
...HAPPY READING...
Kirana terus kepikiran omongan Catur semalam.
Epilog >>
"Lalu kapan kau akan menerimanya?" tanya Catur
"Saat aku tidak lagi merasa khawatir untuk di sakiti" balas Kirana
"Bila saat itu tiba, tapi ternyata dia sudah di titik lelah dan pergi meninggalkanmu bagaimana?" perkataan Catur membuat Kirana terbebani.
Kirana terus memikirkan ucapan Catur.
"Bagaimana bila yang di katakan nya itu benar terjadi? Bagaimana dengan ku?" kini berbalik Kirana yang merasa khawatir
"Ya sudah lah, bila itu memang benar terjadi..,anggap saja dia bukan jodohku" Kirana berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Kirana melanjutkan bersiap siap untuk kembali berangkat kerja.
"Tahun baru, hari baru..,semangat baru!"
Kirana pergi berangkat bekerja dengan mengendarai angkot langganan nya.
[ Hari ini tak ada drama seperti biasanya.
Mungkin dia sedang sibuk..,hemm kangen ]
Kirana hampir terbiasa dengan kehadiran Candra yang tiba tiba saat dirinya akan berangkat kerja dan memaksanya untuk di antar olehnya.
Kirana di buat senyum senyum sendiri saat mengingat itu.
Tak berapa lama, Kirana pun sampai di tempat kerja.
Seperti nya semua karyawan terlihat semangat hari ini.
"Selamat pagi Na," sapa Iis
"Hai!! Selamat pagi" Kirana berusaha menyambut Iis dengan ramah.
[ Kali ini kumohon jangan bertanya tentang Candra lagi.. ]
Kirana mendadak menjadi parno bila bertemu Iis.
Kali ini Kirana takut keceplosan tentang hubungannya dengan Candra yang semakin membaik.
Tapi ternyata, apa yang di takut kan Kirana tidak terjadi.
Iis berlalu begitu saja setelah menyapa Kirana.
"Huh..,syukurlah dia tidak bertanya macam macam" gumam Kirana
Hari ini di lalui Kirana dengan baik.
Tak ada sedikitpun yang menyulitkannya selama di kantor.
Hingga waktu menunjukan pukul empat sore.
__ADS_1
Saatnya karyawan untuk pulang.
Kirana berjalan pelan menuju pintu gerbang kantornya.
Dia tengah menduga duga, kalau Candra akan tiba tiba muncul di hadapannya seperti biasanya.
Tapi ternyata dugaan Kirana salah.
Candra tidak muncul seperti biasanya.
Dan entah kenapa, itu membuat Kirana menjadi sedikit kecewa.
[ Apa yang terjadi dengan perasaanku? Kenapa aku merasa sedih seperti ini saat mengetahui kalau dia tidak datang seperti biasanya. Harusnya kan aku merasa senang karea tidak ada lagi yang menggangu ku apa itu artinya aku merindukannya? ]
Kirana pun kembali pulang dengan mengendarai angkot yang kebetulan sudah datang.
Sepanjang perjalanan, Kirana terus melihat ke arah jendela.
Ada sebuah harapan di situ.
Berharap dia melihat seseorang yang ingin dilihatnya saat ini.
[ Dasar aku ini aneh sekali, kenapa terus memikirkannya?huh.., ]
Tak berapa lama, sampailah Kirana di perempatan gang rumahnya.
Kirana turun dari angkot dan kembali berjalan menyusuri jalan gang rumahnya.
Setelah tiba di rumah, kirana di buat terkejut karena sosok yang dia nantikan akan muncul menjemputnya sudah ada di teras rumahnya.
Jantung Kirana mendadak berdegup kencang dan badannya juga gemetar.
"Hai Na" sapa Candra dengan senyumnya yang ramah
"K-kau, kenapa kemari? Owh..,kau mau ambil jaket mu ya? Tunggu ya, aku akan mengambilnya" Kirana terus saja bicara tanpa memberi kesempatan Candra untuk menjawab dulu.
Kirana lalu masuk ke kamarnya dan tak berapa lama dia kembali keluar dengan membawa jaket punya Candra.
