
Norra tak bisa menyembunyikan kekagumannya, saat mobil yang dikendarai Allen masuk ke dalam sebuah pekarangan luas kediaman mewah Clara. Saking luas dan mewahnya, mereka bahkan membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk sampai ke rumah besar tersebut.
Gemerlap lampu pesta dan dentuman lagu sudah terdengar di telinga keduanya dari kejauhan.
Allen memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.
"Aku ... tidak percaya diri," ucap Norra, saat pria itu mengajaknya untuk turun dari mobil dan bergabung di dalam.
"Kau cantik, dan kau datang bersamaku. Jangan khawatir." Allen tersenyum simpul, berusaha menenangkan kegundahan Norra saat ini.
"Jangan tinggalkan aku ya? Aku tidak kenal siapa-siapa di sini. Jadi, kita harus saling bersama!" seru Norra.
Allen mendengkus jenaka. "Tentu saja aku tidak akan ke mana-mana," jawabnya. Dia pun segera keluar dari mobil, dan langsung membantu Norra keluar. Sambil bergandengan tangan, sepasang kekasih itu berjalan perlahan menuju rumah megah Clara.
Suasana di dalam rumah Clara tak ubahnya macam diskotik, yang pernah dia kunjungi sekali-kalinya. Ramai dan bising. Namun, berbeda dengan diskotik, para tamu undangan terlihat lebih modis dan glamour. Jelas sekali terlihat mereka bukan orang-orang sembarangan.
"Allen!" Sebastian yang datang bersama seorang wanita cantik dengan tubuh padat dan seksi, memanggil dirinya.
Allen pun mengajak Norra untuk pergi menghampiri Sebastian, yang berdiri di ambang pintu antara ruang pesta dan kolam renang.
Sebastian menyapa Norra ramah. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah insiden penculikan waktu itu. Sekali lagi, Norra berterima kasih, karena yang dia tahu, pria itu paling banyak menolong dirinya
"Sama-sama, Norra," jawab Sebastian sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pria itu berdeham kecil pada Allen yang berdiri di belakang Norra. Sementara song bos hanya berpura-pura tidak mendengar, seraya sibuk menatap ke sana kemari.
"Clara!" panggil Allen pada seorang wanita cantik berpakaian sangat minim, yang tengah bersenda gurau dengan beberapa tamu di pinggir kolam renang.
Mendapati sosok Allen, Clara melambaikan tangannya sambil memasang senyum sumringah. Wanita itu bergegas meninggalkan kelompoknya untuk menghampiri pria itu. Fokusnya pada Allen, membuat Clara sama sekali tidak menyadari kehadiran Norra.
Norra sendiri terkejut melihat tingkah Clara. Sebagai sesama wanita, dia tentu tahu bahwa Clara menyukai sang kekasih.
"Hai, Allen! Oh, my God, aku menunggumu dsri tadi. Ternyata kau datang juga!" seru Clara antusias. "Ayo, ikut aku. Teman-teman modelku ingin mengenal dirimu!" sambung wanita itu yang langsung memegang tangannya.
Allen refleks menolak. Pria itu menoleh pada Norra yang kini berdiri di sebelah Sebastian, agak tersembunyi.
__ADS_1
Clara mengikuti arah pandang Allen dan mendapati sesosok gadis polos berwajah cantik yang tengah berdiri canggung di sana.
Clara tampak mematung sesaat, sebelum kemudian berteriak heboh. Teriakannya bahkan sempat membuat para tamu menoleh ke arah mereka.
"Oh, my God, kau W—"
"Clara, kenalkan ini Norra!" Buru-buru Allen memotong pembicaraan Clara.
Clara sontak menoleh ke arah Allen dengan raut wajah melotot. Keduanya sempat beradu pandangan selama beberapa detik, seolah sedang saling bicara.
"Hai, Clara." Risih sekaligus bingung melihat sang kekasih beradu tatapan dengan wanita lain, Norra pun memutuskan menginterupsi mereka.
Clara tersentak kaget. "A—ah, Norra. Salam kenal, aku Clara." Keduanya pun saling berjabat tangan. Diam-diam Clara berusaha menguasai diri.
"Kau cantik sekali, Dear," puji wanita itu.
Norra tersenyum dan berterima kasih, dia pun memuji keseksian Clara.
