
...HAPPY READING...
Mungkin lama kelamaan akan menjadi terbiasa tanpa kehadirannya.
Sore ini sepulang kerja, aku ingin berjalan sembari bernostalgia saat saat bersama nya.
Yah, walaupun itu bukan sesuatu kenangan yang membahagiakan! Bisa di katakan saat bersamanya lebih banyak menyimpan kenangan menyedihkan dari pada membahagiakan.
Tapi.., meskipun begitu, aku akan anggap itu adalah memory yang indah.
Aku berhenti di tempat dimana dulu aku berdebat dengan cowok keras kepala itu.
Sampai sampai aku terjatuh karena merasa kesal dengannya.
Seperti melihat adegan film, tampak jelas sekilas saat saat aku berdebat dengannya, aku terjatuh! Dan dia berusaha menenangkan ku.
"Hehh! Bagaimana kabarmu ndra?" Aku berusaha untuk selalu kuat saat kenangan itu muncul.
Aku mengalihkan tatapan ku ke seberang jalan, alih alih untuk menahan air yang hampir jatuh dari mataku.
Pandanganku berhenti pada sosok yang tengah ada di seberang sana.
Jaket, helm dan motor itu begitu familyar.
"Hah.., bukan!! Mana mungkin itu dia? Ya ampun!! Mungkin karena aku terlalu rindu padanya." Sosok itu mirip dengan orang yang sedang aku rindukan.
"Tapi, dari jauh sangat mirip! Astaga! Ada apa denganku? Hah! Dari pada mati penasaran, mending aku samperin aja!"
Ku seberangi jalan untuk memastikan dugaanku salah.
Perlahan ku hampiri cowok itu.
Kulihat dengan detail, mataku berusaha menembus wajahnya yang tertutup oleh kaca helm.
"Na..Na," sapa cowok itu sok akrab.
"Hee?" kujawab dengan heran.
"Astaga! Kau tidak mengenaliku?" ucapnya sambil melepas helm nya
"Hee.., kau siapa?" jawabku.
Yah!! Aku sekarang mengenalinya, dia adalah Hakam teman sekolahku dulu.
"Sekarang bagaimana? Heh? Kau sudah mengenaliku?" tanya Hakim sambil memasang senyum manis padaku.
"Kau sudah banyak berubah sekarang, kau tidak lagi seperti preman wanita yang ku kenal dulu," ucapnya mengejekku.
Aku masih terdiam tak percaya bertemu dia disini.
Sosok yang ku kira tadi adalah Candra kekasihku. Tapi ternyata dia Hakam, cowok keren yang pernah ku taksir saat di sekolah dulu, tapi aku tak pernah berani untuk mengungkapkannya.
Bahkan sampai saat ini, mungkin dia masih tidak tau kalau dulu aku pernah menyukainya.
"Hei!" panggilnya seraya memetikan jarinya di depanku yang masih tengah melamun.
"Kau melamun? Huh! Aku masih tak percaya, kau cewek preman yang judes dan tomboy. Lihatlah! Sekarang kau berubah seratus delapan puluh derajat," Hakam tak henti henti mengejekku. Membuatku semakin kesal dan enggan untuk meladeninya.
__ADS_1
"Kau kenapa di sini?" tanya ku. "Ku dengar kau sudah pindah ke luar kota."
"Tinggal di luar kota berdampingan dengan orang orang baru membuatku tidak nyaman. Makanya setelah lulus, aku memutuskan untuk kembali ke kota ini." jelasnya.
"Orang tuamu?" tanyaku penasaran.
"Mereka tetap tinggal di luar kota, aku sendiri yang kembali ke sini. Aku tinggal di rumah kost kost an daerah ***," Entahlah kenapa Hakam menerangkannya begitu detail tentang keberadaannya ke padaku. Padahal aku belum bertanya.
"Ohw," jawabku
"O ya, kau berpakaian seperti ini pasti dari pulang kerja kan? Kau kerja dimana?" tanya Hakam
"Hemm, ada deh..,kepo banget sih!" ketus ku
"Astaga!! Ku kira sikap premanmu sudah hilang dan menjelma menjadi bidadari yang anggun! Ternyata tidak," jawabnya sambil tergelak mengejek ku.
Aku tak begitu senang mendengar Hakam terus menyebut ku preman, huh! Itu juga yang menjadi salah satu alasanku minder untuk mengakui tentang perasaanku padanya.
"Kau ini! Tetap saja ya, bagimu aku ini seorang preman! Heh!" ketus ku kesal.
"Sudahlah! Aku banyak urusan, sampai jumpa." Aku beranjak pergi meninggalkan Hakam.
Rasanya kesal sekali mendengarnya terus menyebut ku preman wanita.
