
...HAPPY READING...
"Selamat pagi," Ibu Fatima tiba tiba muncul dari pintu.
Beliau membawa bungkusan banyak sekali di tangannya.
"Ibu," Candra tersenyum membalas salam ibunya.
Dia senang dapat melihat ibunya lagi setelah mengalami koma.
"Anakku, bagaimana keadaanmu? Syukurlah kau sudah sadar," ibu Fatima memeluk anaknya dengan penuh kelembutan.
"Semalam setelah mendapat kabar dari Catur, sebenarnya ibu ingin langsung ke sini. Tapi karena sudah larut malam, makanya ibu tunda sampai pagi ini."
Ibu Fatima menatap Kirana dengan lembut.
"Ibu yakin kalau akan baik baik saja kalau ada Kirana di samping mu,"
Kirana tertunduk malu mendengar ucapan ibu Fatima. "Semua ini karena kuasa Tuhan bu, saya bahkan tidak melakukan apapun,"
"Ibu sudah mendengar semua cerita dari Catur, semalam sebelum Candra sadar. Kau kan yang menunggunya?" tanya ibu Fatima.
[ Astaga! Apalagi yang diceritakan Catur? Dasar ember!! Kalau seperti ini kan aku jadi malu, ]
Belum sempat Kirana menjawab pertanyaan ibu Fatima, "Oya? Jadi, kamu yang menemaniku sebelum aku sadar? Pantas saja, saat koma, aku seperti mendengar suara bidadari yang mengatakan kalau dia mencintaiku. Mungkin karena itu aku bisa kembali sadar," Candra mulai menggoda Kirana dengan gayanya yang usil.
Kirana bertambah malu dibuatnya, wajahnya memerah dan matanya melirik ke arah Candra.
"Bercanda," kata Candra sambil tersenyum. "Maksudku itu bukan mimpi, tapi kenyataan."
Candra meraih tangan Kirana dan menggenggamnya.
[ Apa sih!! Kamu nggak harus mengatakannya di depan ibu kan, huh!! Sangat malu rasanya. ]
"Sudah, sudah! Kau ini menggodanya terus, lihat! Kirana jadi malu seperti itu" ibu berusaha menengahi pembicaraan mereka. "Kalian pasti belum sarapan kan? Ibu bawakan makanan buat kalian bertiga," kata ibu Fatima sambil mengeluarkan beberap bungkusan makanan.
"Lho, Catur mana? Koq dari tadi ibu tidak melihatnya?" tanya ibu Fatima.
"Dia sedang kebelakang, mungkin karena udara di sini dingin. Jadi sejak semalam dia bolak balik ke kamar mandi." Baru saja Kirana menjelaskan, Catur muncul dari pintu dengan tubuh menggigil.
"Catur, ayo sarapan!" ajak ibu Fatima.
"Syukurlah bu kau datang, aku hampir pingsan karena mereka berdua," Tanpa malu Catur langsung menyambar makanan yang di sediakan ibu Fatima.
"Ihh, Catur!! Apaan sih! Nggak sopan!" Kirana menampis tangan Catur yang seloyoran seenaknya mengambil makanan tanpa rasa malu.
"Apa sih Na!" Tungkas Catur. "Nggak pa pa kan bu ini aku makan?" kata Catur sambil nekat mengambil makanan.
"Astaga anak ini!" kata Kirana kesal melihat tingkah Catur yang seperti itu.
"Maaf ya bu,he...he," kata Catur cengengesan.
"Ini semua karena mereka berdua! Semalaman aku di tinggal sendiri tidur di luar, dan mereka berdua di dalam. Kalian benar benar tega, kangen kangenan sampai melupakan ku! Aku hampir pingsan karena kedinginan dan kelaparan," Catur terus mengomel sambil mengunyah makanan nya.
Semalam karena lelah, Kirana sampai ketiduran di samping Candra.
Hingga Candra mengusap kepalanya dengan lembut, dan saat itulah Kirana terbangun.
"Sudah, sudah! Catur, kalai makan jangan sambil bicara! Nanti tersedak," kata ibu Fatima.
"Ini nak, kau juga harus makan! Semalaman kau sudah menjaga Candra," ibu Fatima mengambil satu kotak nasi dan di berikannya pada Kirana.
"Trimakasih," Kirana menerimanya dengan senyum. Kirana pun langsung memakannya, tak bisa di sembunyikan kalau dia memang sangat lapar.
Ibu Fatima pun mengambil bagiannya dan duduk di samping Catur sembari menikmati makanannya.
__ADS_1
"Kalau kau menatapku terus seperti itu, lebih baik aku nggak makan saja!" Kirana berhenti memakan makanannya saat sadar kalau Candra terus memandangnya.
"Kalian semua makan tanpa peduli padaku, aku juga lapar," kata Candra.
"Kau mau aku suapin?" Catur menghampiri Candra dan menyodorkan makanan di mulutnya.
"Ihh, apa sih! Nggak mau! Kau tadi dari kamar mandi kan? Tanganmu jorok!" Candra memalingkan wajahnya.
"Eh..,aku kan sudah cuci tangan! Nih,akk..," kata Catur, tangannya terus berusaha menyuapkan makanan ke mulut Candra.
"Catur!! Aku bilang singkirkan tanganmu! Aku nggak mau kau suapi!" Candra menutup mulutnya dengan tangan.
"Na..," kata Candra manja sambil memelas menatap Kirana.
"Cihh!! Bilang saja kalau ingin di suapi Kirana, modus!" Catur kembali ke tempat duduknya.
Ibu Fatima hanya tersenyum melihat tingkah manja anaknya.
Sedang Kirana merasa canggung dengan sikap Candra.
Lebih lebih ibunya juga ada di sini melihatnya.