"So, apa hubungan kalian berdua?" tanya Clara selanjutnya. Mata wanita itu secara bergantian menatap Norra dan Allen dengan pandangan menyelidik.
"Kawan. Aku kenalan Allen belum lama ini." Potong Norra tiba-tiba. Allen dan Sebastian yang mendengarnya tentu saja terkejut. Allen bahkan hendak membenarkan, tetapi Norra segera memelototi pria itu.
"Ah, begitu. Syukurlah, kupikir dia sudah menemukan tambatan hati lain. Hahaha!" ujar Clara. "Pria ini memang tidak akan semudah itu melupakan Winstley. Iya, kan, handsome?" Clara memalingkan wajahnya ke arah Allen sembari menepuk lengannya lembut.
Allen terdiam. Dia hanya memasang senyum simpul, padahal dalam hati, pria itu tengah kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Clara barusan.
Norra sendiri berusaha tetap terlihat biasa-biasa saja. "Pastinya. Siapa yang dengan mudah bisa melupakan istri tercinta," kata gadis itu kemudian.
Tawa Clara semakin keras. "Kau benar. Aku dan Sebastian tahu benar bagaimana Allen begitu mencintai Winstley, sejak kami masih duduk di bangku kuliah. Percintaan mereka luar biasa. Tak ada yang mampu menembus perisai cinta yang dibangun keduanya."
Entah mengapa, kini Clara terdengar seperti sedang memanas-manasi Norra.
Norra meringis. "Oh, ya? Keren sekali!"
__ADS_1
"Ya, kau mau mendengarnya lebih banyak? Aku siap menceritakannya."
Norra tertawa kecil. "Haruskah?" tanyanya.
"Tentu saja. Ayo, sekalian aku kenalkan dengan teman-teman modelku. Mereka pasti senang mengenal seorang gadis cantik seperti dirimu." Tanpa menunggu persetujuan Norra, Clara langsung menarik tangannya menuju kolam renang.
Allen merapatkan giginya. Clara sudah keterlaluan. Dia ke sini karena ingin menghormati dirinya yang telah mengundang, tetapi wanita itu malah berbuat ulah. Saat Allen hendak menghampiri Clara, Sebastian langsung menahan.
"Tahan amarahmu, kita sedang di tempat ramai!" bisik Sebastian kesal.
"Dia baru saja menginjak-injak Norra. Aku yakin sekali, wanita itu juga menyadari wajah Norra. Makanya, dia bisa berbuat menyebalkan seperti itu!" seru Allen.
"Aku tahu! Aku juga melihatnya! Kita awasi saja dari sini, oke?" pinta Sebastian.
Allen terdiam beberapa saat, sebelum kemudian melepas kasar cengkeraman tangan sahabatnya tersebut.
Seperti yang dikatakan Clara sebelumnya, dia mengenalkan Norra kepada teman-teman modelnya. Norra sempat tersipu dengan pujian yang mereka lontarkan, sebelum akhirnya para wanita cantik itu menanyakan segala hal tentang dirinya.
Mereka sempat antusias saat Norra menjawab, bahwa keluarganya memiliki bisnis kuliner berupa kue.
"Wow, di mana toko kue-mu di buka? Di mall besar mana?" tanya salah seorang teman Clara.
"Sudah buka cabangkah? Apa ada di negeraku?" Teman Clara yang lain turut membuka suara.
Norra sontak menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya memiliki toko kue yang berdiri persis di sebelah rumahku. Letaknya di sebuah gang kecil." Norra dengan gamblang meluruskan maksudnya.
Mendengar itu, baik Clara mau pun teman-temannya sempat terdiam. "Omong-omong, apa pekerjaanmu, Norra?" tanya Clara kemudian.
"Aku seorang guru sekolah dasar," jawab Norra tersenyum.
Suasana di antara mereka sempat hening sejenak. Hanya ada suara musik yang menusuk telinga Norra.
"Ah, jadi kau hanya seorang guru sekolah dasar, Norra. Keluargamu juga membuka toko kue kecil di dalam gang sempit. Aku benar-benar tidak menyangka." Clara memegang dadanya sembari tertawa kecil, dia melirik teman-temannya yang kini memasang wajah aneh.
__ADS_1
Norra meringis. Dia tahu, mereka baru saja menunjukkan sifat aslinya.