Cinta Kirana

Cinta Kirana
Cinta sebelas


__ADS_3

...HAPPY READING...


Tak banyak yang bisa di lakukan Candra dan Catur.


Mereka tengah berusaha sebisa mungkin menjauhkan Kirana dari Jimy.


Seperti yang telah di ketahui, kalau Jimy adalah laki laki yang tidak baik.


Catur tidak ingin, Kirana teman baiknya menjadi korban selanjutnya.


Waktu menunjukan jam lima sore.


Catur dan Candra bergegas melancarkan rencana mereka.


"Selamat sore" sapa Candra tiba tiba muncul di rumah Kirana.


"Selamat sore, ada apa ya nak? Cari siapa?" ibu Kirana yang kebetulan sudah pulang kerja menyambut Candra dengan baik.


"Kirana nya ada bu?" tanya Candra


Pandangan Ibu Kirana seperti menyapu dari ujung kepala sampai kaki Candra.


"Kau temannya Kirana? Ada perlu apa?" tanya Ibu Kirana ramah.


Ibu Kirana tau siapa anaknya.


Selain Catur, tidak ada lagi teman laki laki lainnya.


"Iya bu, saya temannya Kirana. Saya berniat mau mengajak Kirana jalan" jawab Candra dengan sopan. Dia yakin kalau ibu Kirana pasti memberi ijin anaknya untuk pergi dengannya.


Belum sempat Ibu Kirana menjawab pertanyaan Candra.


Munculah Catur dengan tergesa gesa.


"Astaga Catur!! Kau ini kenapa? Ada yang mengejarmu?" tanya Ibu Kirana heran


"Maaf Bu, tapi ada yang ingin saya sampaikan pada mu" jawab Catur pelan sambil menoleh waspada kalau kalau Kirana muncul.


Inilah salah satu rencana Candra dan Catur.


Berpura pura tidak saling kenal.di hadapan Ibunya Kirana.


"Apa?" Ibu nya Kirana masih terheran heran dengan sikap Catur.


Catur duduk di teras dan di ikuti oleh Ibu Kirana.


Sedangkan Candra masih berdiri di posisi yang sama agak jauh dengan mereka.


"Kirana punya janji dengan laki laki berandalan! Malam ini dia berencana untuk pergi dengannya!" kata Catur sambil berbisik


"Lebih baik, Ibu mencegahnya!" Catur semakin meyakinkan Ibu nya Kirana.


Sontak, Ibunya Kirana langsung melihat Candra dengan tatapan curiga.


"Ehhh!! Bukan dia bu orangnya!" kata Catur menjelaskan sebelum terjadi salah paham


"Dia itu anak kampung sebelah, kalau dia aku sudah mengenalnya. Dia itu anak baik" kata Catur lagi.


"Kalau bukan dia, lantas yang mana?" tanya Ibunya Kirana.


"Orangnya nggak ada disini,belum datang. Makannya aku memberitahu ibu supaya bisa mencegah Kirana pergi dengan laki laki berandalan itu" Catur mencoba membujuk Ibunya Kirana.


Semua idenya muncul dengan sempurna.


"Bagaiamana caranya?" tanya Ibunya Kirana.


"Ngomong ngomong, mau apa dia kesini?" tanya Catur sambil sok melirik Candra.


"Dia? Katanya dia mau mengajak jalan Kirana" kata Ibunya Kirana


"Bagus kalau seperti itu, biarkan saja mereka pergi berdua. Dengan begitu berandalan itu nggak akan bertemu Kirana" bujuk Catur


Catur yakin kalau Ibunya Kirana pasti percaya pada perkataannya dan dia pasti akan menuruti nya.


Secara Catur tau, dari dulu haya dia satu satu nya kepercayaan Ibunya Kirana untuk menjaga anaknya.


Ibunya Kirana sudah menganggap Catur sebagai kakak laki laki Kirana.


"Nak, kau duduk dulu ya.., Ibu panggilkan Kirana sebentar" kata Ibunya Kirana seraya masuk ke dalam memanggil anaknya.


Catur tersenyum puas melihat rencananya berhasil.


"Sekarang giliranmu untuk menangani Kirana" kata Catur seraya menepuk pundak Candra


Tak berapa lama, Kirana dan Ibunya muncul.


"Ibu ini ada apa? Kenapa dia di sini?" bisik Kirana pada Ibunya.


"Kau ini bagaimana? Bukankah tadi kamu minta ijin pada Ibu untuk pergi jalan jalan bersama teman mu? Sekarang temanmu sudah datang! Sudah sana pergi! Ibu memberi ijin padamu" kata Ibunya Kirana yang sengaja berbohong pada anaknya.


"T-tapi,bukan dia orangnya!" Kirana berbisik sambil melihat pada ibunya.


Matanya berkedip kedip seakan akan mberi kode pada ibunya.


"Aduh!! Kau ini nggak usah malu malu, Ibu lihat dia orang yang baik, jadi sudah sana pergi lah!" jawab Ibunya Kirana sambil mendorong pelan tubuh anaknya.