"Kau ini manja sekali sih! Malu kan sama ibu," Kirana menghampiri Candra dan menyuapi makanan ke mulutnya.
"Na,"
"Hemm"
"Janji ya, kau tidak akan meninggalkanku dalam situasi apapun," kata Candra di sela sela makannya.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu padamu, secara selama ini kau kan yang selalu tiba tiba meninggalkanku?" Kirana tersenyum sambil terus menyuapi Candra.
"Aku janji, aku nggak akan meninggalkanmu," balas Candra.
Kirana hanya membalas ucapan Candra dengan senyuman.
"Sudah makannya?" kata ibu Fatima sambil membereskan barang bawaannya.
"Bu," panggil Candra pada ibunya. "Apa boleh aku melamar Kirana?"
"Uhuk..,huk!" ucapan Candra membuat Kirana tersedak. "Eh..,maaf," Kirana pergi mengambil air minum di meja lalu Meminumnya.
[ Astaga Candra!! Apalagi ini? ]
Kirana berpindah tempat duduk di samping Catur dan melanjutkan makannya, berpura pura tidak mendengar ucapan Candra.
"Kalian kan sudah dewasa, ibu sebagai orangtua hanya bisa mendukung selama itu baik bagi kalian," kata ibu sambil menatap lembut pada Kirana dan Candra.
"Apa aku nggak salah dengar? Kau akan menikah?" Catur berbisik pada Kirana.
Kirana tak membalas ucapan Catur.
Dia terus melanjutkan makannya.
[ Menikah? Harus secepat itu? Astaga, aku bahkan belum terpikir sampai sejauh itu! ]
Setelah pembahasan Candra tentang niatnya melamar Kirana, suasana mendadak tenang.
Pembahasan itu, tiba tiba berhenti di situ saja.
Tak ada respon apapun dari Kirana.
"Ibu pergi dulu menemui Dokter ya," kata ibu Fatima.
"Iya bu, biar ini aku yang bersihkan," kata Kirana sambil merapikan meja setelah mereka makan tadi.
__ADS_1
Candra melihat Kirana dengan tatapan sendu.
Saat dia membahas tentang lamaran tadi, Kirana sama sekali tidak meresponnya.
Candra mengerti, mungkin itu mengejutkannya.
Tapi ini harus segera di bahas.
Ke khawatirannya akan kehilangan Kirana, membuat nya harus membuat suatu ikatan.
Suasana menjadi canggung.
Setelah merapikan semuanya, Kirana sengaja duduk menjauh dari Candra.
Dia pun memainkan ponsel untuk menutupi kegalauan hatinya.
"Dokter bilang, kau belum boleh pulang. Masih harus menunggu hasil rongen," kata ibu Fatima menjelaskan.
"Sayang sekali, ibu tidak bisa menemanimu di sini. Kemarin banyak jahitan yang datang, dan hari ini ibu ada janji untuk mengukur baju. Na, kau tolong jaga Candra di sini ya," pinta ibu Fatima pada Kirana.
"Catur, kau tidak ada kerjaan kan? Kau bantu ibu mengukur kain ya," ibu Fatima sengaja meninggalkan Kirana sendiri bersama Candra.
Beliau ingin memberi ruang untuk mereka berdua berbicara.
"Siap bu!" Catur bersemangat menjawabnya.
Kirana melotot kebingungan. "Apa tidak sebaiknya aku saja yang membantu ibu mengukur kain? Dan Catur di sini. Aku kan perempuan? Jadi kemamouanku lebih baik daripada dia," Kirana berusaha berkilaf sambil melirik Catur.
"Kau tidak mau menemaniku?" sahut Candra.
"Tolong temani Candra ya nak," ibu Fatima mengusap lembut pundak Kirana.
Mau tidak mau, Kirana pun menuruti permintaan ibu Fatima.
"Huh! Sekarang dia pasti senang, bahkan saat sakit seperti ini dia terus saja ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan!" gumam Kirana sambil melirik Candra.
Ibu Fatima dan Catur pun bersiap pulang.
"Kau, jaga diri baik baik ya disini, hati hati! walau sedang lemah seperti itu, dia itu mantan playboy," Catur sengaja iseng memperingatkan Kirana seperti itu.
Kirana kembali melotot ke arah Catur.
"Sialan kau!" gumam Kirana.
Akhirnya, kini hanya tinggal Kirana dan Candra saja di ruangan itu.
Suasana tegang kembali hadir.
"Na, kemarilah." Candra memanggil Kirana untuk duduk di sebelahnya.
[ Mau apa dia, huh! Mantan play boy! Awas saja kalau dia berani macam macam denganku! ]
Kirana perlahan mendekat dan duduk di samping Candra.
"Kepalaku masih sedikit pusing," rintih Candra. "Kau tetaplah disini ya, jangan kemana mana! Aku takut aku kembali koma," kata Candra sengaja berpura pura supaya menarik perhatian Kirana.
"Ha? Apa kepalamu sakit lagi? Tadi bukannya sudah baikan? Mana yang sakit?" Kirana jadi panik sendiri. Dia mengusap kepala Candra seperti memeriksa nya. "Apa aku panggilkan Dokter ya," Kirana benar benar panik.
"Eits, tidak usah! Cukup kamu disini saja menemaniku, Aku akan beristirahat saja." kata Candra sembari meraih tangan Kirana yang hampir pergi memanggil Dokter.
Kirana menghela nafas panjang.
Dia pun menuruti permintaan Candra untuk tetap duduk di sampingnya.
Sedang Candra merasa tenang, setidaknya aktingnya kini bisa membuat Kirana tetap disampingnya.
__ADS_1
[ Maaf kan aku ya Na, kalau aku tidak seperti ini kau pasti tidak mau menemaniku dan duduk di samping ku seperti ini]