Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
7. Rumor.


__ADS_3

Seperti yang diperintahkan sang ibu, Norra akhirnya membawa sekantong goodie bag besar berisi beberapa toples cookies kering untuk diberikan pada Allen dan Willy.


Jadi, pagi ini sambil menyambut kedatangan anak didiknya di ambang pintu masuk gedung, Norra mengawasi setiap kendaraan mau pun orang yang datang. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan mewah yang sudah dia hafal di luar kepala, masuk ke dalam gerbang sekolah.


Norra bergegas menghampiri Allen dan Willy yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Selamat pagi, Anak tampan," sapa Norra ramah pada Willy. Tangan halusnya mengelus kepala bocah berusia delapan tahun itu.


Willy membalas elusan Norra dengan memeluk tubuh sang wali kelas selama beberapa saat. "Selamat pagi juga, Miss!" sahutnya riang.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya gadis itu kemudian.


Willy mengangguk semangat. "Tapi aku hampir tidak sarapan pagi ini. Sebab, Papa membuat sarapanku gosong, karena terlalu sibuk berbicara dengan seseorang di telepon!" jawab bocah itu sambil melirik Allen yang kini hanya bisa meringis malu.


"Kau tak perlu menceritakannya sedetail itu, Will," tegur Allen salah tingkah.


Norra tertawa kecil. "Kalau begitu, kau bisa membawa juga!" seru gadis berusia 24 tahun itu pada Willy, sembari menyodorkan setoples kecil cookies coklat yang dia ambil dari dalam goodie bag.


Willy menerima toples tersebut dengan senang hati. Anak itu pun langsung pergi duluan ke kelas, setelah beberapa teman sekelasnya memanggil.


Sepeninggal Willy, Allen berterima kasih.


"Ibuku yang membuat kue-kue ini kemarin. Kuharap, kau juga menyukainya." Norra menyodorkan goodie bag tersebut kepada Allen.


Allen mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Buatku ada juga?" tanya pria itu.


"Tentu saja." Norra tertawa kecil. Tawa yang terdengar merdu di telinga Allen.


Allen pun menerimanya dengan senang hati. Tak lupa, dia juga menitipkan salam untuk Rose, dan berjanji akan datang lagi membeli kudapan di sana.


"Ibuku pasti senang," ucap Norra.

__ADS_1


Tak lama, Allen pun pamit pergi ke kantor.


...**********...


Sebastian lagi-lagi menatap Allen dengan pandangan heran. Sebab, sejak kedatangannya ke kantor tadi pagi hingga saat ini, pria itu tak pernah melepas senyum dari wajahnya.


Selama ini Allen memang dikenal sebagai pimpinan yang ramah dan murah senyum. Namun, tampaknya kali ini ada yang berbeda. Apa lagi, di mejanya kini terdapat dua toples cookies warna-warni.


Sebastian sempat hendak meminta cookies tersebut padanya, tetapi Allen dengan beringas menyingkirkan tangan Sebastian dari toples tersebut. Pria itu bahkan memberi peringatan pada siapa pun agar tidak menyentuh dua benda tersebut.


"Jadi, siapa gadis itu, bro?" Tanpa basa-basi, Sebastian langsung menanyakan hal yang sudah dia tahan-tahan sejak beberapa hari lalu.


Allen yang sedang sibuk memakan makanannya, lantas menoleh ke arah Sebastian. "Apa maksudmu?"


Mendengar itu, Sebastian sontak mendecih. "Kau pikir, aku tidak tahu. Seluruh penghuni rumahmu pun tahu, kau dan Willy tak pernah lagi pulang tepat waktu selama beberapa hari ke belakang ini."


Allen tidak menjawab. Dia melanjutkan kembali acara makan siangnya tanpa bicara.


Allen nyaris tersedak makanannya sendiri begitu mendengar celetukan Sebastian. "Tahu dari mana kau? Jangan bilang, kau membuntuti kegiatanku dan putraku!" seru pria itu ketus.


"Cih, percaya diri sekali kau!" sahut Sebastian tak kalah ketus. "Tentu saja aku tahu. Willy tak pernah menyembunyikan apa pun dariku tahu. Lagi pula, aku juga beberapa kali pernah membeli kue di sana atas rekomendasi Bob."


