
"Tahu dari mana tempat ini?" tanya Allen dingin.
"Pamflet disebar di mana-mana, Allen. Bagaimana mungkin kami tidak tahu." Clqra menoleh ke arah teman-temannya guna meminta persetujuan.
"Aku pikir, kalian tidak suka dengan tempat seperti ini. Jadi, silakan pergj saja dari sini!" Tanpa basa-basi Allen mengusir wanita-wanita cantik itu.
Mendengar perkataan tajam Allen, Clara mengaduh sambil tersenyum. "Kau Bicaramu memang pedas sekali Allen."
Melihat ketegangan di antara Allen, Clara san teman-temannya, Norra pun memutuskan keluar dari toko. Kebetulan ada salah seorang tetangga mereka yang baru datang untuk membantu, setelah melihat keramaian.
"Hai, Norra!" sapa Clara antusias. Wanita itu menatap Norra dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kau sudah baik-baik saja?" tanta mnya kemudian.
Norra mengangguk. Dia pun mengangkat jari telunjuknya dan meminta pada mereka semua untuk tidak membahas kejadian tempo hari.
"Oh, baiklah." Clara berakting seolah sedang menjahhit mulutnya sendiri.
Sebagai pemilik toko yang baik, Norra pun menawarkan pada mereka untuk mampir ke tokonya. Gadis itu berusaha memberi pelayanan seramah mungkin, meski dia tahu, salah satu di antara mereka adalah orang yang telah mendorong dirinya tempo hari.
Allen mengalah. Dia pun mempersilakan wanita-wanita itu masuk ke dalam toko, setelah beberapa pelanggan keluar dari sana.
__ADS_1
"Apa ini benar-benar enak?" ujar salah seorang teman Clara saat menatap berbagai macam kue yang tertata di etalase toko. Sementara yang lain sibuk menatap belasan foto yang terpajang dj dinding. Tak lupa, mereka juga melihta-lihat ke dalam dapur yang terbuka.
Setelah menyebutkan pesanan mereka, Norra segera menyiapkannya. Dia memang memilih menyiapkan sendiri pesanan untuk mereka, agar sang ibu tidak perlu banyak berinteraksi dengan wanita-wanita itu.
Tak ada ekspresi berarti dari keempat wanita itu, ketika mereka memakan kue-kue tersebut. "Jadi, berapa semuanya, Norra?" tanya Clara begitu mereka selesai memakan kuenya.
"Karena hari ini adalah hari pembukaan, jadi gratis untuk semua pelanggan." Jawab Norra ramah. Seulas senyum simpul terpatri di wajahnya.
"Ahh, begitu." Clara dan ketiga temannya pun berdiri dari kursinya dan pamit.
Melihat wanita-wanita cantik itu pamit, Rose segera datang menghampiri sembari membawa empat kantong kecil berisi kue kering.
Clara tertawa kecil dan hanya mengangguk saja.
Rose lantas menyodorkan kue tersebut pada mereka dan berterima kasih, karena telah jauh-jauh datang ke tempat ini.
Clara dan para wanita itu dengan canggung menerimanya. Mereka pun segera pamit dari sana.
...**********...
__ADS_1
Norra berseru senang mengetahui semua kue yang ada telah habis. Semula, dia pikir hari ini akan menjadi hari yang buruk seperti kemarin-kemarin, tetapi nyatanya tidak. Bahkan beberapa pelanggan harus menelan kekecewaan karena tidak mendapat jatah kue. Mereka berjanji akan kembali lagi besok.
Norra membiarkan sang ibu beristirahat duluan, selagi dia membereskan dan menutup toko bersama Allen. Sementara sang putra, Willy, sudah terlebih dahulu pulang ke rumah bersama Sebastian dan Ben.
"Terima kasih bantuannya hari ini, Mr. Allen," ucap Norra dengan nada formal.
"Untuk gadis cantik seperti Anda, saya akan selalu membantu dengan senang hati," jawab Allen dengan nada sama. Keduanya pun saling melempar tawa, lalu berpelukan.
Selesai menutup toko, Allen pun pamit pulang. Norra bersikeras mengantar Allen sampai ke depan gang. Allen mengalah. Lagi pula, dia memang masih merindukan sang kekasih.
"Hati-hati di jalan," ucap Norra.
Allen mengangguk. Pria itu memagvt mesra bibir Norra sebelum kemudian pergi bersama mobilnya.
Saat mobil Allen meninggalkan tempat, tiba-tiba dia melihat empat buah kantong kue dari tokonya.
Dihantui rasa penasaran, Norra memutuskan menghampiri kantong-kantong tersebut dan memeriksanya.
Alangkah terkejutnya gadis itu, ketika mendapati kue-kue yang ada di dalam sana ternyata masih utuh. Rasa sakit sontak menyergap hati Norra, sebab dia tahu, kantong-kantong itu adalah kue yang diberikan Rose pada Clara dan teman-temannya.
__ADS_1