Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
18. Persiapan ke Pesta.


__ADS_3

Norra dan Rose menatap haru penampilan baru toko kue mereka. Mereka bahkan kini memiliki papan nama toko yang terpampang jelas di luar. Memang, dengan adanya renovasi ini, ciri khas toko legendaris yang telah puluhan tahun berdiri itu tak lagi nampak.


Itulah mengapa Allen meminta foto-foto lama toko pada Norra, dan memindahkan hampir semuanya ke dalam beberapa bingkai, agar bisa dipajang di dinding toko.


Rose menyentuh lembut ujung dinding toko dengan sorot mata nanar. Dalam hati, sekali lagi dia meminta restu pada mendiang sang suami, agar bisa menjalankan toko dengan baik.


"Kau menyesal?" tanya Allen, tatkala mendapati Norra terdiam di tempat.


Norra refleks menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya saja, aku belum terbiasa. Terlalu banyak kenangan di sini. Kemarin, aku masih bisa membayangkan sosok ayah di setiap sudut toko. Aku bahkan masih bisa melihat sepeda tuanya yang terparkir tepat di sana." Gadis itu menunjuk sudut toko. "Namun, sekarang rasanya agak sulit.


Allen tersenyum simpul. Dia langsung merangkul pinggang Norra dan memeluknya hangat.


Norra menatap Allen dan membalas senyumannya. Tangan gadis itu kemudian menggenggam erat tangan sang ibu.


Rose refleks menoleh pada keduanya. Sembari menghapus setetes air mata yang sempat mengalir membasahi pipi, wanita itu berseru semangat.


...**********...


"Pesta penyambutan?" Norra menghentikan makannya, begitu mendengar ajakan Allen untuk datang bersamanya ke acara Clara.


Pria itu telah memikirkan masak-masak dan memutuskan untuk mengajak sang kekasih. Dia berharap, dengan mengajak Norra, Clara tidak akan lagi berlaku sembarangan.

__ADS_1


"Bagaimana?" Allen kembali bertanya. Tangannya dengan lembut membersihkan sisa makanan di bibir Norra.


"Terima kasih," ucap Norra. "Baiklah, boleh saja." Seulas senyum terpatri di wajah cantik gadis itu.


...**********...


Norra sontak membelalakkan matanya, saat Allen datang ke rumah dengan membawa setelan gaun mewah, yang baru saja dia beli dari butik langganan.


Semula, Norra menolak pemberian Allen, karena merasa tak enak hati. Bagaimana tidak, gaun tersebut merupakan gaun mahal yang bahkan tak sanggup dia beli, meski mengumpulkan gajinya selama setahun.


"Jangan membuang-buang uangmu untuk hal yang tidak penting!" seru Norra kesal.


"Untukmu, ibu, dan Willy, semua penting bagiku," jawab Allen.


"Barang ini tidak dapat dikembalikan lagi, dan aku tidak bermaksud membandingkan gaun-gaunmu itu." Allen mengangkat bahunya. "Ya sudah, kalau begitu, aku buang saja," ujar pria itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari bergumam soal uang yang dia habiskan.


Mendapati gaun cantik tersebut hendak dibuang Allen, Norra bergegas melarangnya. "Baik, aku akan memakainya!"


Allen tersenyum lebar dan langsung menyerahkan gaun tersebut. Melihat keseruan sang putri dan kekasihnya, Rose hanya tertawa dan meminta Norra untuk cepat-cepat berganti pakaian.


"Dia memang sedikit cerewet soal uang. Kau harus maklum, Nak Allen." Rose tertawa kecil.

__ADS_1


Allen mengangguk. "Sepertinya aku mulai terbiasa, Bu," ungkapnya jenaka.


Lima belas menit kemudian, Norra keluar dari kamarnya dengan gaun pemberian Allen.


Allen sempat terpaku melihat sosok Norra yang sangat berbeda dari biasanya. Gadis itu tampak ratusan kali lipat lebih cantik di mata Allen. Jika saja tak ada sang ibu di sana, sudah pasti Allen akan menghancurkan make up yang sudah susah payah dipakai Norra, dengan ciuuman-ciumaannya.


"Kenapa? Aku aneh ya?" tanya Norra, yang merasa bingung dengan tatapan Allen.


"Kau cantik, Sayang. Kekasihmu hanya terlalu terpesona." Mendengar celetukan Rose, Allen pun tersadar. Dia sontak menggaruk-garukkan kepalanya malu-malu.


Rose tertawa kecil, sementara Norra meringis malu juga.


Keduanya pun bergegas pamit pergi, dan meminta Rose untuk tidak menunggu.


Di sepanjang perjalanan menuju ujung gang, Norra harus menahan rasa tersipu malu, kala berpapasan dengan para tetangga yang memuji kecantikannya. Dia bahkan sampai menarik tangan Allen agar buru-buru melangkah.


Allen hanya tertawa menanggapi tingkah lucu Norra.


Sesampainya mereka di dalam mobil, barulah Allen bisa dengan mudah mencuri ciuman sang kekasih.


"Lipstikku bisa hilang nanti!" seru Norra jengkel dengan wajah memerah, padahal jelas-jelas dia memakai lipstik mate.

__ADS_1


"Tidak masalah. Bagiku, kau masih tetap cantik," puji Allen.


__ADS_2