu beberapa saat, salah seorang perawat memberitahu mereka, bahwa ruang perawatan kelas satu sampai tiga ternyata penuh. Hanya tersisa ruang perawatan kelas VIP dan VVIP saja.


Norra bimbang, sebab asuransi yang dimilikinya dari tempat kerja hanya menanggung biaya sampai kelas satu saja.


"Ibuku masih bisa menunggu di sini, kan, Ners?" tanya Norra.


Saat Norra tengah dilanda kebingungan, tiba-tiba seorang perawat lain datang memberitahu Norra, bahwa mereka akan segera mengurus kepindahan sang ibu ke kelas VVIP.


Norra tentu saja terkejut. VIP saja dia tak sanggup membayar, apa lagi VVIP.


"Tuan Allen West telah mengurus administrasinya," jawab perawat tersebut, saat Norra menanyakan soal administrasi yang belum dia bayar.


Kedua perawat itu pun bergegas pergi meninggalkan Norra. 


Norra menoleh ke sana kemari demi mencari keberadaan Allen. Pantas saja, pria itu tidak terlihat batang hidungnya.


Baru saja Norra hendak menyusul Allen ke loket administrasi, pria itu tiba-tiba muncul.


"Apa yang kau lakukan, Allen!" seru Norra.


"Aku hanya berusaha membantu. Kita tak mungkin membiarkan ibumu menunggu di IGD lebih lama. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun," jawab Allen.

__ADS_1


"Aku tak mau menerima belas kasihan dari siapa pun, Allen. Aku masih mampu melakukan sesuatu untuk ibuku," ujar Norra keras kepala.


"Aku tidak pernah menganggap demikian, Norra. Please, jangan berpikiran buruk. Ibumu hanya harus secepatnya mendapatkan perawatan." Allen berjalan mendekati Norra.


"Tapi, aku ...." Norra tak sanggup melanjutkan perkataannya.


Allen dengan sigap memeluk tubuh gadis itu seerat mungkin.


"Suatu saat aku akan membayarnya, Allen, dan kau tak boleh menolak!" desak Norra dengan suara teredam.


"Baiklah. Itu bisa kita bicarakan nanti, yang penting ibumu bisa mendapatkan perawatan yang baik."


Allen mengelus rambut Norra, sembari sesekali menciumi kepalanya.


...**********...


Alhasil, selama beberapa hari, Rose mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan pelayanan nomor satu. Tak hanya itu saja, Allen bahkan juga menandatangani persetujuan operasi pemasangan ring jantung Rose, sebagai walinya.


Hal itu tentu saja menyebabkan ketegangan di antara Allen dan Norra pada awalnya. Gadis itu tak ingin rumor di antara mereka semakin berkembang. Dia juga tak ingin omongan orang soal dirinya yang hanya memanfaatkan kekayaan Allen, benar adanya. Namun, mau bagaimana lagi, Allen sudah mengurus semua dan Norra tidak bisa mencabut begitu saja.


Alhasil, jika kondisi Rose semakin membaik, beliau akan mulai melakukan tahapan demi tahapan menuju operasi.


"Semua akan baik-baik saja, Bu. Ibu tak perlu khawatir ya?" kata Norra pagi ini. Sudah tiga hari dia izin mengajar di sekolah demi menemani sang ibu.


"Ibu sama sekali tidak khawatir. Ibu hanya memikirkan bagaimana kita bisa membalas budi kebaikan Allen." Seulas senyum hadir di wajah letih Rose.


"Ibu tak perlu khawatir. Biar aku yang memikirkannya," tukas Norra.


Helaan napas keluar dari mulut Rose. "Allen sepertinya benar-benar menaruh perasaan padamu, Norra," kata wanita itu.


Norra terdiam sejenak.


"Apakah dia sudah menyatakan perasaannya, Nak?" tanya Rose sekali lagi.


Norra mengangguk singkat. "Beberapa kali, Bu, tapi aku menolaknya."


Mendapat jawaban demikian, Rose lantas mengerutkan keningnya. "Loh, memangnya kenapa?"


Norra melipat bibirnya sejenak. "Ada banyak faktor, Bu, terutama statusnya yang baru saja kehilangan sang istri beberapa bulan lalu. Aku hanya tak ingin terlalu cepat mengambil keputusan," jawab gadis itu hati-hati.

__ADS_1


Rose mengangkat tangannya dan mengelus tangan halus Norra. "Jangan tanya pada keadaan, tapi tanyalah pada hatimu. Ingat pula satu hal, untuk tidak menggantung perasaan laki-laki lebih lama."


Norra hanya bisa mengangguk, menanggapi nasihat sang ibu.


__ADS_2