
Tiga hari setelah melakukan perawatan di rumah sakit, Rose akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah dan melakukan aktivitas seperti biasa. Bersama Allen dan Norra, mereka baru saja tiba di rumah.
Perlahan Norra membantu memapah sang ibu untuk berbaring di ranjang tidurnya, sementara Allen bertugas membawakan tas beliau.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih juga, Nak Allen," ucap Rosemary pada mereka berdua.
Allen meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu menganggukkan kepala. "Tidak masalah, Bu," jawabnya ramah.
Wanita itu kemudian beralih pada Norra dan meminta tolong padanya untuk mulai berbelanja bahan makanan, karena besok toko mereka akan buka seperti biasa.
"Ibu tidak beristirahat saja? Toko masih bisa buka nanti," ujar Norra.
Rose menggeleng. "Kita sudah terlalu lama menutup toko, Nak. Lagi pula dokter juga sudah mengatakan, bahwa Ibu boleh melakukan aktivitas seperti biasa," kata wanita itu.
Norra pun mengalah. Beliau benar, dia hanya terlalu mengkhawatirkan apa pun soal ibunya.
"Baiklah, besok aku akan belanja bahan kue, tapi untuk saat ini Ibu masih harus beristirahat ya?" titah gadis itu seraya tersenyum.
Rose tersenyum.
"Aku juga pamit kembali ke kantor ya, Bu." Allen berjalan menghampiri ranjang dan memeluk Rose singkat.
"Sekali lagi, terima kasih, Nak Allen. Padahal kau sedang sibuk, tapi masih berkeras menjemput dan mengantar Ibu pulang," ucap Rose tak enak.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Allen. Bersama Norra, keduanya pun keluar dari kamar Rose.
"Tak perlu mengantarku keluar," sergah Allen, saat Norra hendak melangkah pergi.
Norra pun menurut. "Kuharap, kau tidak bosan mendengar ucapan terima kasih dari kami," ujar Norra.
"Dan kuharap, kau juga tidak bosan melihatku berkeliaran di sekitarmu," balas Allen seraya tersenyum.
Norra tertawa kecil. Sedetik kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Ternyata ada salah seorang tetangga mereka yang datang membawa buah-buahan.
"Maaf, Ibu baru saja beristirahat, Aunty Mia," kata Norra tak enak hati.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menitipkan ini untuk ibumu. Sampaikan juga permintaan maafku padanya, karena tidak sempat menjenguk di rumah sakit," pesan wanita paruh baya tersebut.
Norra menerima buah itu dan berjanji akan menyampaikan salam si tetangga.
Saat si tetangga hendak pergi, dia tak lupa menyapa Allen, dan menanyakan hubungan mereka pada Norra. "Jadi, siapa pria ini Norra?" tanyanya dengan raut wajah menggoda.
__ADS_1
Norra melirik ke arah Allen sebentar, lalu menjawab dengan wajah malu-malu. "Dia kekasihku, Aunty."
Mendengar jawaban Norra, Allen sontak saja terkejut. Matanya terbelalak menatap gadis itu.
"Ahh, sudah kuduga, kalian berpacaran. Kalau begitu, kami titip anak gadis ini ya, Nak. Jaga dan sayangi Norra. Dia anak yang baik kok," ucap Mia pada Allen.
Allen tersenyum simpul. Dia pun membungkuk hormat pada Mia. "Dengan senang hati aku akan selalu menjaga dan menyayanginya, Mrs. Terima kasih."
Mia tertawa kecil. Wanita itu pun menepuk-nepuk pundak Allen sebelum kemudian pamit pergi.
Selepas kepergian Mia, Norra buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengusir Allen keluar. Dia tentu saja malu menyadari sikapnya yang sangat percaya diri.
Sementara itu, Allen sama sekali tidak bisa menghapus senyum dari wajahnya setelah mendengar pengakuan Norra. Dia malam mengikuti Norra ke dalam rumah dan memblokir jalannya.
"Jadi?" tanya pria itu seraya melipat kedua tangannya.
"Jadi, apa? Bukankah kau harus kembali ke kantor? Cepat, nanti terlambat!" pekik Norra tiba-tiba, berusaha mengalihkan perhatian.