Allen terdiam. Raut wajah masih tampak kesal.


"Yang kutahu, toko kue itu memang sudah beroperasi sejak dulu sekali, dan sangat terkenal di wilayah itu dan sekitarnya." Sebastian sekali lagi membuka suaranya.


"Aku sudah tahu!" sahut Allen kembali ketus.


Sebastian hanya mengangkat bahunya. "Aku hanya bicara sendiri." Pria itu kemudian melanjutkan informasi yang dia dapatkan dari Bob, seperti berapa usia Norra, anak keberapa, dan lain sebagainya.


Allen tampak tidak peduli, tetapi sebenarnya dia memasang telinganya baik-baik. Kendati begitu, Allen merasa sangat kesal, karena tampaknya sang sahabat lebih banyak tahu tentang Norra dari pada dirinya.

__ADS_1


Siaal! batin Allen.


...**********...


Sejak saat itu kedekatan Allen dan Norra pun semakin intens. Terkadang, Allen bahkan tak hanya menjemput Willy ke sekolah, melainkan gadis itu juga.


Hal tersebut tentu saja menyebabkan rumor di sekolah semakin merebak, terutama di kalangan guru-guru, staf sekolah, dan para orang tua murid. Maklum saja, siapa yang tidak mengenal keluarga West, pemilik puluhan tempat wisata dan hotel bintang lima yang tersebar di seluruh negeri. Sebagai pewaris tunggal, Allen tentu memenuhi kriteria sempurna bagi kebanyakan wanita, meski dia telah menikah.


Itulah mengapa, tak semua orang senang mendengar kabar kedekatan Allen dengan gadis lain, setelah kematian istrinya. Apa lagi, gadis itu berasal dari keluarga sederhana.


Norra sempat mengasingkan diri, saat omongan-omongan miring mulai merebak menyakitkan. Seperti dia yang katanya hanya memanfaatkan kekayaan Allen saja. Bahkan, rumor lain juga mengatakan, bahwa Norra dan Allen sebenarnya sudah lama menjalin hubungan sejak Winstley masih hidup. Mengingat kedekatan mereka hanya berjarak beberapa bulan dari kematian wanita baik hati itu.


Allen tentu saja tidak tinggal diam. Pria itu dengan gagah berani memasang badan untuk membantah semua rumor miring yang ada. Dia bahkan meminta orang-orang tersebut untuk menghargai privasi mereka.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang sedang kau cemaskan?" tanya Allen pada Norra. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil, setelah Allen menjemputnya di rumah. Sejak keduanya dekat, Allen dan Norra memang lebih sering pergi berdua, meski hanya sekadar makan malam.


Norra menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Jawab gadis itu singkat, tanpa menatap Allen.


Allen menggenggam tangan Norra, agar gadis itu mau membalas tatapannya. "Kau yakin?"


Norra meringis. "Tidak juga. Aku hanya ... kau tahu, beberapa rumor menyebalkan masih saja mampir di telingaku," ucapnya lesu. "Sekarang mereka membicarakan jarak usia kita yang terlalu" sambung Norra. Maklum saja, usia Allen saat ini adalah 39, sementara Norra sendiri masih berusia 24 tahun.


Allen tersenyum simpul. "Kalau soal itu, sepertinya mereka benar."


Mendengar perkataan Allen, Norra sontak menoleh. "Maksudmu?"


"Ya, kau adalah seorang gadis muda berusia dua puluh empat tahun. Usia kita memiliki selisih lima belas tahun, dan aku adalah seorang duda. Rasanya mustahil kita bisa bersama, kan?" Allen mengangkat bahunya.


"Siapa bilang! Usia dan status tidak bisa dijadikan patokan seseorang untuk bisa bersama!" Refleks, Norra menjawab pernyataan Allen. Namun, sedetik kemudian, Norra menutup mulutnya rapat-rapat dengan wajah memerah.


Allen tertawa cukup keras. "Kalau begitu, kau setuju dengan pernyataanku beberapa hari lalu, kan?"

__ADS_1


Norra bungkam.


__ADS_2