Candra dengan sigap meraih tangan Kirana, dan menggandengnya menuju motor yang akan dia kendarai.


"Sebelum pergi, pakai helmmu dulu" Candra sengaja bersikap seperti itu di depan Ibunya Kirana, supaya dia bisa menambah nilai plus sebagai laki laki yang baik.


Kirana menatap Candra dengan tatapan kesal.


Dan di lihatnya Catur yang tengah berdiri di pojok teras sedang tersenyum puas.


[ Sialan! Pasti ini rencananya!! ]


Kirana melotot ke arah Catur.


Tapi yang di pelototi malah tertawa seakan tengah menang.


Mau tidak mau, akhirnya Kirana pergi bersama Candra.

__ADS_1


Dia sendiri tidak tau kalau akan di kerjai oleh Catur.


Tak berselang lama, Jimy pun tiba di rumah Kirana.


Namun bukan Kirana yang dia dapati.


Tapi Catur yang tengah duduk di teras sambil mainkan gitar.


"Selamat malam mas" sapa Jimy


"Hemm, ada perlu apa?" tanya Catur


"Kirana ada? " tanya Jimy


"Ada perlu apa? Kirana sudah tidur! Dia sedang tidak enak badan! Kau pulang saja!" usir Catur


"Ehmm, kalau boleh tau mas ini siapa nya Kirana ya?" tanya Jimy memberanikan diri bertanya tentang status Catur yang berani beraninya mengusirnya.


"Aku ini kakak laki lakinya, memang kenapa?" jawab Catur tegas.


Jimy hanya terdiam. Sambil matanya terus melihat ke dalam rumah, seakan tidak percaya omongan Catur.


"Sudah sana pergi! Sudah di bilang Kirana sedang tidak enak badan! Masih saja ngeyel!" gertak Catur geram melihat tingkah Jimy yang menurutnya kurang sopan. Celingukan di rumah orang.


Akhirnya dengan terpaksa dan perasaan kesal, Jimy pun pergi meninggalkan rumah Kirana.


Sementara itu.


Perjalanan Candra dan Kirana di warnai dengan kebisuan.


Sudah beberapa menit mereka bersama, tapi tak ada obrolan apapun.


Kirana yang masih kesal karena telah di kerjai oleh Catur, enggan untuk membuka obrolan dengan Candra.


Dia merasa gengsi.


[ Kalau aku mengajaknya bicara dulu, pasti dia kira aku suka jalan berdua dengannya ]


Sedang Candra sendiri masih merasa bersalah karena telah ikut membohongi Kirana.


Dia takut Kirana tau, kalau dia adalah salah satu aktornya.


Candra membawa Kirana berkeliling kota.


Tapi nggak enak rasanya kalau terus saling diam seperti ini.


Akhirnya Candra pun memberanikan diri untuk membuka percakapan.


"Na,"


"Hemm"


"Makasih ya,sudah mau ikut denganku"


Candra masih berpura pura tidak tau tentang rencana Catur.


[ Idih!! Tuh kan mulai ge er!! Dasar Catur kurang ajar!! Awas nanti kau ya!! Pasti akan ku balas kau! ]


Hatinya masih kesal dengan Catur.


Karena dia, sekarang Candra jadi berfikir kalau dia mau di ajak kencan. Itulah yang terus di fikirkan Kirana.


Lama berkeliling kota.


Membuat Kirana lelah dan sedikit mengantuk.


Angin malam yang dingin sepoi sepoi, membuatnya merasa tidak nyaman untuk terus duduk tegang seperti itu.


Tanpa sadar tubuhnya tersandar di punggung Candra.


Candra tak menghindar, dia hanya membiarkan Kirana dengan segala kenyamanan nya.


[ Ehmm..,tubuhnya begitu hangat dan harum. Hah!! Sudahlah, masa bodo dia mau berfikir apa tentangku,udara nya benar benar menusuk tulangku! ]


Semakin malam, jalanan kota semakin ramai di penuhi para muda mudi yang juga ingin melewatkan malam tahun baru.


Membuat jalanan sesak, sehingga harus gas rem untuk menyesuaikan.


Membuat tubuh Kirana semakin erat dengan Candra.


Karena tidak ingin terjadi hal hal yang tidak diinginkan.


Candra pun memberanikan diri menarik tangan Kirana untuk memeluknya erat.


Dia tau, keadaan yang sesak begini, banyak sekali penjahat yang berkeliaran.


Tidak hanya penjahat harta, tapi juga penjahat yang suka sekali melecehkan wanita.


Kirana berusaha menolak tarikan tangan Candra.


"Maaf,Aku tidak bermaksud apa apa. Tapi ku mohon kali ini menurut lah! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu" Candra kembali menahan tangan Kirana.


Dan menariknya lagi melingkarkan di pinggangnya dan menggenggamnya.


Kirana tidak tau apa maksud Candra.


Dan penjahat apa yang dia maksud.


Maklumlah, ini baru pertama kalinya Kirana pergi saat malam pergantian tahun.


Karena di rasa benar, maka Kirana pun diam saja mengikuti perintah Candra untuk terus memeluknya.