"Memangnya kenapa kalau terlambat? Kan, aku bosnya!" seru Allen percaya diri.
Norra memicing kesal. Merasa tak bisa berkilah, dia pun menjawab dengan jelas soal pernyataan cinta Allen.
Akhirnya penantiannya selama beberapa minggu terjawab sudah. Mereka kini resmi menjadi sepasang kekasih.
Saat Allen tengah asik berbicara dengan Norra, ponselnya kembali berdering.
"Kau memang bosnya, tapi dia lah yang punya kuasa sepertinya," ucap Norra merujuk pada Sebastian.
Allen mendengkus kesal. "Baiklah, aku pergi dulu. Ingat, jangan pernah mencabut kembali jawabanmu!" seru pria itu.
Norra tertawa. "Sudah sana pergi."
Allen mencium bibir Norra. "Aku mencintaimu, Norra," ucapnya lembut.
"Aku juga." Seulas senyum manis terpatri di di bibirnya.
...**********...
Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Willy, sebab sang ayah akhirnya dapat menyempatkan waktu menemani dirinya pergi ke kebun binatang kota.
Willy tak ingat kapan terakhir kali mereka berkunjung ke tempat ini, yang jelas, itu saat mendiang ibunya masih ada. Kini, meski dengan orang berbeda, Willy tetap merasa senang.
__ADS_1
"Kau senang?" tanya Norra yang sedang menggandeng Willy erat. Mereka tengah menunggu Allen menukar tiket.
Willy mengangguk antusias. "Ini adalah salah satu tempat favoritku yang lain, Miss," jawabnya.
Norra tersenyum. "Aku juga pernah beberapa kali ke sini, dan tempat favoritku adalah ... Kolam Penguin!"
"Kolam Penguin!" Serempak keduanya menyebutkan hal yang sama. Mereka pun saling melempar tawa.
"Ada hal lucu apa? Sepertinya aku ketinggalan." Allen tiba di hadapan mereka berdua dengan wajah penasaran.
Norra dan Willy saling melempar senyum misterius, sebelum kemudian menjawab serempak, "rahasia!"
Mendengar itu, Allen terlihat pura-pura kesal, tetapi ikut tertawa juga akhirnya.
Selesai dari sana, mereka bertiga pun makan malam di sebuah restoran sederhana pinggiran favorit Norra. Hal yang tidak pernah Allen mau pun Willy lakukan selama ini.
"Dulu, saat Ibu masih sehat, kami sering makan di sini hampir setiap minggu," kata Norra.
"Di sini ramai, berarti makanannya sangat enak," ujar Allen.
"Tentu saja! Aku jamin, kau tak akan menyesal makan di sini!" ungkap Norra dengan percaya diri. Allen tertawa kecil.
Ketiganya pun memesan makanan mereka masing-masing. Allen membiarkan Norra mengajarkan Willy mengambil lobster, beberapa jenis kerang laut, dan ikan menggunakan saringan di kolam yang tersedia.
Melihat Willy begitu menikmati momen hari ini bersama Norra, membuat hati Allen tersentuh. Diam-diam dia bersyukur, Willy tidak menutup hatinya untuk orang lain. Sang putra bahkan tahu kedekatan mereka bukan hanya sekadar rekan antara wali murid dan wali kelas, melainkan lebih dari itu.
...**********...
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Norra seraya menoleh ke belakang, tempat di mana Willy tengah tertidur pulas.
"Aku lah yang berterima kasih, karena berkat dirimu, Willy bisa menikmati liburan akhir pekan ini," ujar Allen.
"Aku senang melihat Willy tak lagi terlihat bersedih atau murung. Kuharap, di rumah, dia pun berlaku sama." Norra mengelus rambut Willy hatu-hati, agar pria kecil itu tidak terbangun.
"Tentu saja." Allen tersenyum. Pria itu memegang tangan Norra dan mengecupnya lembut.
"Aku pergi dulu. Ibu pasti senang dengan oleh-olehnya." Sembari tertawa, Norra mengangkat sekantong penuh makanan dari restoran sebelumnya.
Allen mengangguk dan menitipkan salam untuk Rose. Sebelum keluar, dia pun memberikan ciuman manis pada Norra.
Allen baru benar-benar pergi setelah Norra menghilang di balik tikungan.
__ADS_1