Cinta Itu Kedua

Cinta Itu Kedua
21. "Aku baik-baik saja."


__ADS_3

Allen mengembuskan napas lega, tatkala mendapati Norra akhirnya sadarkan diri. Mereka kini berada di UGD rumah sakit.


"Kau baik-baik saja?" tanya Allen khawatir.


Norra mengangguk. "Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," ujarnya sembari memasang seulas senyum simpul.


"Aku melihatnya. Kau jatuh karena dua wanita itu. Maafkan aku, maafkan aku! Andai saja aku menepati janji untuk tidak meninggalkanmu sendirian di sana ...." Allen menatap Norra nanar. Pria itu merasa sangat bersalah pada sang kekasih.


Norra menggelengkan kepalanya. Gadis itu memegang pipi Allen dan mengelusnya lembut. "Ini bukan salahmu, atau salah mereka. Mereka pasti tidak sengaja. Aku baik-baik saja," ucap Norra mencoba menenangkan kegundahan Allen.


Norra sendiri memang sempat melihat tawa kedua wanita itu, saat dia berusaha naik ke permukaan. Namun, Norra tak ingin membuat keributan. Sudah cukup dia mengalami peristiwa buruk seperti tempo hari.


"Aku ingin pulang," pinta Norra tiba-tiba.


"Tidak! Beristirahat dulu di sini." Allen menolak tegas permintaan Norra. Namun, gadis itu berkeras. Dia tak ingin membuat ibunya khawatir di rumah.


Allen akhirnya mengalah. Mereka pun kembali ke rumah Norra dan sepakat untuk tidak memberitahu soal peristiwa tadi.

__ADS_1


"Tapi, pakaianku?" ujar Norra seraya menatap setelan rumah sakit yang dia kenakan. Gadis itu tak mungkin pulang dalam keadaan demikian.


Allen mengangkat sebuah goodie bag yang sedari tadi diletakkannya di bawah bed hospital. Saat Norra masih tidak sadarkan diri, pria itu berinisiatif membelikannya setelan di toko pinggir jalan.


"Aku tadi membelinya di toko kecil. Aku tak berani meninggalkanmu lebih jauh, jadi kuharap, kau tidak keberatan mengenakan ini," kata Allen.


Norra tersenyum. "Tidak sama sekali. Terima kasih," ucapnya tulus.


Allen pun keluar dan membiarkan Norra berganti pakaian dengan dibantu oleh salah satu perawat. Sementara dia bergegas pergi mengurus kepulangan Norra di bagian administrasi.


Benar saja apa yang diperkirakan Norra. Begitu melihat dirinya dalam kondisi berbeda, Rose langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.


"Tenang, Bu. Aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya berpartisipasi di salah satu permainan air saja. Makanya gaunku basah semua. Beruntung, pemilik pesta dengan baik hati memberikan pakaiannya." Norra berkilah. Hanya itu satu-satunya hal yang terpikirkan. Mudah-mudahan saja sang ibu memercayai.


"Benarkah begitu?" Rose mengalihkan pandangannya pada Allen.


Allen mengangguk. "Benar, Bu," jawabnya tersenyum.

__ADS_1


Embusan napas keluar dari mulut Rose. Wanita itu pun meminta sang putri untuk lebih berhati-hati agar tidak merepotkan orang. Apa lagi orang tersebut baru dikenal.


"Baik, Bu. Sekarang, lebih baik Ibu kembali beristirahat," titah sang putri.


Allen pun menyetujui perkataan Norra. Pria itu pun sekalian pamit pada Rose, sebelum wanita itu pergi menuju kamarnya lagi.


Sepeninggal Rose, keduanya menghela napas lega.


"Nanti, aku akan coba berbicara pada Clara, soal kedua temannya tersebut!" seru Allen tiba-tiba. Sejak di mobil, pria itu memang ngotot akan menegur dua wanita yang telah mendorongnya ke kolam. Namun, Norra selalu melarang, demikian pula dengan sekarang.


Demi menenangkan kemarahan sang kekasih, Norra lantas menggenggam tangannya lembut, sambil merapatkan diri pada tubuh pria itu.


Sebuah kecupan ringan didaratkan Norra pada bibir Allen. "Aku tak ingin ada ribut-ribut," ujar gadis itu dengan wajah memerah.


Mendapat perlakuan demikian, hati Allen luluh seketika. Pria itu pun membalas kecupan Norra lebih mesra dan lebih dalam.


Norra refleks mengalungkan tangannya di leher sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2