"Ini, maaf ya..,kemarin lupa mau melepasnya" kata Kirana
"Aku datang bukan untuk ini Na" kata Candra sambil menerima jaket yang di berikan Kirana.
"Ada hal penting yang ingin ku sampaikan padamu" suasana mendadak tegang. Kirana memberanikan duduk di depan Candra.
"Apa? Kenapa jadi tegang begitu" kata Kirana
"Aku dan keluargaku harus pindah ke luar kota karena sesuatu hal" kata Candra lirih
"Na, sebelum aku pergi..,tolong beri aku jawaban" kata Candra sambil menggenggam tangan Kirana
[ Ya Tuhan!! Bagaimana ini? Kenapa mendadak seperti ini? Aku harus jawab apa? ]
Kirana hanya terdiam, tapi matanya menatap Candra dengan tajam.
"Ini begitu mendadak, apa harus di jawab sekarang?" Kirana menghela nafas panjang.
Dia sendiri tak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
Dia belum benar benar yakin untuk menjawab iya.
Dia pun tidak mau menjawab tidak, karena jujur masih ada cinta di hatinya untuk Candra.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi suatu hari nanti, bila kamu sudah dapat menjawabnya, beritahu aku..,aku akan datang kembali untuk mendengar jawabanmu" Candra menghela nafas panjang,genggaman tangannya semakin erat. Seakan tidak ingin berpisah dengan Kirana.
"Kau, kapan akan pergi" Kirana memberanikan diri untuk bertanya.
"Sore ini, makanya sebelum pergi aku ingin menemui mu. Maafkan aku, ini terkesan mendadak, karena suatu hal jadi harus segera pergi" Candra tidak tega mengucapkan ini pada Kirana.
Kirana hanya terdiam.
Entahlah, ada rasa berat untuk melepas Candra pergi.
Baru saja semalam bersamanya, tapi sekarang harus berpisah.
Mata nya sudah hampir berkaca kaca, tapi segera di tangkisnya.
Kirana tidak mau menangis di depan Candra.
"Trimakasih untuk semuanya, aku harap bisa segera mendapatkan jawaban dari mu. Aku pergi dulu" kata Candra sembari melepaskan genggaman tangannya.
Candra berlalu pergi
Dan Kirana tetap terpaku di tempat duduknya.
Tak terasa air matanya menetes perlahan di pipinya.
Ada rasa sakit dan sedih bercampur takut.
[ Kenapa seperti ini lagi? Kenapa terulang lagi? ]
****
"Kau sudah tau kalau Candra pindah ke luar kota" tanya Catur yang saat itu tengah main ke rumah Kirana
"Heem" jawab Kirana
"Kau tidak berusaha mencegahnya" tanya Catur kesal
"Memang aku siapa nya?" jawab Kirana cuek
"Kau bahkan belum memberi jawaban mu padanya?" tanya Catur lagi
"Iya, belum" jawab Kirana
"Kau ini kenapa keras kepala sekali sih Na!! Jangan munafik! Kau mencintainya kan? Kenapa kau tidak bilang terus terang padanya! Apa yang kau pikirkan sekarang heh? Dia jauh darimu! Mudah saja baginya mencari wanita yang jauh lebih cantik darimu, tapi bagaimana denganmu? Apa kau bisa menahan sendiri kesedihanmu?" Catur benar benar kesal dengan Kirana yang sangat keras kepala
"Setidaknya ikat dia dengan sebuah hubungan,itu jauh lebih baik daripada membiarkanya pergi begitu saja!" Catur tidak tau lagi harus menasehati seperti apa lagi pada Kirana.
Sifat keras kepalanya sudah menjadi batu.
"Kalau memang dia tidak kembali, anggap saja dia bukan jodohku" kata Kirana lirih
"Cihh!! Sesederhana itu kah!" kata Catur
"Kau ini teman apa musuhku sih! Kenapa dari tadi menyalahkan ku saja! Aku juga tidak tau kalau dia akan pergi! Semua begitu mendadak!" Kirana kesal karena Catur terus saja memojokannya.
__ADS_1
Tak tau harus bagaimana. Yang terpenting saat ini adalah menata hati kembali dan membiasakan hidup tanpanya.