
...HAPPY READING...
[ Ya Tuhan!! Ada apa denganku? Kenapa aku begitu lemah? Dalam pelukannya seperti ini, begitu aman ]
Kirana tak tau apa yang terjadi dengan dirinya.
Dia seperti telah tersihir oleh kelembutan Candra.
"Biarlah tetap seperti ini. kau tau? Kini aku benar benar menyayangimu..,aku ingin melindungi mu. Aku tidak ingin melepaskanmu lagi" gumam Candra serah tak ingin melepas pelukannya.
Kirana diam tak bergeming.
Tubuhnya seakan beku karena dinginnya malam dan hanyut dalam pelukan pria yang dulu menjadi cinta pertamanya.
Dua jam berselang.
Rasanya sudah terlalu lama Kirana diam seperti ini.
"Ehmm!! Ehhm!!" Kirana berdehem pelan.
"Kita pulang" kata Kirana sambil menggeliat agar Candra melepaskan pelukannya.
"Eh, iya..,maaf" kata Candra canggung dan melepas pelukannya.
Kirana berusaha bangkit dan berdiri.
Tapi mungkin karena terlalu lama duduk, hingga membuat kakinya kesemutan.
"Aduh!! Astaga, kaki ku!" pekik Kirana sambil meringis.
Candra pun dengan sigap memapah Kirana.
"Mungkin karena terlalu lama duduk, jadi begini" kata Candra seraya membantu Kirana untuk berjalan.
Kirana yang masih dalam keadaan canggung hanya diam saja.
[ Kau benar benar keras kepala! Bahkan kali ini kau ingin aku kembali jatuh cinta padamu ]
Mereka berdua berjalan menuju tempat motornya terparkir.
Tak selang berapa lama, mereka pun pergi meninggalkan bukit indah dengan sepenggal kenangan indah di dalamnya.
Sebelum melajukan motornya, Candra kembali meraih tangan Kirana untuk berpegangan pada pinggangnya.
"Na, kau kelihatan mengantuk, aku takut kalau terjadi sesuatu padamu saat di jalan nanti. Jadi berpeganganlah"
Tak banyak yang mereka bicarakan selama di perjalanan.
Hanya Candra yang ingin agar Kirana mengerti dan menerima ketulusan nya.
"Na"
"Hem"
"Aku harap kau bisa kembali jatuh cinta padaku"
Kirana tak membalas ucapan Candra.
Dirinya kini tengah dalam dilema.
__ADS_1
Candra adalah cinta pertamanya.
Dan cinta pertama tak mungkin begitu saja untuk di lupakan.
[ Kau terlambat untuk meminta, andai kau tau..,bahkan sampai detik ini begitu bodohnya aku masih mencintaimu ]
Tapi bagai manapun juga, Kirana tidak ingin cepat menyerah begitu saja.
Malam semakin larut dan berganti pagi.
Perjalanan yang begitu hangat saat terus memeluk Candra.
Hingga tak terasa mereka sampai di depan rumah Kirana.
"Trimakasih" kata Kirana lirih sambil melepas helmnya.
"Langsung istirahat saja ya, kau terlihat sangat mengantuk, maaf ya sudah membuatmu terjaga sepanjang malam" balas Candra.
Setelah mengantar Kirana, Candra pun pulang ke rumahnya dengan hati yang senang.
Walaupun hanya malam yang singkat.
Tapi Candra berharap bisa mengembalikan lagi rasa cinta di hati Kirana.
Kirana terlihat sangat lelah.
Dia pun langsung merebahkan tubuhnya di kamar.
Matanya nanar ke atap kamarnya.
Bibirnya tersenyum senyum sendiri, membayangkan hal gila yang baru saja terjadi.
Kirana menarik selimutnya.
Badannya masih terasa menggigil kedinginan.
"Astaga!! Jaketnya!!" Kirana terperanjak ketika tau kalau jaket yang di pinjamkan Candra padanya masih menempel di tubuhnya.
"Huh!! Bahkan hanya memakai jaket nya saja aku masih merasa kalau dia masih di samping ku.., astaga!!! Kirana sadar!!!"
Kirana masih larut dalam hayalannya.
[ Tuhan!! Aku tidak ingin merasa sakit lagi, kalau dia memang benar takdir ku. Maka mudahkan aku untuk mempercayai dan menerima nya kembali ]
****
Pagi ini Kirana bangun agak siang.