Malam semakin larut.


Dan udara semakin dingin.


Membuat Kirana semakin merasa hangat memeluk Candra.


"Tanganmu dingin sekali" gumam Candra saat salah satu tangannya memegang tangan Kirana.


Tak menunggu lama, Candra pun menggenggam tangan Kirana dengan satu tangannya supaya hangat.

__ADS_1


Dan tangan satunya memegang kendali motor.


Karena malam puncak pergantian tahun tinggal beberapa menit lagi.


Candra berinisiatif dari pada terus mengajak Kirana berputar mengelilingi kota seperti ini.


Lebih baik mengajaknya singgah ke suatu tempat.


Yang tidak desak desakan seperti ini, sehingga bisa melihat pesta kembang api dengan jelas tanpa berdesak desakan.


Candra tau, kalau Kirana paling senang ketika melihat gebyaran kembang api.


Akhirnya Candra pun melajukan motornya ke sebuah tempat di dataran tinggi.


Sebuah bukit yang indah.


Biasanya tempat itu akan ramai dengan para pengunjung di malam pergantian tahun seperti ini.


Tapi setidaknya,lebih aman disini dari pada berdesak desakan di jalan.


Setelah sampai di tempat tujuan.


Candra pun segera memarkir motornya.


"Kita dimana?" tanya Kirana sambil menggosok matanya.


"Dari sini kita bisa lihat pesta kembang api dengan jelas,kau pasti suka" jawab Candra sambil terus menggandeng tangan Kirana.


Kirana yang masih setengah mengantuk, mengikuti saja apa maunya Candra.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak.


Candra sengaja memilih tempat paling tinggi supaya bisa lebih jelas saat melihat kembang api.


Akhirnya, Candra pun menemukan tempat yang cocok untuk mereka berdua.


Candra dan Kirana duduk di hamparan rumput yang hijau.


Tapi udara malam itu semakin terasa dingin bagi Kirana.


"Ya Tuhan! Kau sengaja mau membekukanku ya?udara disini begitu dingin" kata Kirana sambil menggigil.


Seperti di drama korea,


Candra pun berinisiatif melepas jaketnya dan mengenakannya di tubuh Kirana.


Kirana merasa canggung dengan situasi ini.


Dia hanya diam saja.


[ Sudah lah tidak apa apa, hanya meminjamkan jaket saja. Kalau aku menolak, bisa mati kedinginan aku! ]


Tak berapa lama.


Puncak malam tahun baru pun tiba.


Langit tiba tiba terang di penuhi banyak kembang api berwarna warni di ikuti dengguman petasan yang sangat ramai.


"Wah!! Bagusnya! Kau pintar memilih tempat ya,kalau di rumah paling hanya terlihat samar samar. Tapi dari sini begitu jelas,indah sekali!" pekik Kirana senang.


Candra senang, karena pada akhirnya dia bisa melihat Kirana tersenyum padanya.


Mereka pun menikmati indahnya pesta kembang api.


Sesekali Kirana mencoba mengabadikan momen itu dengan ponselnya.


"Jarang sekali melihat pemandangan seperti ini, aku akan merekamnya" Kirana merasa sangat senang bisa melihat pesta kembang api sedekat ini.


Dan Candra pun tak ingin melewatkan moment indah ini juga.


Dia mengambil ponselnya dan,


Cekrek,


Dia mengambil gambar Kirana yang sedang tersenyum bahagia dengan ponselnya.


"Kau memfotoku?" pekik Kirana sambil menghampiri Candra


"Heh..,hanya sekali saja tidak apa apa kan?" jawab Candra


"Baik lah tidak apa apa, anggap saja sebagai balasan dariku,karena sudah mengajak ku ke tempat ini melihat kembang api" jawab Kirana sambil kembali merekam gebyaran kembang api.


"Huh..,syukurlah dia tidak marah" Candra merasa lega


Setelah puas merekam dan berfoto.


Mereka berdua pun duduk kembali ke tanah.


"Lihat hasil rekaman ku, hasilnya bagus bukan?" kata Kirana sambil menunjukan hasil rekamannya.


Sehingga membuat tubuhnya dengan Candra saling berdekatan.


Candra tidak melihat hasil rekaman itu.


Yang di lihatnya hanya wajah Kirana yang begitu senang.


"Hachi!!" Kirana tiba tiba bersin karena kedinginan


Karena reflek, Candra pun langsung memeluk Kirana.


"Ini pasti karena udara yang dingin" kata Candra sambil memeluk dan mengusap usap tangan Kirana


Kirana hanya terdiam heran.


Entah kenapa, dia tidak ingin menolak nya.


Di pelukannya, merasa sangat nyaman dan hangat.


"Kau??" kata Kirana


"Sudah jangan berfikir apapun,tetaplah diam seperti ini! Aku menyayangimu, aku tidak ingin kau sakit" kata Candra lirih sambil mengeratkan pelukannya dan tangannya terus menggenggam tangan Kirana yang dingin.

__ADS_1


__ADS_2