"Eh, Na-Na!" Hakam memanggilku, tapi masa bodo! Aku sudah terlanjur kesal padanya.
Hakam memutar motornya dan mengikutiku.
Melihatnya seperti itu, aku jadi teringat Candra.
"Astaga!! Aku jadi tambah kesal! Huh!"
"Na-Na! Astaga kau marah ya?" ucapnya sambil terus mengikutiku. "Iya..,iya aku minta maaf, hei! Na-Na!"
Aku terpaksa menghentikan langkahku karena dia tak berhenti meneriaki ku.
"Apa? Kau mau apa?" ketusku
"Hei, jangan ngambek seperti itu. Kau tau? Saat tadi aku melihatmu, aku begitu senang! Karena setidaknya di kota ini masih ada orang yang ku kenal." ucapnya.
"Kau tinggal di mana? Aku antar ya?" Hakam terus saja nerocos.
Mengantar ku? Kalau Catur melihatku pulang di antar cowok seperti ini, dia pasti mengadukanku pada Candra. Huh! Gila saja, Candra di sana tengah melawan maut berjuang untuk kesembuhannya, aku di sini malah selingkuh? Huh!! Tidak! Tidak!!
"Na," suara Hakam membuyarkan lamunan ku.
"Hah? E..,tidak usah repot repot! Aku naik angkot saja," Kebetulan ada angkot yang datang, tak menunggu lama, aku pun bergegas masuk. "Dahh!!" Aku melambaikan tanganku padanya. " Huh, selamat."
Memory lama ku kembali terputar di otaku.
Kembali teringat, dulu betapa aku tergila gila pada Hakam. Hingga membuatku terlalu bodoh untuk menyimpannya sendiri.
Hingga rasa sakit hati menghampiriku, saat tau kalau Hakam memilih sahabatku, hingga membuatku menjadi benci padanya.
Tapi setelah lama ku pikir pikir, itu semua juga bukan sepenuh nya menjadi salahnya.
Aku yang terlalu pengecut untuk menyimpan perasaanku padanya, tanpa memberitahu ataupun mengisyaratkan apapun padanya.
__ADS_1
"Huh! Semua itu masa lalu," gumamku. "Sekarang aku punya Candra, aku mencintainya."
Tak berapa lama, aku sampai di depan gang rumahku.
Lanjut berjalan menyusuri jalan kampung menuju rumahku.
Langkahku terhenti saat sampai di depan rumah Catur.
Kebetulan terlihat Catur tengah duduk di teras, aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya.
"Hai," sapaku
"Kirana, baru pulang?" tanya Catur.
"He, iya." Aku ikut duduk bersama Catur.
"Bagaimana keadaanmu? Sepertinya kau sudah terbiasa ya tanpa Candra," kata Catur. Entah dia memuji atau menyindirku,
"Apa maksudmu?" jawabku
"Nggak, kau jangan salah paham. Aku malah senang kalau kau seperti ini. Terus melanjutkan hidupmu tidak terus sedih." kata Catur.
Aku tau maksud Catur. Dia sama sekali tidak ingin melihatku terus bersedih.
Dia sudah seperti abangku, dia pasti ingin yang terbaik untukku.
"Apa kalau aku sedih itu harus selalu di tunjukan ke semua orang?" ucapku. Ku hela nafas panjang, masih terasa sesak saat mengingatnya. "Catur, apa sudah ada kabar dari Candra?"
"Belum," jawab Catur
"Apa kabarnya ya?" Rasa rindu ku benar benar sudah menumpuk. Hingga tak jarang aku berhalu melihat bayangannya datang tersenyum padaku. Dan itu, membuatku kembali sedih.
"Nggak usah di pikirkan terus, kasihan dia nanti. Biarkan dia dengan tenang menjalani pengobatannya, tugas kita di sini hanya mendoakan semoga dia lekas sembuh." Catur memang bijaksana, tetapi karena rasa cinta dan rinduku yang semakin menjadi,membuatku belum bisa menerima nasehatnya.
Tling,,
Tiba tiba ponselku berbunyi.
"Ini nomorku, Hakam, save ya." Tertulis pesan masuk.
Astaga!! Hakam? Dari mana dia bisa mendapatkan nomor ponselku?
"Siapa?" tanya Catur ingin tau, karena melihat ekspresiku yang tiba tiba terkejut.
"E.., bukan siapa siapa. Ah aku pulang dulu ya,"
Aku bergegas pulang ke rumah.
Jantungku masih berdegup karena terkejut.
Bukan apa apa, hanya saja aku tidak ingin di saat kondisiku seperti ini dia datang.
Aku takut, takut akan menjadi khilaf.
Hakam!! Apa maksudnya dia kembali muncul? Tuhan! Tolong jangan uji aku di saat lemah seperti ini.
Bersambung
__ADS_1