Karena hari ini hari libur, jadi dia ingin bermalas malasan di kamarnya.
Walaupun hanya tidak tidur semalam saja.
Tapi rasanya seperti begadang tiga hari tiga malam.
Tling,,
Terdengar pesan masuk di ponsel milik Kirana.
"Mau sampai jam berapa kau terus tidur dengan memakai jaket pacarmu!! Dasar mesum, cepat bangun! Aku menunggumu di luar"
__ADS_1
Tertulis pesan dari Catur.
"Apa dia mengintipku tidur? Bagaimana dia bisa tau kalau aku masih memakai jaketnya Candra?" Kirana terperanjak dari tidurnya, pandangannya tertuju pada pintu dan jendela kamarnya.
"Huh dasar Catur!! Aku masih punya urusan denganmu, awas kau ya" Kirana bangun dari tempat tidurnya dan pergi keluar untuk menghampiri Catur.
"Dasar kurang kerjaan!! Apa maksudmu heh?" Kirana langsung menyambar Catur dengan tepukan keras di bahunya.
"Apa sih?" balas Catur
"Memang aku tidak tau apa yang kau lakukan? Kemarin malam itu rencanamunkan?" cecar Kirana
"Kalau iya kenapa? Aku hanya kasihan saja sama temanku Candra! Dia itu seharusnya bisa dengan mudah mendapatkan pacar yang jauh lebih cantik dari mu! Tapi lihat sekarang!! Dia bahkan sudah seperti orang stres karena terus mengejarmu! Kau menggunakan pelet ya" niat Kirana yang ingin memaki Catur tak berhasil, malah kini Catur yang menyerangnya dengan semua omelannya.
"Pelet?? Gila!! Apa maksutku? Dia bilang itu hukuman Tuhan! Jadi bukan salahku" jawab Kirana
"Lihat! Kau menolaknya, tapi sekarang kau bahkan nyaman menggunakan jaketnya" cela Catur
"Astaga!! Aku lupa melepasnya" dengan cepat Kirana melepasnya dan memberikannya pada Catur
"Ini!! Tolong kembalikan padanya" kata Kirana
"Enak saja! Kau sendiri saja! Aku tidak mau!" jawab Catur
Catur dan Kirana memang seperti kakak beradik.
Tak ada kata sungkan untuk mereka saling memaki ataupun bercanda.
"Kenapa kau tau kalau aku memakai jaketnya Candra? Apa kau menata mataiku?" tanya Kirana setelah mereka selesai berdebat
"Menata matai apanya? Semalam kau pasti sangat bahagia, sampai kau tidak lihat aku kan? Aku bahkan tengah menunggumu di teras" kata Catur
"Apa iya? Sudah lah jangan mengelak!! Kau ini selalu membohongiku!" kata Kirana
"Siapa yang berbohong? Aku yang sudah meminta ibumu untuk memberimu ijin supaya pergi dengan Candra, jadi aku harus bertanggung jawab memastikanmu pulang dengan selamat! Kau malah pulang larut sekali hampir pagi malahan!" cecar Catur
Kirana terdiam.
Dia merasa bersalah pada temannya itu.
[ Tapi itu kan salahmu, kau yang sudah merencanakan ini kan? ]
"Iya..,iya aku minta maaf" kata Kirana
"Kau sudah jadian dengannya?" tanya Catur sambil menoleh ke wajah Kirana
"Jadian apa?" wajah Kirana menjadi memerah saat mendengar pertanyaan Catur.
"Kau ini sampai kapan seperti ini terus? Kasihan dia! Sebenarnya kau ini menyukainya tidak?" Catur merasa kesal dengan sikap Kirana yang seperti itu.
"Kenapa kau bertanya tentang itu? Kau seharusnya sudah tau jawabannya! Dia itu cinta pertamaku, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya" jawab Kirana pelan
"Berarti kau masih mencintainya kan? Lalu kenapa tidak menerimanya? Aku lelah tau jadi mak comblang seperti ini!" balas Catur
"Aku akan menerimanya, setelah aku benar benar yakin kalau dia tidak akan menyakitiku lagi!" Kirana bersikukuh pada pendiriannya.
Cinta pertama yang tak mungkin bisa di lupakan begitu saja bagaimanapun pahitnya.
Tapi untuk kembali?
__ADS_1
Butuh sebuah kepercayaan untuk mendapatkan rasa aman.